Yudi Hastono

Yudi Hastono

Published On Desember, 18 2012 | By Vido Fransisco Pardede

YANG HEBAT CUMA TUHAN

PENCIPTA LAGU PUITIS

            Kalau kita adalah orang-orang yang suka membeli album-album rohani yang asli, membaca nama Yudi Dwinanto Hastono atau yang lebih akrabnya Yudi Hastono pasti bukan sesuatu yang asing lagi. Yudi adalah seorang penulis lagu berbakat. Lagu-lagunya banyak dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi rohani. Tapi jika anda masih belum mengetahui siapa Yudi Hastono, mungkin anda dapat mendengar lagu berjudul ‘Bila Tuhan Mengujimu’, Lebih lama Lagi’, ‘Kau Bagian Yang Terindah’, ‘Yang Paling Mengerti’, dan ‘Warna Yang Terindah’.

     Lagu-lagu yang ditulis Yudi memang terkesan agak puitis dan melankolis, mungkin ia menyadari betul bahwa Tuhan adalah pribadi yang sangat indah jadi kitapun wajib memuji Dia dengan pujian yang indah. “Kalau lagu sekuler kan fokus objeknya lawan jenis, tapi kalo lagu rohani fokusnya Tuhan. Biasanya orang yang kalau lagi jatuh cinta daya kreativitasnya meningkat tajam, jadi bisa bikin kata-kata romantis, puisi yang indah, bahkan lagu yang bagus dan menyentuh. Semuanya serba indah deh. Nah, makanya kita harus punya filling sama Tuhan dan harus intim supaya bisa bikin lagu yang liriknya dalem, syukur-syukur bisa romantis, Yesus kan kekasih jiwa kita,” ulas suami dari Fransisca Cahyaningsih ini yang menyukai kitab Mazmur karena disitulah kitab yang ampuh untuk mencari inspirasi dan pusat puji-pujian  dalam Alkitab.

LEBIH SUKA DI BELAKANG LAYAR

            Menurutnya menjadi seorang song writer bukanlah cita-citanya, sejak kecil ia tergolong anak yang pendiam. Semua itu karena didikan sang mama yang tegas dan disiplin. “Saya masih ingat waktu saya masih kecil ketika mama saya memaksa untuk ikut les electone. Saya harus dipaksa-paksa berangkat les. Kalau mau les harus ‘perang’ dulu sama mama. Tapi ternyata mama memang lebih dulu tahu kalau suatu saat saya pasti suka musik,” papar anak kedua dari pasangan Nanto Hastono dan (alm) Hendrati Enny Erawati ini kepada PRAISE.

            Pria yang gemar membaca, menyanyi, browsing dan blogging ini mengawali karirnya dalam menulis lagu ketika dipercaya untuk menjadi produser album rohani Siska Valentina tahun 2005. Saat itu adalah pertama kalinya ia membuat album, ia mencoba menunjukan satu lagu dulu yaitu lagu ‘Lebih Dari Nafasku’ ke sebuah label rekaman rohani di Jakarta dan hasilnya ternyata ditolak. Tapi waktu itu ada Jacqlien Celosse (JC) yang mendengarkan lagu tersebut dan JC merasa diberkati. Akhirnya JC memakai lagu itu di albumnya ‘Nyanyian Hati 3’. Tidak hanya itu saja, pada akhirnya Yudi mendapat kesempatan lagi dari pihak label rekaman yang dulu menolaknya. Mulai saat itu ia sering terlibat dalam proyek pembuatan album penyanyi rohani seperti Adelia Lukmana, Dewi Guna, Grace Natalia, dan masih banyak lagi.

            Meski sudah menciptakan puluhan lagu tapi ternyata popularitas tak begitu melekat pada dirinya, karena menurutnya memang banyak orang yang tidak tahu siapa dirinya, bahkan praktisi musik, sesama pencipta lagu dan arranger atau produser sekalipun, tapi toh semua itu tak membuat Yudi enggan untuk terus berkarya. “Tujuan saya membuat lagu bukan untuk dikenal tapi untuk mengembangkan talenta dan mengembalikan lagi untuk nama Tuhan. Lagipula saya ini memang suka jadi orang di belakang layar saja. Saya pernah ketemu seorang arranger di Jakarta. Kita ngobrol-ngobrol. Saya pikir dia kenal saya sebab sebelumnya pernah kontak dan saya juga pernah add friend dia di Friendster. Ada foto saya dan juga dia. Setelah beberapa saat ngobrol ternyata dia nggak tahu siapa saya. Dia baru ‘ngeh’ setelah dijelaskan,” ujar sarjana Pendidikan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta yang pernah menjadi lulusan terbaik dengan predikat Cum Laude.

MELIBATKAN TUHAN

            Menyadari bahwa musik adalah bahasa universal yang sangat ampuh untuk menyampaikan suatu pesan, karena itulah Yudi tak mau membuat sembarang pesan. Diapun tak segan untuk memberi beberapa tips bagi mereka yang ingin menjadi song writer. “Hanya menegaskan saja, yang penting kita menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan dan cuma Tuhan yang tidak terbatas. Jadi sudah seharusnya kita menempatkan Tuhan di atas ego kita. Mohon tuntunan Roh Kudus selama kita membuat lagu. Coba saja, pasti hasilnya beda. Jeleknya saya dulu, saya baru minta inspirasi dan tuntunan ketika idenya macet. Dari pengalaman itu saya jadi tahu, dengan melibatkan Tuhan hasilnya beda. Yang pasti se’booming’ apapun lagunya, yang hebat cuma Tuhan,” ulas lelaki kelahiran Solo, 22 Maret 1978.           

            Tumbuh dalam keluarga yang bergelut di dunia musik, membuat Yudi akhirnya memilih musik sebagai tujuan hidupnya. “Sebelum berkarya di musik rohani saya sudah berkarya dahulu di musik sekuler. Membuat jingle iklan, membuat album dan mengerjakan album anak-anak sekuler. Semasa kuliah saya punya punya grup band di Jogja, bahkan sempat dikontrak oleh salah satu perusahaan rekaman di Jakarta, namun sepertinya Tuhan punya kehendak lain dalam hidup saya, sehingga saya memfokuskan diri di musik rohani,” ungkap pria yang berjemaat di Gereja Katolik Paroki San Inigo, Solo.

            Banyak orang yang telah mendapat berkat dari lagu-lagu yang ditulis oleh Yudi, hal ini ia ketahui ketika ada orang-orang yang mengirimkan surat elektronik kepadanya. “Ada yang kirim e-mail dan menceritakan pertolongan dari Tuhan dan pemulihan finasial setelah mendengarkan lagu saya. Ada yang dikuatkan melalui lagu ini setelah ditinggal pergi oleh orang terdekat. Ada juga yang dikuatkan dalam menghadapi masalah rumah tangga,” tutur lelaki yang bisa kita kenal lebih dekat di http://yudihastono.com/about.

            Musisi yang sering mengikuti berbagai lomba cipta lagu ini juga mempunyai pengalaman yang indah dalam mengikut Tuhan, tepatnya setelah ia mengakhiri masa lajangnya. Dua bulan setelah menikah, istrinya hamil dan dua bulan kemudian sang istri mengalami keguguran. Sejak saat itu mereka sulit memiliki keturunan. Menurut dokter, mereka hanya bisa mempunyai anak dengan sistem bayi tabung atau injeksi. “Akhirnya saya dan istri hanya pasrah dan berdoa pada Tuhan. Kami sudah tidak melakukan usaha medis lagi,” terang pria yang pernah mendapat penghargaan dari IGMA untuk kategori ‘Song Writer of the Year 2008’. Di saat ia pasrah, banyak teman-teman dan hamba Tuhan yang mendoakan, dan setelah menanti selama 3 tahun, merekapun diberi keturunan. Kini merekapun sedang menantikan kelahiran buah hati yang kedua. Karena itulah, ia kembali ingin mengingatkan kita bahwa ketika kita melibatkan Tuhan dan menyerahkan semuanya maka kuasaNya akan menjadi nyata. Libatkan Tuhan dalam segala hal. Dia akan bertindak. (min / Praise #11 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus