What A Friend We Have In Jesus (Yesus Ada Sobat Kita) (Joseph Medlicott Scriven, 1819-1886)

What A Friend We Have In Jesus (Yesus Ada Sobat Kita) (Joseph Medlicott Scriven, 1819-1886)

Published On Desember, 14 2012 | By Kezia

    Tidak ada lagu Kristen yang sangat dikenal seperti lagu ‘What a Friend We Have in Jesus’,  yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai judul, di antaranya ‘Yesus Ada Sobat Kita’. Namun kisah tentang penulisnya sangat memilukan. Ironisnya lagi, lagu yang membawa penghiburan kepada banyak orang itu diciptakan oleh seorang yang tak terhibur olehnya. Hidupnya malah diliputi kesedihan.

Memilukan Tapi Tetap Melayani
    Joseph Medlicott Scriven dilahirkan di Irlandia pada tanggal 10 September 1819. Keluarganya cukup berada, dan ia pun mendapat pendidikan yang cukup baik. Pada tahun 1842 ia lulus dari universitas Trinity College, Dublin dengan gelar BA. Anak dari pasangan Kapten John Criven dan Jane Medlicott ini berencana akan melangsungkan pernikahannya tahun 1845 dengan seorang gadis Irlandia yang cantik. Harapan masa depan Joseph Scriven rupa-rupanya cerah sekali. Akan tetapi gadis tunangan Joseph Scriven mengalami kecelakaan. Peristiwa tragis itu terjadi satu hari sebelum pernikahannya. Tunangannya jatuh dari kuda ketika melintasi jembatan dan tenggelam di sungai Bann, sedangkan Joseph berdiri menunggu di sisi lain. Pemuda yang malang itu tentunya merasa patah hati. Mungkin peristiwa yang menyedihkan itu membuat Joseph pindah ke salah satu agama Kristen ekstrim yang baru saja didirikan di Dublin ‘Plymounth Brethern’. Hal ini menjadi masalah baru bagi Joseph, karena tidak disetujui oleh pihak keluarganya.
    Tahun 1846 pemuda yang sedih itu pindah ke Kanada. Selama beberapa waktu ia menjadi seorang guru. Mula-mula di sekolah, kemudian sebagai pendidik khusus (tutor) untuk anak-anak di keluarga Pengelly yang kaya, dekat Bewdley. Sekali lagi Joseph Scriven bertunangan dengan saudara dari keluarga Pengelly yang bernama Eliza Catherine Roche. Namun tragedi kedua tak dapat dihindari. Kekasihnya itu meninggal dunia, setelah mengalami sakit radang paru-paru, tak lama sebelum tanggal pernikahan mereka.
    Dalam kesedihan yang amat sangat dan tak terhiburkan, Scriven menyingkir dari tempat ramai. Ia tinggal seorang diri dalam sebuah pondok di pinggir danau Ontario, Kanada. Cara hidupnya sangat bersahaja. Uang dan tenaganya ia gunakan untuk orang miskin. Ia mencari anak-anak yatim piatu supaya dapat ditolongnya. Ia bekerja sebagai tukang kayu sukarela bagi para janda yang berkekurangan. Ia bahkan juga memberikan pakaiannya kepada orang-orang yang lebih memerlukan. Ia mempraktekkan secara murni kotbah di bukit.
    Gaya hidupnya yang ekstrim itu telah menjadi buah bibir masyarakat setempat. Pernah ada dua orang berpapasan di jalan dengan Scriven yang saat itu sedang menjinjing gergaji. Scriven memakai pakaian yang sederhana. Salah seorang teman memberi salam kepadanya. Kemudian seorang lain bertanya kepada temannya : “Kau kenal orang itu? Siapa namanya? Di mana tempat tinggalnya? Saya memerlukannya untuk memotong kayu bakar”. Temannya menjawab : “Itulah Pak Scriven. Tetapi engkau tidak dapat memakai dia karena tentu ia tidak mau memotong kayu untukmu”. “Mengapa tidak mau?” tanya orang kedua dengan heran. “Sebab engkau dapat mengupah tukang kayu yang bekerja padamu”, temannya menjelaskan. “Ia hanya mau menggergaji kayu untuk para janda miskin dan orang sakit”.

Membuat Lagu Penghiburan Walau Hidupnya Sedih
    Sepuluh tahun setelah Joseph Scriven pindah ke Kanada, ibunya di Irlandia sakit keras dan sangat sedih. Scriven tidak sempat mengarungi samudra dan pulang ke negeri asalnya. Namun ia mendapat akal untuk menghibur ibunya. Ia menuliskan sebuah syair tentang ‘Yesus Kawan Yang Sejati’ bagi orang yang lemah. Satu salinan ia kirimkan kepada ibunya di Irlandia. Satu lagi ia simpan dan segera melupakannya.
    Beberapa tahun kemudian, Joseph Scriven sendiri jatuh sakit. Seorang tetangga yang merawatnya menemukan salinan syair tadi di kamarnya. Ia senang akan isinya dan bertanya kepada Scriven tentang sumbernya. Joseph Scriven lalu menceritakan asal usul karangannya itu. Di  waktu yang lain, seorang tetangga yang berbeda bertanya kepada Scriven, apakah memang dialah yang mengarang syair itu (yang pada masa itu sudah mulai menjadi terkenal). Jawab Scriven : “Yah... Tuhan dan saya mengerjakannya bersama-sama”.
    Menjelang akhir hidupnya, Scriven tidak lagi memiliki rumah sendiri. Ada kalanya ia menginap di satu keluarga, di lain kesempatan dengan keluarga yang lain. Pada 1886, dalam usia 67 tahun, ia sedang tinggal di rumah seorang kawan. Lalu ia jatuh sakit keras. Kawannya menunggui dia siang dan malam. Tetapi pada suatu malam kawannya meninggalkan kamarnya sebentar. Sekembalinya, ternyata Scriven tidak ada di kamar tersebut. “Kami meninggalkan dia sekitar tengah malam. Aku ke ruang sebelah, tidak tidur, tapi untuk menonton dan menunggu. Bisa Anda bayangkan, betapa saya terkejut dan cemas ketika kembali ke ruangan tersebut ternyata kosong. Semua pencarian gagal menemukan jejak orang yang hilang itu, sampai tengah hari subuh baru ditemukan di dalam air di dekatnya, sepi dan dingin”. Joseph Scriven ditemukan oleh teman dan tetangganya dalam sebuah kali yang tidak jauh dari rumah kawannya dalam keadaan tak bernyawa pada tanggal 10 Agustus. Lalu Joseph Scriven dikuburkan di samping Eliza Roche di makam keluarga.
    Penyebab kematiannya tidak ada yang tahu sampai sekarang. Kecelakaan atau bunuh diri? Apakah Joseph Scriven terantuk, disebabkan oleh pikiran dan tubuhnya yang sudah lemah? Apakah ia keluar untuk menikmati kesejukan malam, lalu terpeleset ke dalam kali? Ataukah kesedihannya yang membuat dia depresi dan mendorong dia untuk bunuh diri dengan mati tenggelam? Tak seorang pun yang tahu pasti. Namun para teman dan tetangga Joseph Scriven tahu pasti bahwa dia seorang yang baik hati. Walau sikap dan kelakuannya sering aneh, namun ia selalu berusaha menolong rakyat miskin. Maka mereka mendirikan sebuah tugu peringatan di pinggir jalan raya dekat danau Ontario dengan kata-kata : “Enam kilometer dari sini, di pemakaman Pengally, terbaring si murah hati dan penyair lagu di Port Hope, 1857”. Sedikit sekali orang dari tempat lain yang pernah melihat tugu peringatan Joseph Medlicott Scriven. Tetapi sudah jutaan orang di seluruh dunia menyanyikan ‘Lagu Penghiburan Karangan Orang Sedih’ yang diciptakannya.  (Kisah & foto-fotonya dapat dilihat di buku Story Behind The Song terbitan Yis Production).

Kesaksian Tentang Lagu Penghiburan
    Charles Crozat Converse (1832-1918) lahir di Amerika Serikat dan belajar musik di sana. Ia pun belajar hukum di Jerman, sehingga ia menjadi professional di bidang hukum maupun musik. Kebanyakan karangan Charles Converse ditulis dengan nama samaran ‘Karl Reden’. ’Karl’ itu sama dengan ‘Charles’ sedangkan ‘Reden’ dalam bahasa Jerman, artinya sama dengan ‘Converse’ dalam bahasa Inggris yaitu : bercakap-cakap.
    Dengan memakai nama itu, Charles Converse menulis musik simfoni, oratorio dan banyak gubahan lain, baik lagu rohani maupun lagu biasa. Beberapa karangannya pernah dimainkan oleh orkes-orkes ternama di New York dan kota besar lainnya. Namun hanya satu karangan Charles Converse yang masih diingat dewasa ini, yaitu lagu sederhana yang diciptakan Joseph Scriven tadi. Bahkan lagu karangannya itu sangat disenangi khalayak ramai, sehingga diadopsi untuk lagu
patriotik populer di Indonesia dengan judul ‘Ibu Pertiwi’.
    Lagu ‘What A Friend We Have In Jesus’ semakin populer ketika dipromosikan oleh Ira David Sankey, seorang penyanyi injili yang terkenal. Tahun 1875 Ira Sankey sedang menyusun sebuah buku lagu (Sankey`s Injil Himne`s). Tugasnya hampir selesai, karena ia menyerahkan isinya kepada penerbit. Lalu Ira Sankey menemukan sebuah buku kecil berisi lagu-lagu untuk anak Sekolah Minggu. Dalam buku kecil tersebut ia pun menemukan lagu ‘What A Friend We Have In Jesus’. Segera saja Ira Sankey pergi kepada penerbit dan minta agar lagu baru itu ditambahkan ke dalam bukunya. Tetapi satu-satunya cara yang mungkin ialah dengan mencabut salah satu lagu yang sudah dimasukkan, supaya ada tempat lowong. Kebetulan Ira Sankey menemukan sebuah lagu pilihan lainnya yang juga dikarang oleh Charles Converse, dan lagu itulah yang dijadikan korban.
    Tepat sekali penilaian Ira D. Sankey. Nyanyian yang dimasukkannya pada detik terakhir itu akhirnya disukai orang. Ira Sankey sendiri kemudian mengatakan : “Lagu pilihan yang terakhir dimasukkan ke dalam buku itu, menjadi yang pertama dalam tanggapan orang banyak”. Sekarang nyanyian itu masih tetap termasuk ‘yang pertama dalam tanggapan orang banyak’, bahkan di seluruh dunia.
    Ketika hidup kita banyak mengalami kesedihan, janganlah terlalu mengasihani diri sendiri, apalagi berputus asa, karena dalam keadaan terpuruk pun, kita dapat dipakai Tuhan untuk menguatkan orang lain.
    Lagu ‘Have A Friend We Have In Jesus’ yang diterjemahkan dengan judul  ‘Yesus Ada Sobat kita’ telah membimbing banyak orang untuk membawa beban hidup mereka kepada Tuhan Yesus. (Sumber : Praise #12) www.majalahpraise.com

Lirik & Chord Lagu ini dapat dilihat di SONGS

1. What a friend we have in Jesus,
All our sins and griefs to bear!
What a privilege to carry
Everything to God in prayer!
Oh, what peace we often forfeit,
Oh, what needless pain we bear,
All because we do not carry
Everything to God in prayer!

2. Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged—
Take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful,
Who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness;
Take it to the Lord in prayer.


3. Are we weak and heavy-laden,
Cumbered with a load of care?
Precious Savior, still our refuge—
Take it to the Lord in prayer.
Do thy friends despise, forsake thee?
Take it to the Lord in prayer!
In His arms He’ll take and shield thee,
Thou wilt find a solace there.

4. Blessed Savior, Thou hast promised
Thou wilt all our burdens bear;
May we ever, Lord, be bringing
All to Thee in earnest prayer.
Soon in glory bright, unclouded,
There will be no need for prayer—
Rapture, praise, and endless worship
Will be our sweet portion there.


COMMENT


.news-comments powered by Disqus