UCOK PARULIAN RADJAGUGUK

UCOK PARULIAN RADJAGUGUK

Published On september, 09 2018 | By Yosua

SUKA MUSIK HIMNE DAN KONTEMPORER

 

BERKARYA DI BLANTIKA MUSIK ROHANI
Nama Ucok Radja guguk mungkin sudah tidak asing di blantika musik rohani karena karya dan prestasinya dalam mewarnai musik Kristen Indonesia sudah dirasakan di berbagai album rohani yang sudah dirilis. Musisi dengan nama asli Mulatua Parulian Radjaguguk menceritakan tentang pengalamannya dalam bergabung di beberapa grup musik rohani, seperti di grup musik dengan nama Ezra Band di tahun 1988 dan bergabung di dalam grup VOG di mana awalnya merupakan singkatan dari Voice of Galilea yang berganti nama menjadi Voice of Generation di album kedua. Ucok Radjaguguk yang didaulat sebagai keyboardist mengaku bergabung di VOG pada tahun 1994. Saat itu, dunia musik rohani Kristen belum berkembang seperti sekarang ini. VOG hadir sebagai alternatif musik yang lebih kontemporer bagi generasi muda Kristen. Kemudian musisi kelahiran Jakarta, 31 Juli 1966 ini bergabung dalam grup musik yang bernama True Worshippers dari awal terbentuknya yaitu 1996 sampai tahun 2010. Banyak album dari True Worshippers ini telah diluncurkan dengan berbagai tema seperti “Satu Hal Yang Kurindu”, “A True Celebration with A True Worshippers”, “04:23 TW”, “Take Us Higher”, “Shine Like Stars”, “Captivated” dan masih banyak lagi yang lain. 

UcokRadjaguguk berkolaborasi dengan musisi lain seperti Daniel Sigarlaki, Adi Prasodjo, Steve Tabalujan, Jeffry Hermanto, Arvid Gunardi, Amos Cahyadi dan Ucok Radjaguguk salah satu orang yang berperan dalam mengarransemen lagu-lagu di album True Worshippers dan dikenal sebagai musisi director True Worshippers.Di tahun 2011, ketika nama True Worshippers diganti menjadi JPCC Worship karena telah melembaga menjadi suatu gereja, ayah dari Vania Amadea Dameria Radjaguguk kemudian bergabung dengan grup band yang bernama NDC Worship sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang. Nafiri Disciple  Church atau yang disingkat menjadi NDC Worship terbentukd ari para musisi gereja NDC yang digembalakan oleh Pastor Josia Abdi saputera. Di dalamgrup NDC ini, Ucok, demikian nama panggilannya, berkolaborasi dengan teman-teman lamanya seperti Joseph S. Djafar, Amos Cahyadi, Tommy Widodo, Teddy Darmawan dan masih banyak musisi yang mendedikasikan hidupnya bagi dunia musik rohani Kristen. Selain merilis album dengan True Worshippers, masih banyak lagi album single rohani yang dirilis di antaranya dengan Edward Chen, Jonathan Prawira, Delon, AlviRadjaguguk, Marsel Tumbelaka, dan masih banyak lainnya.

Ketika ditanya tentang musisi favorit, Ucok menyebutkan Planet shakers. “Menurut saya musik mereka ‘cerdas’. Lagu2 mereka catchy, aransemen musiknya baik, sounding esthetiquenya sangat baik,penampilan mereka saat konser juga baik.”

BERKARYA DI BLANTIKA MUSIK SEKULER
Suami dari Esther Ercilia ini memulai pelayan musik sejak tahun 1988 dengan alat musik keyboard dan piano. “Belajar musik klasik waktu masih SD selama 2 tahun, kemudian pada waktu di SMA belajar main band di Yamaha / YMI ( PMMC ) selama 2 tahun.Setelah itu belajar musik sendiri atau autodidak.”

Selain berkecimpung  didunia musik rohani, musisi yang pernah menimba ilmu di SMAN 3 Jakarta ini juga berkarir di berbagai musik sekuler di antaranya sebagai Film Composer di Screenplay Production sejak tahun 2012 sampai dengan sekarang, di MNC Pictures sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang, di Dharmawangsa Studio X Production (DSX) sejak tahun 2007 sampai 2011, di Illustranada tahun 2006 sampai dengan 2007, di Multivision Plus sejak tahun 2002 sampai dengan 2005 serta sebagai Owner, Producer, dan Music Arranger di Cornerstone Recording Studio sejaktahun 2006 sampai dengan sekarang.

Ketika ditanya mengapa bekerja juga di musik sekuler, Ucok berterus terang “Karena Tuhan yang buka jalan untuk perkerjaan sekuler tersebut, dan juga karena secara financial tidak cukup kalau hanya mengandalkan musik rohani atau pelayanan saja.”

Pengakuan Ucok tersebut memiliki alasan yang kuat karena pembajakan CD atau DVD,baik album sekuler maupun rohani sudah begitu menggurita, belum lagi banyaknya situs-situs free download mp3 dan mp4. Hal ini tentu berpengaruh di penjualan album baik fisik maupun non-fisik. Menurut Ucok, pembajakan ini sudah masuk taraf yang sudah sangat parah. “Dari segi tehnis, kita tidak bisa berbuat banyak melawan para pembajak, karena secanggih apa pun cara yang dipakai untuk melindungi produk CD / DVD dipasaran terbukti tidak ada yang ampuh.Cara terbaik adalah dengan tidak membeli atau mendownload (gratisan) album atau lagu. Semua tergantung dari sikap kita masing-masing.”

Olehnya, musisi yang pernah berkuliah di Institut Teknologi Indonesia, Serpong, memiliki pandangan bahwa tanpa panggilan Tuhan siapapun tidak akan bertahan dalam bidang musikini (red : musik Kristen), jika tidak mempunyai komitmen jangka Panjang, akanmudah menyerah di tengah jalan."Tepat seperti apa yang diyakini oleh Ucok bahwa pelayanan merupakan panggilan bukan ajang mencari uang saja. Yang  membuat orang bisa bertahan adalah motivasi dan sikap hati untuk menyenangkan Tuhan semata karena jika ada celah atau cacat sedikit dalam hal motivasi, maka akan terlihat jelas didalam menghalalkan semua hal untuk mendapatkan yang diinginkan, termasuk cara yang tidak Alkitabiah dalam mendapatkan uang.Seolah hati nurani tidak berfungsi wajar. Lepas dari menghakimin, hanya Tuhanlah yang tahu motivasi para pelayan yang berkecimpung dibidang rohani musik Kristen ini.

Selain mahir di bidang musik, Ucok juga mengarang beberapa lagu di antaranya, `Uncomparable God`, `Kerinduanku`, `KasihMu`, `Kan Kami Angkat`, `Kau Bebaskan`, `Amazing` yang semuanya itu ada di berbagai  album True Worshippers. “Saya mengarang lagu berdasarkan permintaan saja. Biasanya saya minta tolong teman untuk menulis lirik lagunya.” Di grup NDC Worship ini, dalam album ‘Faith’ bersama dengan Joseph S. Djafar mengarang lagu `SukacitaMelimpah`.

Ketika ditanya mengenai perbedaan aliran musik Kristen himne dan kontemporer, maka Ucok menjawab dengan tegas, “Saya suka dua-duanya (Himne dan kontemporer).” Seraya mengomentari dengan bijaksana bahwa secara musical kedua corak musik tersebut memiliki keindahan yang berbeda. Walaupun lagu himne terkesan jadul dan kontemporer mewakili musik kekinian, dimata Ucok justru hal ini memperkaya gaya atau warna musik rohani. “Yang terpenting messagenya secara alkitabiah tetap benar,” tandasnya.

Ketika ditanya tentang majalah PRAISE,Ucok mengapresiasi majalah inisecara positif. “Saya mengapresiasi majalah PRAISE, karena menjadi sumber informasi seputar dunia musik rohani, dan juga sebagai  media pembelajaran tentang Pujian dan Penyembahan.Maju terus majalah PRAISE!” (Yus/dok :Yos).


COMMENT


.news-comments powered by Disqus