Tutor Acoustic

Tutor Acoustic

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Ditegur Melalui Persembahan Kasih

LAHIRNYA TUTOR
     Akustik Teruna Tugu adalah nama yang dipakai sebelum nama Tutor dengan personil Kristanto dan Michael. Hal ini dikarenakan personilnya kebanyakan bergereja di GPIB Tugu, dimana mereka melayani. Bahkan Tutor sendiri singkatan dari Tugu Akustik Orkhestra. Kemudian pada bulan Februari 2004 yang lalu, mereka meresmikan nama Tutor sebagai istilah, bukan singkatan.

     Tutor sendiri memang berarti guru, tapi kemudian diterjemahkan bukan sebagai ingin menggurui yang lain, melainkan kini lebih tepat diartikan saling berbagi.

     Personil Tutor Acoustic terdiri dari; Citra Wattimena (vokal), Meisy Corneisya (vokal), Arthur Teesen (Gitar), Samuel Butarbutar (Bass), Kristanto Kurniawan (Gitar), Michael Syatauw (perkusi), dan Brahm Siagian (Additional Saxophone). Kini asal gereja personilnya cukup beragam, dari denominasi gereja, yakni; GPIB Tugu, GPIB Menabur Kasih dan HKI Tjg. Priok. Untuk menjalin komunikasi yang akrab, mereka menanamkan prinsip kekeluargaan. Group band ini mengusung musik akustik yang easy listening fun dengan beragam aliran musik; mulai dari etnik hingga smooth jazz.

     Album perdana mereka dirilis pada bulan Pebruari 2009 dan di-arransement bareng-bareng. Setiap lagunya pun memiliki story masing-masing, contohnya judul “You Are With Me” merupakan ciptaan Arthur sang gitaris. Lagu-lagu yang tercantum dalam serangkum album mereka adalah murni hasil buah karya sendiri. “ Di kala saya  melihat orang-orang yang terkena HIV / AIDS. Di sini saya merasakan betapa berat beban yang mereka pikul. Yaitu, dikucilkan banyak orang. Jadi melalui lagu ini saya mengingatkan bahwa mereka itu tidak sendiri. Ada Tuhan yang selalu bersama mereka,” tandas Arthur ketika menjelaskan story behind the song untuk lagu yang menjadi tema album mereka, di base camp PRAISE, Kelapa Gading.

SUKA DUKA TUTOR DALAM PELAYANAN

     Dalam setiap pelayanan tentu ada suka maupun duka. Ada pengalaman yang menyakitkan dan ada pula yang menyenangkan. Pernah suatu kali dalam suatu pelayanan di gereja, Tutor datang terlambat dan mainnya pun tidak serius. “Iya, kita mainnya kayak lagi latihan gitu,” kata Citra sang vokalis.  Tapi di akhirnya mereka tidak menyangka bahwa akan mendapatkan persembahan kasih. “Aduh betapa tertusuknya hati kami,” tandas mereka. Ini merupakan berkat tapi tegoran bagi mereka. Peristiwa tersebut menjadi titik balik kesungguhan mereka dalam melayani melalui ‘Tutor’.

     “Ketika berkunjung di RS  Cikini, ini soal hati. Kita menghadapi orang-orang  yang terbaring lemah, nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi waktu itu cuma pakai satu gitar. Pas kita nyanyi itu, mereka punya semangat hidup yang baru. Kita ngerasain aura semangat. Mereka ikut nyanyi. Perasaan itu, nggak bisa diukur dengan uang,” papar Tutor yang kebanyakan personilnya masih sibuk kuliah dan kerja ini.

     Tuhan pernah menguji motivasi personil Tutor dalam pelayanan mereka : “Di sini siapa yang pernah main musik ? Kalau pelayanan pernah nggak, terus pelayanan meski orang sudah pada bubar ? Kita pernah mengalami itu. Pas kita main sudah tidak ada orang dan sudah angkat kursi, sampai segitunya. Terus terang, kita nggak merasa sakit hati karena semua untuk Tuhan,” kata Tutor bersaksi pada PRAISE . Ini tak lepas juga dari mentor mereka yang mengingatkan untuk kembali pada komitmen dan tujuan mereka melayani melalui musik.

     Selain pelayanan yang menyedihkan juga ada pelayanan yang memuaskan bagi Tutor. “Selain itu juga pelayanan di IGMA yang diselenggarakan akhir tahun 2008 di Grand Indonesia dengan suasana yang megah, disambut banyak orang, bukan disambit orang.. Itu adalah yang paling memuaskan. Bisa dibilang Big stagenya kita selama 5 tahun ini”

     Soal pendanaan pelayanan, dengan terbuka mereka menjelaskan, “Kita patungan”. Kalau kita pelayanan kita tanggung sendiri. “Buat kita duit itu sesuatu yang penting, tapi bukan segala-galanya. Jujur, selama kita pelayanan dikasih yo wis (bahasa Jawa), nggak ya udah,”  jelas Tutor soal komitmen penuh akan pelayanan pujian kepada Tuhan, tanpa memperhatikan besar kecilnya atau diberi tidaknya PK. “Tapi puji Tuhan sampai sekarang meski kita dalam pelayanan tidak ada PK namun kita masih terus pelayaan, enak aja, enjoy,” tambah Sam sang Bassist. Bahkan pelayanan mereka sudah terbilang banyak di lingkup gereja di Jakarta maupun di Bandung. Termasuk berbagai pagelaran Charismata Shalom pun mereka ikuti.

MINIMALIS

     “No drum”. Ya, band yang satu ini memang tidak memakai alat musik yang namanya drum walaupun tak menutup kemungkinan mereka akan memakai drum nantinya. Ini karena latar belakang mereka dari gereja yang nggak pakai drum, sehingga warna Tutor yang bernuansa akustik sebenarnya merupakan adaptasi mereka yang lahir dari yang sedikit alat musiknya. Bagi mereka memuji Tuhan tidak selalu mesti dengan alat-alat band yang lengkap!! There’s always another ways to be a good praiser of God!!

     “Kita sebenarnya kalau latihan itu gampang karena alat-alat kita minimalis. Tiap-tiap rumah personil Tutor kita datangi bergantian. Kita mau mulai latihan rutin. Balik lagi kita kan keluarga, ya udah kita ke situ-situ aja, jadi nggak pernah jalan-jalan,” kata Arthur yang bekerja di bagian IT menjelaskan tentang latihan mereka.

     Meski, sudah terbiasa pelayanan di banyak gereja dan acara namun rasa grogi masih menghinggapi mereka. Saat pentas satu panggung dengan band lain sebagai contohnya. Misalnya, saja saat kolaborasi dengan Restorer. “Karena salah satu basisnya, dosen musik. Aduh, kayak gimana gitu,” celoteh mereka. Tapi bagi mereka ini tidak menjadi masalah karena yang lain pun punya satu tujuan untuk melayani Tuhan. ”Semua ini buat  Tuhan, jadi nggak ada persaingan. Mungkin mereka lebih dulu melihat matahari terbit aja kali ya,” tukas Tutor mengungkapkan cara mengatasi groginya pada PRAISE.

     Yah, semoga sikap hati mereka yang murni dalam pelayanan dapat tetap terjaga, sehingga walaupun peralatan bandnya terlihat minimalis, namun hati mereka maksimal untuk Tuhan. (Ind / Praise #5 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus