TUGAS SUKU LEWI SEBAGAI IMAM  (Seri 2 Lewi)

TUGAS SUKU LEWI SEBAGAI IMAM (Seri 2 Lewi)

Published On Desember, 10 2012 | By Yusak

Di Artikel tentang ASAL MULA IMAM LEWI sudah dipaparkan garis keturunan dan kwalifikasi suku Lewi sehingga mereka layak diangkat sebagai imam-imam Tuhan yang melayani di Kemah Sembahyang atau di Bait Suci. Kini akan diulas tugas dan peranan kaum Lewi sebagai imam Allah.

TUGAS IMAM LEWI DI ZAMAN MUSA

Sejak bangsa Israel keluar dari Mesir, semua kepemimpinan berada di atas pundak Musa. Ia dipercaya sebagai pemimpin yang dipilih Allah untuk menuntun bangsa Israel. Musa menjadi mediasi antara Allah dan bangsa pilihan-Nya ini. Kepemimpinan yang bertumpuk-tumpuk ini menyebabkan tersitanya waktu dan tenaga Musa untuk menjalankan tugas kepemimpinan lainnya. Maka, Allah menyerahkan pelaksanaan jabatan imamat kepada Harun. Allah menahbiskan Harun beserta keturunannya sebagai pelaksana ibadah bagi bangsa Israel (Kel 28:1). Jabatan imamat ditetapkan Allah sebagai warisan turun-temurun bagi keturunan Harun (Bil 3:1-10). Harun diangkat sebagai imam besar yang terpilih di antara para imam lainnya untuk menjadi primus inter pares (orang yang dianggap senior) (Im 8:12; 21:10). Allah meminta Musa agar semua orang yang termasuk dalam bani Lewi ditugaskan khusus untuk membantu imam Harun. Mengenai alasannya kenapa Allah memilih suku Lewi, telah dikupas dalam PRAISE 19 yang lalu. Anggota bani Lewi yang diwajibkan bekerja harus berusia 30-50 tahun (Bil 4:35, 39, 43, 47). Kitab Bilangan 8:24 memperbaharui batas usia orang Lewi yang wajib bekerja minimal 25 tahun. Setelah berumur 50 tahun, mereka hanya diperbolehkan membantu rekan-rekan mereka. Allah menetapkan pembagian kerja para pelayan imam mengenai pemeliharaan Kemah Suci.

Pembagian kerja dibagi menurut ketiga bani Lewi yakni Gerson, Kehat dan Merari (Kel 6:16-18; Bil 3:17-37). Setiap kaum memiliki tugas yang berbeda di dalam Kemah Suci. Kaum Gerson memiliki tanggung jawab untuk mengurus Kemah Suci, tirai pintu Kemah Pertemuan, di sekeliling Kemah Suci dan mezbah (Bil 3:25-26). Kaum Kehat memelihara barang-barang kudus seperti tabut, meja, kandil, mezbah, dan perkakas tempat kudus (Bil 3: 27-31). Sedangkan, kaum Merari bertanggung jawab atas papan Kemah Suci, kayu lintang, alasnya dan segala perabotannya (Bil 3:36-38). Kewajiban yang mereka emban tidak boleh dilakukan oleh orang awam (Bil 3:38).

Dalam Alkitab ada  istilah “imam-imam orang Lewi’ seolah adanya pembedaan antara imam dan orang-orang Lewi (Ul 18:1,3,6 bnd Ul 17:9; 24:8; 27:9 bnd Yos 3:3; 8:33 ). Dan memang rupanya peran imam tidak dapat disamakan dengan peran orang Lewi sebagai pelayan imam. Walaupun Harun dan bani Lewi lainnya berasal dari satu keturunan yang sama, peran mereka berbeda satu sama lain. Kitab Bilangan 3 mencatat suatu pembedaan antara tugas imam dengan tugas orang Lewi. Namun demikian perbedaan diatas tidak menghilangkan tujuan yang sama bahwa Allah menetapkan seluruh bani Lewi sebagai pelayan Allah (Bil 3:12-13).

TUGAS IMAM DI ZAMAN DAUD

Pada zaman pembuangan, imam bangsa Israel belum terorganisir dengan baik. Kemungkinan besar para imam ini dapat diorganisir dengan baik setelah mereka memasuki tanah perjanjian. Khususnya  setelah pemerintahan raja Daud. Salah satu sumbangan penting dari Daud bagi peribadatan Israel adalah pengaturan tugas suku Lewi. Kepiawaiannya dalam membagi pelayanan kaum Lewi bahkan menjadi dasar untuk organisasi keagamaan Israel hingga ke zaman Perjanjian Baru. I Taw 23 :1-5 mencatat bahwa Daud membagi 38.000 orang Lewi pada zamannya menjadi 4 kelompok dan tugas mereka (ay. 24-32). Keempat kelompok tersebut disebutkan satu persatu: 24.000 merupakan kelompok yang melanjutkan tugas-tugas di rumah Allah (ps. 24), keturunan Harun juga termasuk kelompok ini (24:1-19) maupun orang-orang Lewi lainnya yang membantu keluarga tersebut; ada 6.000 orang diangkat sebagai para pejabat dan para hakim yang bertugas untuk mengatur urusan-urusan luar bangsa Israel (26:29-32); 4000 orang Lewi yang bertugas sebagai penjaga pintu gerbang dan juga harta kekayaan Bait Allah (26:1-28) dan ada 4000 orang Lewi yang bertugas sebagai tim musik (ps. 25). Para imam, orang-orang Lewi di Bait Allah serta tim musik kemudian diatur lebih lanjut ke dalam 24 kelompok yang pergantian tugasnya disesuaikan dengan masa-masa ibadah bulanan.

KESIMPULAN

Fungsi utama Imam adalah melayani di hadapan Tuhan (Ulangan 18:5,7). Dengan demikian Imam berperan penting dalam hal spiritualitas bangsa Israel Kuno. Tugas pokoknya adalah menjadi jembatan bagi manusia dan Allah. Peran utama seorang imam adalah sebagai pemimpin ibadah, ritus dan kultus. Imam juga diwajibkan untuk menjaga api tetap menyala di atas mezbah. Imam bertanggungjawab atas hukum-hukum yang mengatur hidup bangsa Israel. Dalam pemerintahan bangsa Israel, mereka mempunyai dua hukum. Pertama adalah hukum yang mengatur hidup umat Israel, sedangkan yang kedua adalah hukum yang didasarkan pada kehendak Allah yang mutlak. Posisi imam begitu tinggi dan mulia, mulai dari bertindak seperti hakim yang menuntut keputusan yang sulit (Ul 17:8,9) hingga mengawasi para penderita kusta (Ul 24:8 bnd Luk 17:14).

Secara prinsip, tugas dan fungsi Imam terbagi menjadi 4 bagian yaitu

1) Menyampaikan berkat kepada umat (Bil 6:24). Masih dilakukan oleh pemimpin spiritual umat Kristiani sampai dengan sekarang. Disampaikan dengan berbagai tata cara di akhir ibadah.

2) Mengajarkan hukum (Taurat). Karena itu seorang imam harus memahami betul tentang Tôrâ (Taurat). Tetapi rupanya hal ini berdampak negatif dalam zaman Perjanjian Baru. Terdapat perbedaan antara Imam dan Ahli Taurat yang bermaksud untuk memaksimalkan tugas masing-masing namun terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan para Ahli Taurat dengan menambahkan aturan-aturan mereka sendiri ke dalam hukum-hukum Yahudi.

3) Memelihara tradisi kultus bangsa Israel.  Bisa dikatakan Imam sebagai penjaga kesucian ritual umat Israel. Karena imamlah yang bertugas untuk membedakan antara suci dan yang sekular (Imamat 10:10). Perawatan Kemah Sembahyang, termasuk mengangkat barang-barangnya.

4) Berfungsi dalam sistem korban.  Kewajiban seorang Imam dalam sistem korban yang terpenting adalah untuk mengawasi penggunaan darah dalam tata cara pengorbanan. Darah dianggap sakral dan keramat sehingga biasanya darah dituangkan di depan mezbah. (PRAISE # 20 / Pis).

Sumber : www.majalahpraise.com

Bersambung : ORANG KRISTEN SEBAGAI IMAM

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus