True Worshippers

True Worshippers

Published On Desember, 10 2012 | By Vido Fransisco Pardede

GENERASI PENYEMBAH

PENYEMBAH YANG BENAR

         Siapa yang tidak tahu True Worshippers (TW)? Team pemuji yang sudah 12 tahun berkarya di jalur musik rohani ini adalah orang-orang kreatif yang memiliki talenta musik di atas rata-rata. Tetapi mereka lebih memilih dunia musik rohani ketimbang sekuler.

         Awalnya TW terbentuk berdasarkan kerinduan para anak muda yang mempunyai visi dan beban yang sama, yaitu ingin menjadi terang dan membawa perubahan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. TW merupakan kepanjangan tangan dari Tim Praise & Worship Jakarta Praise Community Church (JPCC) yang telah mengeluarkan 10 album, dan album “God Is Our Victory” adalah nama album terbaru mereka.

         Tim yang sudah melayani ke berbagai tempat, misalnya Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Hongkong, Malaysia, Singapura dan berbagai tempat di Indonesia selalu ditunggu penampilannnya oleh masyarakat pencinta musik rohani setiap tahunnya, bukan hanya karena TW bertabur ‘bintang’ saja tapi juga karena musik dan lagu-lagu TW yang apik.

         Sidney Mohede (Vocal), Alvi Radjagukguk (Vocal), Ruth Sahanaya (Vocal), Lita Zein (Vocal), Nindy Ellesse (Vocal), Sari Simorangkir (Vocal), Jussar Badudu (Vocal), Sally Butar Butar (Vocal), Fanny Chang (Vocal), Ivan Mario (Vocal), Shelvia Hendoro (Vocal), Kenny Goh (Vocal), Winny Jessica Setiawan (Vocal), Ribka Yusuf (Vocal), Ucok Radjagukguk (Keyboard), Daniel Sigarlaki (Guitar), Steve Tabalujan (Keyboard), Arvid Gunardi (Bass), Rio Felani (Guitar), Andre Hermanto (Drum) dan William Hermanto (Guitar) mengemas album-album TW dalam nuansa musik gospel kontemporer agar lebih banyak didengar masyarakat dari semua golongan. Di tengah kesibukan semua personilnya yang padat, tim PRAISE berhasil menemui mereka, di JPCC, Jakarta Selatan.

         Nama TW diambil dari Yohanes 4:26, yang artinya Penyembah Yang Benar. Nama itu diberikan Tuhan melalui beberapa orang di JPCC, termasuk gembala mereka Ps. Jeffrey Rachmat. “Karena visi TW sendiri ingin menjadikan generasi ini menjadi generasi penyembah yang menyembah dalam roh dan kebenaran, agar generasi muda menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan dunia. Karena Tuhan akan membangun gerejaNya melalui komunitas yang hidup dan memberkati,” ucap Steve Tabalujan, salah satu personil TW. Meski para personilnya adalah orang-orang yang sibuk, tak menghambat mereka untuk terus berkarya. “Kita memang punya kesibukan masing-masing, baik di karir maupun keluarga. Jadi untuk mengumpulkan semua personilnya, kita harus menyusun jadwal bersama-sama.Dan saling konfirmasi sejak jauh-jauh hari,” jelas Sari Simorangkir yang juga sering membuat lagu-lagu hits.

LIVE RECORDING

         Terdiri dari para personil yang sudah malang melintang di dunia tarik suara, membuat mereka merasa patut mensyukuri nikmat Tuhan. Dengan melatunkan lagu-lagu gospel yang memberikan pencerahan kepada semua orang. Seperti album sebelumnya yang menggunakan konsep Live Recording, TW kembali menawarkan konsep itu untuk album kesepuluh mereka yang berjudul ‘God Is Our Victory’ kepada semua pencintanya. “Karena atsmofir pasar lebih menyukai Live Recording. Dan itu merupakan cerminan kita setiap hari Minggu. Jadi bagi mereka yang ingin melihat TW tapi tidak dapat menyaksikan secara langsung bisa lihat lewat CD kita,” ucap Steve dan Sari kompak kepada PRAISE.

         Dalam proses pemilihan lagu, TW melakukan itu semua bersama-sama. Mereka punya tim sendiri yang bertugas menyeleksi setiap lagu yang akan masuk dalam album mereka. Dan itu harus melewati proses. Tapi semua personil memiliki porsi yang sama dalam hal penulisan dan pemilihan lagu.

PELAYANAN TW

         Spirit yang luar biasa dari True Worshippers telah membawa mereka memberkati banyak orang, karena itu pada tahun 2006 Indonesian Gospel Music Award memberikan penghargaan untuk kategori Group Terbaik.

         Itulah sebabnya TW berusaha untuk terus memberi yang terbaik dalam pelayanan mereka. Meskipun tidak selalu mengalami peristiwa yang menyenangkan. “Kami pernah pelayanan di suatu tempat, biasanya kalau kita tampil yang datang selalu ikut nyanyi bahkan lompat-lompat, tapi ini  kok susah banget diajak nyanyi. Mereka malah bertopang dagu dan melipat tangan, padahal kita sudah semangat banget,” papar Sari.

         Tapi itu tidak membuat mereka berkecil hati, karena itu tak berarti apa-apa ketika mereka melihat bahwa semua orang yang hadir di tempat-tempat pelayanan mereka, dapat turut bernyanyi bahkan hafal semua lagu-lagu TW. “Misalnya, waktu di kota Kudus, walau kota kecil tapi masyarakat nya antusias banget dan mereka hafal semua lagu kita,” tambah Sari lagi.

         Meskipun tim ini memiliki talenta musik yang baik, tak berarti mereka selalu tampil baik. “Kita juga pernah merasa sepertinya performance saat itu kok jelek ya? Tapi hal itu justru membuat kita semakin berbenah diri dan semakin memberikan yang terbaik,” urai Sari.

         Dalam hal pelayanan pun, mereka tidak selalu berjalan mulus, ada juga kendala yang mereka hadapi. Tapi mereka punya cara sendiri dalam menyelesaikannya. “Dalam pelayanan pasti suka ada masalah, sesama anggota pun kita sering berbeda pendapat. Tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Biasanya kita menyelesaikan dengan cara rohani dan berkomunikasi dengan baik. Alkitab kan bilang, Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia,” kini giliran Sidney Mohede yang membuka suara.

                Perkembangan musik rohani yang semakin pesat dan anak muda yang semakin kreatif, ternyata tak mereka risaukan. “Justru itu kita harus lebih kreatif lagi dan terus berkarya. Tuhan kita kan Sang Pencipta yang kreatif,” ujar Sidney sambil menutup perbincangan. (min/ags / Praise #7 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus