TRIANGLE : Alat Musik ‘Segitiga’ yang Unik

TRIANGLE : Alat Musik ‘Segitiga’ yang Unik

Published On Desember, 13 2012 | By Kezia

APA ITU TRIANGLE ?
    Secara umum dari namanya triangle tentu sudah bisa kita tebak bentuk dari alat musik ini yaitu segitiga. Menurut kamus bahasa Inggris tri=tiga dan angle= segi. Bunyi yang dihasilkan alat musik ini bisa dikatakan “tak bertangga nada” artinya irama bunyi tergantung dari lagu yang dimainkan dan kemampuan dari pemain alat musik triangle ini. Tinggi rendahnya dentingan bunyi triangle in dipengaruhi juga dari bahan triangle tersebut.
    Alat musik triangle biasanya berukuran sekitar 15 – 18 cm di setiap sisinya dan dimainkan dengan alat pemukul (stick) yang terbuat dari logam. Pada umumnya alat musik triangle ini berbentuk segitiga sama sisi, namun dalam perkembangannya alat musik ini ada juga yang berbentuk segitiga sama kaki, dan dewasa ini ada triangle yang ditambahkan cincin-cincin (yang menimbulkan suara gemirincing) di sepanjang sisi bawah alat tersebut.

TRIANGLE
    Alat musik ini terbuat dari logam, ada yang terbuat dari baja, ataupun jenis logam yang lainnya seperti tembaga. Pada bagian sudut alat musik triangle (segitiga) terdapat sebuah lubang (atau dalam bentuk lainnya) dimana seutas tali (konon dahulu kala tali ini terbuat dari usus binatang, tapi dalam perkembangannya sudah dalam bentuk yang lainnya misalnya; dari kawat atau nilon) sebagai pegangan pemain alat musik tersebut.

FUNGSI DAN CARA MEMAINKAN TRIANGLE
    Triangle termasuk dalam jenis perkusi berkategori idiofoni. Idiofoni artinya menghasilkan suara melalui getaran dari seluruh badan instrumen. Contoh instrumen-instrumen yang termasuk dalam kategori idiofoni antara lain: bel, chimes, simbal dan triangle salah satunya.  Triangle bisa dibilang berfungsi sebagai “alat bantu” atau instrumen dalam sebuah musik dan lagu. Cara memainkan alat musik triangle ini, ada yang dimainkan sesekali dalam beberapa “bar” dan ada juga yang memainkannya penuh variasi dan atraktif. Tergantung lagu dan musik serta kemampuan bermusik dari pemainnya. Jadi walaupun triangle ini hanyalah sebagai “alat bantu musik”, namun tidak menutup kemungkinan apabila dimainkan lebih bervariasi dan atraktif. Sehingga James Blades berkomentar dalam bukunya Grove Dictionary of Music an Musician, “The triangle is by no means a simple instrument to play” (Red. Triangle bukanlah sebuah alat musik yang mudah dimainkan).Terkesan alat musik yang “sepele”, namun sesungguhnya alat bantu musik tersebut tidak juga mudah untuk dimainkan.
    Ada berbagai macam cara yang berkembang dalam memainkan alat musik triangle ini tergantung dari jenis musik dan kemampuan bermusik dari pemainnya. Misalnya pada musik rakyat (tradisional), samba dan musik rock, alat ini dimainkan secara variatif dan atraktif, ada catatan yang perlu diingat bagi yang baru belajar alat musik triangle yakni janganlah menyentuh alat musik ini sementara alat ini berbunyi. Mengapa demikian? Karena hal ini akan menghentikan getaran dan menghilangkan respon. Biasanya triangle dipukul di sisi luar. Namun dalam irama musik yang membutuhkan perubahan cepat, maka pukulan dilakukan di sisi bagian dalam sehingga akan menghasilkan suara yang semakin keras.
    Pada masyarakat Cajun French, yakni sekelompok masyarakat yang tinggal di Negara bagian Louisiana, Amerika Serikat yang berbahasa Perancis. Alat musik segitiga ini disebut tit – fer, dan alat musik ini dimainkan dengan ketukan-ketukan yang menghentak-hentak, bisa dikatakan triangle ini menggantikan alat musik drum.        
SEJARAH  TRIANGLE DAN PERKEMBANGANNYA
    Menurut literatur yang ada, alat musik ini dibuat pertama kali pada abad 16. Tidak diketahui secara persis siapa yang pertama kali membuat atau menciptakan triangle ini. Namun di dalam sejarah musik klasik Eropa, alat musik ini telah dimainkan dalam Orkestra klasik Barat sekitar abad 18. Musisi yang menggunakan alat musik triangle pada masa itu antara lain; Wolfgang Amadeus Mozart, Joseph Haydn dan Ludwig Van Beethoven. Namun permainan triangle yang cukup menonjol pada saat itu adalah ketika konser Piano Franz Liszt’s. Hal ini disebabkan dalam konser tersebut, triangle pada bagian tertentu dimainkan secara solo, tak ayal konser tersebut dijuluki sebagai Konser Triangle (Triangle Concerto).
     Pada masa abad 19, triangle digunakan dalam beberapa musik misalnya musik karya Richard Wagner seperti “Bridal Chorus” dari “Lohengrin” (opera). Selain itu triangle juga sering dimainkan oleh Hans Rott’s Symphony. Ada lagi pemusik lainnya yang memang biasanya menggunakan triangle dalam lagunya yakni antara lain; John Deacon dari grup rock Queen. John Deacon memainkan triangle dalam pertunjukkannya yang bertajuk Killer Queen; Joni Mitchell dalam lagu “Big Yellow Taxi”; Henry Mancini’s dalam Pink Panther, dan masih banyak lagi musisi ataupun arranger musik mancanegara yang menggunakan bunyi dari triangle.
    Di blantika musik rohani Kristen, ada salah satu band indie yang menggunakan triangle sebagai instrument adalah band Tutor Accoustic (profil Tutor dapat dibaca dalam PRAISE 5). Ketika ditanyakan PRAISE via Facebook pendapat mereka tentang triangle. “Triangle itu pada dasarnya dipakai untuk mempermanis suasana dari arransemen lagu yang dimainkan, hampir semua jenis lagu bisa ditambahin dengan irama triangle, mulai dari music Jazz Ensemble, Smooth Jazz, Pop, Latin Jazz, Ballad dll”. Bapak Willy Soemantri dalam suatu pertemuan dengan tim musik menilai, “Walaupun pemain triangle hanya sesekali dan jarang memukulnya, tetapi kalau dimainkan dengan motivasi untuk Tuhan, maka akan menjadi sesuatu yang berkenan di hati-Nya”.  (mk/PRAISE #18). Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus