Tony Meléndez

Tony Meléndez

Published On Desember, 18 2012 | By Vido Fransisco Pardede

GITARIS TANPA LENGAN

     Apakah Anda termasuk orang yang mudah putus asa dan menyerah pada keadaan yang buruk ? Atau merasa diri tidak bisa melakukan apa-apa karena fisik Anda tidak selengkap orang lain ? Terkadang kita mengharapkan terlahir sempurna dengan segala bakat melimpah. Kenyataan tidak selalu seperti itu. Kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan itu, namun itu bukan akhir dari nasib Anda. Sejarah hidup Anda bisa diubah, kalau Anda mau. Kalau di PRAISE 20 yang lalu, kita melihat Liu Wei, pianis tanpa lengan, dalam edisi ini kita mau belajar dari Tony Melendez, Gitaris tanpa Lengan.

TERLAHIR TANPA TANGAN

     Tony Melendez lahir pada 9 januari 1962 di Rivas, Nikaragua Amerika. Pria yang memiliki nama lengkap José Antonio Meléndez Rodríguez, terlahir tanpa lengan. Ini akibat ibunya mengkonsumsi obat Thaliomide, pereda mual ketika sedang mengandung Tony. Dan sedihnya, di hari kelahirannya, Tony tidak sadar kalau anaknya lahir dengan tidak lengkap. Saat lahir, saudara-saudaranya berusaha menjauhkan Tony dari ibunya. Sampai akhirnya ibunya memaksa untuk melihatnya. Mereka membawanya ke kamar dalam keadaan masih terbungkus selimut. Dan untuk pertama kalinya ibunya melihatnya anaknya lahir tanpa tangan.

     Pernah Tony dibawa ke daerah Los Angeles dari Nikaragua untuk dipasangkan tangan buatan. Tony sempat memakai tangan palsu hingga umur 10 tahun, setelah itu dia menolak untuk memakainya lagi."I didn`t feel comfortable," (Saya merasa tidak nyaman), jelasnya, "I could use my feet so much more." (Saya bisa menggunakan kakiku jauh lebih banyak). Walaupun Tony tidak mempunya tangan, dia belajar untuk memaksimalkan fungsi kakinya. Lama kelamaan, Tony bisa menulis, memegang pisau, dan memotong tomat. Dia mulai belajar mandiri.

    Saat Tony masih kecil, bapaknya sering mengajaknya menyanyi dan menari dengan diiringi gitar sang ayah. Saat di SMA, Tony mulai belajar bermain gitar dan harmonika. Dia juga mulai menulis lagu sendiri. Tony tidak mau cacatnya tersebut menjadi alasan untuk menjadi orang yang tak berguna. Sejak kecil, orang tuanya mengajak Tony ke gereja (Katolik). Tetapi baru saat SMA dia mulai mendalami ajaran Katolik. “Aku pergi ke gereja ketika aku masih kecil, karena orang tua mengajakku ke gereja. Setelah besar, saya agak menolak ketika di ajak ke gereja. Baru saat di SMA, saudaraku mengajakku ke gereja lagi dan mulai berkenalan dengan banyak teman. “ Tony Aktif di gereja, dan pernah memiliki kerinduan menjadi pastor (pendeta), tetapi rupanya kurang memenuhi syarat, karena seorang pastor harus memiliki jari telunjuk dan jempol. Hal tersebut sempat membuatnya kecewa, namun demikian dia tetap bertekun dalam kegiatan gereja dengan menggunakan bakatnya sebagai seorang komposer dan gitaris.

TITIK BALIK HIDUPNYA

     Tahun 1985 dingatnya sebagai tahun dimana Tony mulai bernyanyi di daerah Los Angeles. Siapa yang bisa menduga, dalam tempo 2 tahun kemudian hidupnya berubah selamanya. Tgl 15 September 1987 adalah moment yang tidak tidak pernah dilupakan Tony, saat dia bermain gitar dan bernyanyi di depan Paus Yohanes Paulus II di LA. Awalnya Tony hanya sebagai panitia untuk acara kedatangan Paus Paulus Yohanes II di Amerika. Lalu dia ditawarkan untuk mengisi acara untuk Paus. “Saya tidak yakin akan hal itu, sampai akhirnya saya ikut audisi untuk mengisi acara dan saya diterima. Ini merupakan kesempatan bagi saya,”, kata Tony.

     Tanpa terduga, ketika Tony bernyanyi di acara live yang disaksikan 6000 pasang mata dan jutaan penonton TV, dia menjadi pusat perhatian. Ia menyanyikan lagu ‘Never Be The Same’ sambil bermain gitar dengan kedua kakinya. Gitarnya diletakkan di lantai, sementara dengan lincahnya, jari-jari kaki kiri memegang chord gitar, sementara jari kaki kanannya memetik dan mengocok gitar.  Permainnya sempurna, tidak terdengar sekalipun pegangan chord yang salah atau petikan yang  meleset. Kalau saja kita tidak melihatnya bermain, kita tidak akan percaya bahwa bunyi gitar tersebut berasal dari permainan kedua kakinya. Ditambah lagi, pesan dalam lagu ‘Never Be The Same’ yang menceritakan seorang laki-laki yang menghabiskan waktu hidupnya dengan yakin di atas ketidaksempurnaannya.

     Paus sangat terpukau melihat performance nya. Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut, Paus mendekatinya ke panggung untuk mencium dengan penuh perasaan. Moment tersebut sangat menyentuh bagi yang menyaksikannya. Paus pun berkata : "Tony kau sungguh pemuda pemberani, kau memberikan harapan bagi kami semua. Aku berharap kau terus memberi harapan bagi semua orang." (http://www.youtube.com/watch?v=shK0DZHd81E)

     Sejak itu Tony telah melakukan perjalanan di seluruh Amerika Serikat dan empat puluh negara asing, mengisi di berbagai siaran televisi, termasuk The Today Show, Good Morning America, Geraldo, CBS This Morning, The Late Show with Arsenio Hall, 700 Club, Robert Schuller. Tony telah memiliki kesempatan untuk memberikan empat pertunjukan tambahan untuk Paus, dua kali di Vatikan dan yang lain di tanah air Paus yaitu Polandia, dan di Denver Colorado untuk Hari Pemuda Dunia 1993.

PENGHARGAAN

     Meléndez juga telah mendapatkan berbagai Penghargaan, di antaranya : Unity Awards Male Vocalist of the Year UCMVA (2000, 2002, 2004) dan pada tahun 2002 mendapat predikat ‘Artist of the year UCMVA.’ Dia juga menerima Penghargaan  ‘Best New Artist’ dari The Branson Entertainment (1999). Penghargaan Seorang pahlawan yang memberi inpirasi dari sepak bola Amerika (the NFL Alumni Association di Super Bowl XXIII) di Miami dan menerima Penghargaan khusus dari Negara Bagian California untuk karyanya bagi anak muda, juga menerima penghargaan dari presiden Reagan sebagai model orang yang berperan positif bagi Amerika.

     Sebagai komposer Kristiani yang sangat berbakat, Tony Melendez juga merekam banyak album rohani. Debut pertamanya’Never Be The Same’ (1989) masuk dalam nominasi ‘Best New Artist og Year’ dari CashBox Magazine dan Gospel Music Association .

     Album ‘Ways of the Wise’ (1990) yang menggandeng musisi Gary Chapman dan Phil Keaggy, masuk dalam daftar lagu top di CCM (Contemporary Christian Music) Magazine. Album selanjutnya yang dibuat Tony adalah ‘El Muro Se Callo’ (1991), ‘Debe Haber’ (1995), ‘Hands in Heaven’ (1997), ‘The Cup Of Life’ (1998), ‘Intimate Worship’ (1999). Album ‘Hands in Heaven’ yang digarap bersama band Toe Jam, merupakan kumpulan lagu ciptaannya yang keluar dari hati seorang Tony Melendez. Ada satu lagu ‘I Wish I Could Hold You’ yang didedikasikan untuk istrinya Lynn dan anak-anaknya. Sedangkan lagu themanya ‘Hands In Heaven’ adalah lagu yang ditujukan untuk kawan dan sahabatnya yang telah meninggal dan sekarang berdoa untuk kita di depan tahta Tuhan di Surga. Semua lagunya mencerminkan pandangan hidup dan imannya.

     Tahun 1989, Herper dan Row menulis buku otobiografi Tony Melendez ‘A Gift of Hope’ dan menjadi best selling. Perjuangan hidupnya telahmemberi inspirasi dan motovasi bangi anyak orang di dunia. Pada tahun 2005, bersama dengan Band Toe Jam, Tony Melendez disibukkan dengan jadwal konser. Meléndez juga menjadi pembicara yang memotivasi orang (Motivator) dan telah menulis sebuah buku.

     Meléndez sekarang berada di Branson, Missouri dengan istrinya, Lynn. Suatu kota kecil perhotelan dan hiburan kelas dunia. "Lynn dan aku saling mengasihi dan musik sudah membuat  kami bersama-sama. Jadi, suatu hari kami akan ceritakan semua kenangan ini kepada anak-anak kami. Musik telah membuka pintu mimpi-mimpi saya dan saya akan terus bernyanyi, terus berbagi hidup, dan terus membuat musik untuk semua orang yang akan mendengarkan." (Dari berbagai sumber/ Yis / Praise #21 / 2011).
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus