The Restorer

The Restorer

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

TERPANGGIL UNTUK MEMULIHKAN

     The Restorer, salah satu band indie yang juga sudah tak asing lagi di beberapa kalangan anak muda khususnya di PRBK (Pemuda & Remaja Bagi Kristus… Red) GIA Pegangsaan menjadi tamu kita di Indie’s Zone kali ini. The Restorer memiliki personil yang cukup banyak, ada tiga belas orang yang tergabung dalam band ini, wow it’s a big indie band, cukup terkesan juga sih melihat kekompakan mereka yang bisa hadir di base camp PRAISE di bilangan Kelapa Gading.

Terbentuknya The Restorer tidak disengaja

     Awal terbentuknya The Restorer memang secara tidak sengaja. Semua bermula dari diberi kesempatan untuk mengisi acara tahun baru tgl 1 Januari 2007 di GIA Pegangsaan, dimana lagu-lagu yang dibawakan merupakan hasil ciptaan dan arransemen dari anak-anak PBK GIA Pegangsaan. Konser yang bertemakan “Hidupku BagiMu” ternyata mendapat sambutan yang sangat positif baik dari gembala sidang, majelis dan juga jemaat.

     The Restorer merupakan wujud nyata dari kerinduan, spirit, passion (dorongan.…red) sekelompok anak muda yang terbeban untuk melihat perubahan dan terpanggil untuk melakukan perubahan atas nama Tuhan di gereja dan bangsanya. Telah lama kami melihat keadaan gereja yang mengalami kekeringan, tidak ada pertumbuhan, bahkan mengarah ke kematian dan kami sendiri terlibat di dalamnya. Kami merasakan sebuah urgency in the spirit (dorongan/desakan dalam roh) untuk bangkit, berdiri, dan menjadi agen perubahan bagi lingkungan kami.

Pemilihan nama “The Restorer” tidak dicari-cari

     Kenapa memakai nama The Restorer? The Restorer memiliki keunikan sendiri karena tidak dicari-cari lalu dirundingkan dan dijadikan nama band. Hal ini merupakan wujud dari visi yang ada di komunitas PBK (Pemuda Bagi Kristus…red) GIA yaitu “House of Restoration” - rumah pemulihan bagi anak-anak muda di GIA dan berlanjut menjadi “Be The Restorer”, para pemulih bagi anak-anak muda lainnya, tutur Michael sang manager. Dengan visi yang ada di PBK, tersebutlah nama The Restorer, yang akhirnya menjadi nama band ini.

     Berbicara tentang visi The Restorer, Chika begitu panggilanya salah satu Vokalis sekaligus penulis lagu di beberapa album The Restorer menjelaskan Visi mereka adalah, God is The Restorer. We are His team, His hand, and instrument equipped with talents and spiritual gifts to restore His church and nation “. Yang terambil dari Kisah Para Rasul 15:16-18. Tergambar cukup jelas pada cover depan mereka, dimana seseorang sedang membangun reruntuhan kembali kepada keadaan yang semula. Suatu ajakan kepada setiap orang, anak muda khususnya untuk melakukan pekerjaan yang sama: Bergabung dalam tim Tuhan, menjadi tangan Tuhan di dunia, dan menjadi alat / instrument Tuhan untuk membawa pujian yang berkenan bagi Dia. Visi inilah yang menjadi landasan Misi. Mereka menjabarkan visinya dengan “Restoring The Generation” yang mewakili puluhan orang dengan passion (dorongan…red) yang sama dari PRBK GIA Pegangsaan untuk membagikan kerinduan dan menyampaikan pesan pemulihan itu ke setiap orang.

Selain sejarah terbentuknya nama, ada nggak keunikan lain dari band The Restorer ini ?

      Dengan spontan sang gitaris yang dipanggil Edo si pemilik badan subur (gemuk…red) ini menjawab : “Orangnya banyak… dan sekali difoto ada tiga belas“ (yang sempat membuat seisi ruangan tersebut spontan pula tertawa…red). Ditambahkan juga oleh Yohanes : “Salah satu yang bisa dibilang menjadi bagian keunikan dari The Restorer adalah kami semua terdiri dari orang-orang yang bukan professional, tapi kami justru tumbuh dan belajar bareng-bareng dari apa adanya dan memberi apa yang terbaik yang kita bisa” (wah...berangkat dari kesederhanaan sampai kepada kesempurnaan ya!).Dan satu lagi uniknya dari band ini adalah terbentuk dalam kebersamaan semenjak kami sekolah minggu (kebaktian anak….red), remaja sampai saat sekarang ini”, kata Michael.

     Mengenai sponsornya mereka mengatakan support yang besar adalah dari majelis dan jemaat, termasuk pembuatan album perdana. Namun untuk pelayanan ke “luar”, mereka lebih sering berswadaya. Keuntungan dari album perdana ini akan ditabung untuk album kedua. (wah, berarti berlanjut dong yah? kita tunggu deh album berikutnya)

Pengalaman yang di luar dugaan

     Banyak cerita menarik seputar album dan pelayanan mereka pada jalur indie ini, bagaimana album mereka ini bisa memberkati para pendengarnya. Di luar dugaan, yang top justru bukan lagu hitsnya “Hidupku BagiMu” tapi malah yang lainnya. Betapa terkesannya mereka saat ada seseorang yang bilang bahwa orang tersebut telah memutar salah satu lagu mereka sampai lima belas kali.  Ada juga cerita tentang lagu “Living God” yang diciptakan oleh Chika dan dicoba untuk dimainkan dalam irama reggae, yang awalnya Chika tidak menyukainya tapi setelah dicoba ternyata justru lagu “Living God” ini bisa menjadi Top Ten pada salah satu radio di daerah Cirebon. Juga banyak kisah lagu yang mereka bawakan, telah memberkati para pendengarnya bahkan sering mujizat terjadi melalui pelayanan mereka. Setidaknya tiga kota yang mereka kunjungi dalam pelayanan di Bandung, Cirebon dan Semarang. Sebentar lagi mereka akan menyelenggarakan konser di Cileungsi (Jawa Barat...red).

Kerinduan The Restorer ke depan

     Kerinduan The Restorer sendiri di dunia musik indie mengharapkan adanya satu komunitas untuk mereka dapat saling melayani dan justru menjadi satu unity (kesatuan…red) yang bisa tetap eksis di masa yang akan datang, sehingga ada regenerasi yang baru dan tidak terputus seperti yang mereka rasakan saat ini ada generasi yang hilang di tengah-tengah dunia musik indie. Ke depannya mereka berharap tidak ada lagi jenjang yang terpaut jauh bagi regenerasi yang akan datang. Maka dari itu mereka pun tergabung dengan Indonesia Gospel Music Association yang terlahir dari Charismata Shalom sebuah komunitas yang memang juga peduli dengan keberadaan para musisi yang mengambil jalur indie dan juga memiliki kerinduan untuk menyatukan mereka menjadi musisi indie gospel yang profesional.

     Menanggapi keberadaan PRAISE sebagai majalah musik dan instrument, Chika merasa “kehadiran PRAISE sebagai media yang membantu dalam perkembangan musik rohani di tanah air. Beritanya pun juga up to date” (masa kini…red). Diharapkan ke depannya, PRAISE juga bisa membantu tidak hanya dari sisi beritanya tapi juga ada satu rubrik yang bisa membahas satu produk instrumen secara tersendiri”, tambah Debby nama akrab dari team managerial The Restorer (ok, trims buat masukan dan apresiasinya).

     Album perdana “Hidupku BagiMu” berisikan sepuluh lagu bergenre pop yang diciptakan oleh beberapa personil The Restorer, kecuali judul “Dalam Yesus” yang diciptakan oleh Badai “Kerispatih”. Lagu-lagu mereka ini berisi kerinduan dan motivasi mereka menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memulihkan generasi muda lewat pujian. (Good luck deh buat kalian semoga apa yang kalian kerjakan menjadi berkat bagi banyak orang dan menjadi Pemulih bagi Gereja dan Bangsa.5555 (gdt/yis / Praise #3 / 2008)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus