Tata Ibadah Gereja Baptis Indonesia

Tata Ibadah Gereja Baptis Indonesia

Published On Desember, 12 2012 | By Yusak

SEJARAH MASUKNYA GEREJA BAPTIS DI INDONESIA

Permulaan Gereja Baptis masuk ke Indonesia awal tahun 1800-an. Pada awal tahun 1912 delapan orang serdadu Inggris mendirikan sebuah Gereja Baptis di Semarang. Pada  tanggal 3 Mei 1813, utusan Injil Baptis pertama, William Robinson bersama Istri, datang di Jakarta dan melayani selama 8 tahun. 

Pelayanan beliau dibantu oleh Thomas Trowt dan istri. Thomas Trowt dan istri bersama Kel. James Reily pergi ke Semarang pada tanggal 10 mei 1815. Keluarga Thomas Trowt melayani di Semarang sampai wafat tanggal 26 Oktober 1816. Meskipun pelayanannya singkat, namun pekerjaan Tuan Trowt besar artinya. Di antara hasil yang dicapai adalah membaptiskan Gottlob Bruckner, seorang utusan Injil Belanda yang melayani sebuah Gereja di Semarang.

Pada hari Natal 1951, tiga orang utusan Injil Baptis tiba di Jakarta. Para misionaris Amerika itu adalah Buren Johnson, Stockwell Sears dan Charles Cowherd, mereka pelopor Baptis Selatan di Indonesia.

Pengorganisasian Gereja Baptis Indonesia pertama di Bandung(1952), di Surabaya(1953) di Jakarta(1955). Kemudian disusul di daerah lain seperti di Semarang, Kediri, Surakarta, Yogyakarta, Palembang, Bukit Tinggi, Bogor, Magelang, Modjokerto, dan Medan. 

TATA IBADAH

Saat melaksanakan kebaktian, tidak ada keseragaman baik dalam cara beribadah di gereja maupun bentuk gedung gerejanya. Setiap gereja dapat menentukan tata laksana kebaktiannya sendiri. Walaupun demikian orang Baptis mempunyai ciri khas dalam kebaktian: Pertama, dalam melaksanakan ibadah ada seorang yang bertugas untuk memandu acara ibadah. Tujuannya agar ibadah dapat terarah dengan baik dan khidmat, ada juga seorang yang memandu untuk mengajak jemaat memuji Tuhan (Leader of  Praise), tujuan agar pujian yang dinyanyikan sesuai dengan maksud si penulis. Karena itu seorang pemimpin pujian harus menguasai not dan dinamika lagu. Sebab umat baptis lebih menekankan pada lagu-lagu Hymn. Kedua, paduan suara sering muncul dalam ibadah, walaupun tidak setiap ibadah.  Tampilnya paduan suara dalam ibadah, jika ada acara khusus atau istimewa yang berkaitan dengan upacara baptisan, upacara perjamuan Tuhan, dll.  Ketiga, tatanan dalam ibadah umat baptis pada umumnya sebagai berikut;

 

1. Pujian : Pujian yang dinyanyikan dalam ibadah lebih menekankan pada bobot theologi dari lagu tersebut dan diatur sedemikian rupa, sehingga lagu yang akan dipakai dalam ibadah harus disesuaikan dengan tema Firman Tuhan yang akan disampaikan. Dalam penataan pujian umat baptis telah memiliki buku panduan yang dapat memudahkan untuk menyusun pujian dalam ibadah. Kadang dalam memimpin pujian, MC berlaku seperti dirijent, dimana tangannya dipakai untuk memberi gerakan 4/4 atau 3/4 supaya ketukan lagunya bisa bareng.

2. Doa : Doa dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain: Pertama, Doa Pembukaan. Doa ini berisi pengucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan sepanjang hari yang telah berlalu dan permohonan yang berkaitan dengan jalannya ibadah tersebut. Kedua, Doa Syafaat ditujukan bagi jemaat yang sakit, yang tidak dapat berbakti dihari itu, jemaat yang tinggal diluar kota (bekerja / studi), Gereja-gereja Tuhan di muka bumi, serta bangsa dan Negara. Ketiga, Doa Penutup. Doa ini berisi pengucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam jalannya ibadah dari awal hingga akhir, dan permohonan agar Tuhan menyertai umatNya.

3. Pembacaan Silih Berganti : Pembacaan tersebut sudah dipersiapkan menurut tema-tema yang telah ditulis dalam buku nyanyian pujian. Tujuan dari pembacaan tersebut yaitu untuk mempersiapkan dan mendorong suasana berbakti yang berarti.  Karena itu pembacaan Firman Tuhan yang dilakukan dengan bijaksana akan mempersatukan seluruh jemaat untuk bersekutu dengan Tuhan bersama-sama.

4. Pembacaan Firman Tuhan :  Biasanya diambil dari satu bagian Alkitab yang berhubungan dengan khotbah yang akan disampaikan.

5. Khotbah : Dalam mimbar Gereja Baptis, khotbah merupakan bagian yang paling penting dalam kebaktian. Seorang pendeta menjelaskan Firman Tuhan kepada jemaat agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya khotbah yang disampaikan adalah secara Eksposisi bukan Topikal atau Alegoris. Khotbah ini berlangsung selama 20–30 menit.

6. Undangan : Pada akhir kebaktian ada undangan, seorang pendeta mengundang jemaat untuk mengambil suatu keputusan. Setiap orang, secara pribadi, yang merasa digerakan Roh Kudus untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya, akan maju ke depan mimbar (Altarcall) untuk menyatakan imannya. (Diambil dari PRAISE #5 / Penulis : Oleh: Pdt. Hendra Wijaya Susanto, MA., M.Th. Gembala Sidang Gereja Kristen Baptis Jakarta Jemaat Cengkareng Pos Jemaat di Solo Baru).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus