SEJARAH PERJALANAN MUSIK DANGDUT : THE RIGHT DANGDUT ON THE RIGHT PLACE

SEJARAH PERJALANAN MUSIK DANGDUT : THE RIGHT DANGDUT ON THE RIGHT PLACE

Published On Desember, 13 2012 | By Kezia

Brand Image, cap, penilaian atau apapun bahasanya, untuk waktu yang sudah cukup panjang sejak munculnya aliran musik dangdut pada era tahun 40-an hingga sekarang, ‘dangdut identik dengan musik ecek-ecek’. Hal ini bukan saja karena salah satu perangkat alat musik dangdut adalah rebana yang mengeluarkan bunyi ecek-ecek, tetapi yang dimaksud adalah musik kelas rendahan. Benarkah begitu?

ASAL DANGDUT
Aliran musik dangdut berakar dari musik Melayu sekitar tahun 40-an. Dalam perjalanan menuju bentuk kontemporer, sekarang ini dangdut kemasukan pengaruh unsur-unsur musik India, terutama pada penggunaan tabla, dan pengaruh dari Arab ialah cengkok dan harmonisasinya.
Beberapa grup musik dangdut masih menggunakan nama Orkes Melayu (OM) di depan nama grupnya. Ini membuktikan bahwa musik dangdut merupakan pengembangan dari alat musik melayu. Pada awalnya dangdut menggunakan alat-alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, ketipung, gambus dan seruling, bahkan gong.
Perkembangan politik anti Barat pada tahun 1950–1960-an telah membawa grup-grup orkes melayu bertumbuh subur. Dari masa itu tercatat beberapa tokoh OM seperti Effendi dengan lagu ‘Seroja’, Ellya dengan gaya panggung seperti penari India (pada masa ini mulai masuknya unsur India dalam musik Melayu), Husein Bawafie pencipta lagu ‘Boneka Dari India’, Mashabi dengan lagu ciptaannya ‘Ratapan Anak Tiri’, dan sebagainya.
Dengan masuknya alat-alat musik listrik seperti gitar listrik, bas listrik, organ/keyboard pada tahun 1960-an, hal ini membawa kemajuan pada aliran musik dangdut. Dan hasilnya sejak tahun 1970 dangdut telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Namun demikian dangdut tidak mengisolir diri, tetapi terbuka terhadap bentuk musik lain seperti keroncong, langgam jawa, gambus, pop, rock bahkan house musik. Bahkan pernah diadakan konser ‘duel’ antara Soneta Group dengan grup rock God Bless.
Sekarang ini, dangdut kontemporer telah berbeda dengan musik Melayu sebagai akarnya. Misalnya saja pengaruh rock pada permainan gitar listrik sangat terasa pada musik dangdut. Justru musik melayu hanya terasa sebagian saja. Pada dangdut muncul juga variasi dangdut humor seperti OM Pengantar Minum Racun  dengan judul lagu ‘Duit’ dan awal tahun 2000-an orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB). Inul Daratista, seorang penyanyi dangdut dari kampung ke kampung berhasil mempopulerkan dangdut menjadi go national, bahkan menjadi berita yang selalu hangat pada hampir seluruh media di Indonesia dengan julukan ‘ratu ngebor’.

BANGUNAN LAGU DANGDUT
Gendang atau ketipung merupakan alat utama musik dangdut. Sebagian besar lagu dangdut tersusun atas satuan delapan birama 4/4 dan sangat jarang menemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali lagu-lagu tahun 1960-an.
Salah satu kelemahan pada dangdut ialah kurangnya improvisasi baik pada melodi maupun harmoni. Gendang atau ketipung merupakan alat utama yang diandalkan ketukannya.  Adapun  bentuk bangunan lagunya kebanyakan tersusun seperti  : Intro – A – B – A – Interlude – Reffrain – A – Interlude – Refrain – A.
Lagu dangdut standard tidak memiliki refrain, tetapi memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik.

MARKET PLACE DAN ARTIS DANGDUT
Sekalipun dangdut dinilai merupakan kelas masyarakat bawah, ini bukan berarti dangdut hanya disukai masyarakat kelas bawah. Panggung dangdut dapat dengan mudah ditemui di mana-mana untuk meramaikan suasana. Bahkan ada banyak sekali radio dangdut di seluruh Indonesia, di Ibukota Jakarta misalnya ada radio dangdut TPI yang memiliki saluran di seluruh nusantara dengan jam tayang 24 jam sehari. Bahkan ada tempat-tempat karaoke khusus untuk lagu dangdut. Artinya sesuatu yang banyak dijumpai tidak selalu barang murahan.
Tokoh dan artis dangdut yang dikenal sebelum tahun 1970-an adalah Husein Bawafie, Munif Bahaswan, Said Effendi, Johana Satar, Hasnah Tahar, A. Harris, Mashabi. 
Di tahun 1970-an dikenal : Rhoma Irama, A. Rafiq, Elvy Sukaesih, Mansyur S, Muchsin Alatas, Camelia Malik, Ida Laila. Setelah 1970-an : Nur Halimah, Hamdan ATT, Meggy Zakaria, Iis Dahlia, Itje Trisnawaty, Evie Tamala, Ikke Nurjanah, Cici Paramida, Dewi Persik, Inul Daratista, Ayu Ting Ting dan masih banyak lagi yang lain.
‘Dangdut is the music of my country’ yang pernah ditayangkan di siaran televisi beberapa tahun lalu ternyata berdampak besar dan telah berhasil merubah image banyak orang tentang dangdut. Setelah munculnya lagu tersebut, terlihatlah pada siaran-siaran televisi banyak artis pop yang hijrah ke aliran musik dangdut. Entah karena motif komersial atau memang karena musik dangdut telah disadari memiliki ‘core values’ atau nilai budaya tersembunyi yang selama ini malu diakui oleh masyarakat.

BISAKAH DANGDUT MASUK GEREJA?
Musik dangdut itu -seperti halnya musik lain-sangat elastis, bisa dipakai di mana saja, tergantung di tangan siapa dan untuk apa dangdut dipergunakan. Rhoma Irama, misalnya, menjadikan dangdut sebagai alat dakwah, sehingga tidak heran jika gaya panggung dangdut yang dibawakan oleh Inul Daratista pada tahun 2000-an dicap merusak moral. Dangdut pun kini dipakai untuk panggung politik guna menarik massa.
Jadi kalau musik dangdut hanyalah alat, maka motivasi dan untuk keperluan apa dimainkan lebih penting daripada sekedar memperdebatkan boleh atau tidaknya aliran musik tertentu masuk dalam salah satu bagian liturgi ibadah gereja. 
Apakah piano, keyboard, gitar, drum saja yang dianggap layak untuk mengiringi lagu-lagu jemaat? Itu bisa dibilang kebarat-baratan. Karena memang awalnya gereja tidak memiliki jenis musik tertentu dalam liturginya. Ini artinya aliran musik dangdut memiliki peluang yang besar untuk mengiringi puji-pujian pada ibadah gereja. Lies Saodah (almh) adalah salah seorang penyanyi rohani era 90-an yang mempopulerkan lagu-lagu berirama dangdut untuk memuji Tuhan di jemaat / gereja.
Gereja pernah ‘demam’ dengan musik padang pasir di era 80-an. Sehingga setidaknya ada satu atau dua lagu dinyanyikan dengan iringan mirip musik Israel, seperti ‘Nyanyi Bagi Dia Lagu Baru’, ‘Hai Umat Allah’, ‘Shalom Khaverim’. Kemudian ketika pop dan rock mewarnai blantika musik, nuansa ‘Padang Pasir’nya seperti hilang. Kini dangdut sedang nge-booming kembali walau dalam kemasan baru. Memang tidak semua lagu enak dinyanyikan dengan irama dangdut, tapi setidaknya ada beberapa lagu terlahir dengan arransemen dangdut, contohnya ‘Oh Betapa Indahnya’, ‘Yesus Kekasih Jiwaku’, dan mungkin masih banyak lagi lagu-lagu yang dapat disajikan dalam ragam irama dangdut ini.
Di beberapa gereja di daerah ada yang menggunakan musik dangdut sebagai sarana memuji Tuhan dalam ibadah. Namun jangan paksakan dangdut untuk berkembang pada sebuah komunitas, karena pada prinsipnya dangdut adalah mengalir. Tempatkanlah musik dangdut pada komunitas yang cocok maka akan memiliki nilai lebih dan menjadi berkat bagi banyak orang. The right dangdut on the right place. (TSuw/PRAISE #6). Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus