SEJARAH MUSIK SEBELUM MASA KRISTUS

SEJARAH MUSIK SEBELUM MASA KRISTUS

Published On Desember, 12 2012 | By Majalahpraise Admin

   Untuk mengungkap Sejarah Musik, kita harus masuk lorong waktu ke belakang untuk melihat kembali pengaruh & fungsi pada masa sebelum Kristus (Masehi), pada masa Kristus dan sesudahnya hingga diterapkannya musik dalam format ibadah (liturgi) yang beragam di berbagai denominasi gereja saat ini. Mari kita lihat perkembangan musik rohani sepanjang abad, supaya kita bijak dalam memandang perbedaan yang ada sekarang.
Berdasarkan Alkitab, manusia sudah mengenal alat musik pada generasi ke-lima setelah manusia pertama (Adam). Yubal anak Lamekh "dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling" (Kejadian 4:21), mungkin dialah penemu musik.
    Ada banyak bukti menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir, selain budaya yang paling tua, menggunakan musik secara intensif dalam upacara ritual religius, Orang Mesir memiliki banyak instrumen musik, dari sistrum (lihat gambar)  sampai harpa dengan 12 atau 13 snar.
    Yunani kuno memperoleh pengetahuan tentang musik dan prakteknya dari orang-orang Mesir. Orang Yunani sangat banyak menggunakan musik dalam upacara keagamaan mereka dan meyakini bahwa musik mempengaruhi moral dan emosi manusia dan menganggap musik berasal dari dewa-dewa mereka.
    Di kehidupan bangsa Israel/Ibrani ini pemakaian dan fungsi musik sangatlah beragam. Ada yang menggunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai ekspresi mewakili perasaan mereka, ada yang memakai untuk ibadah mereka. Di bawah ini, secara sekilas dan sederhana, dipaparkan hal tersebut.
     
MUSIK SEKULER DALAM PERJANJIAN LAMA
    Banyak ayat dalam kitab Perjanjian Lama yang mencatat beberapa nyanyian yang dipakai di kalangan Israel dan nenek moyangnya, yang bukan tergolong sebagai lagu keagamaan (rohani), seperti Kej 31:27 (nyanyian perpisahan); Yes 23:15-16 (Lagu “Perempuan Sundal”); Yes 24:9; 5:1,11-12 (Nyanyian peminum anggur). Dari liriknya,  jelas lagu-lagu tersebut hanyalah ekpresi kegirangan dan kesedihan. Ketika Daud berduka atas kematian Saul dan Yonatan, dia meratapinya dengan nyanyian (2 Sam 1:19-27). Begitu pula waktu Abner meninggal (2 Sam 3:33-37). Yeremia memanggil para peratap untuk menyanyi manakala Israel menjadi mangsa maut (Yer 9:17-22) bahkan Yeremia membuat lagu ratapan untuk kemtian Yosia (2 Taw 35:25) Sebaliknya waktu Israel mengalami kemenangan di medan perang disambut dengan lagu kegirangan diiringi tarian (Hak 11:34). Saul begitu iri terhadap Daud, ketika rakyat menyanyikan lagu tentang kehebatan Daud dalam medan perang secara berbalasan (1 Sam 18:6-7; 21:11: 29:5).
   
MUSIK ROHANI DALAM PERJANJIAN LAMA
    Corak Musik Orang Israel tak dapat dipungkiri diwarnai juga oleh bangsa sekitarnya. McElrath Dalam buku ‘Musik Dalam Alkitab’ nya menulis “Kanaan, negeri tempat terjadinya banyak peristiwa Alkitab, ialah negeri yang sering dikunjungi atau dilalui oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa asing kadang meninggalkan beberapa macam barang mereka di negeri Kanaan. Diantara barang-barang tersebut, pastilah ada alat-alat musik asing. Kesenian mereka dalam hal menyanyi, mengarang dan memainkan alat-alat musik tentunya mempengaruhi juga orang-orang Israel di negeri Kanaan. Ahli-ahli purbakala  sudah menemukan ukiran-ukiran yang menggambarkan alat-alat musik bangsa-bangsa kafir itu. Dengan demikian, boleh diambil kesimpulan bahwa alat-alat musik dan cara orang-orang Yahudi menyanyi dan menggunakan alat-alat musik mereka sendiri sedikit mirip dengan bangsa-bangsa lainnya di daerah itu.” Namun demikian ada perbedaan mendasar antara bangsa Ibrani dan bangsa-bangsa lain. Bila bangsa-bangsa kafir menyatakan perasaan atau melukiskan sesuatu yang indah, mereka suka menggambar atau pun membuat patung-patung ukiran. Umat Allah dilarang membuat “patung ukiran dalam bentuk apapun”  (Keluaran 20:4). Sehingga orang-orang Israel menggunakan musik menyatakan perasaan-perasaan mereka. Mereka diperbolehkan mengekspresikan nya dalam bentuk syair-syair, cerita-cerita dan lagu-lagu (musik). Oleh karena itu, nyanyian dan musik yang dimainkan dengan beberapa alat musik menjadi bagian yang penting dalam kebaktian-kebaktian mereka (Baca 2 Raja-raja 3:11,14-16 dan Mazmur 49:1-5).
    Bagi orang Israel, seni dianggap penting bila dipakai untuk memuji dan memuja Yehova. Sebagian besar yang kita ketahui tentang ibadah orang Israel ada dalam kitab Perjanjian Lama. Di dalamnya kita mendapati sejumlah besar acuan yang membuktikan pentingnya musik vokal dan instrumental dalam ibadah orang Israel. Dalam Kitab Suci dicatat ada kira-kira 11-13 instrumen yang berbeda, yang dapat diklasifikasikan sebagai instrumen dengan snar (petik), instrumen tiup atau perkusi (dipukul) (baca pula PRAISE # 05 rubrik ‘Musik Tradisional’).
    Ada sejumlah lagu dan penyanyi disebutkan dalam Perjanjian Lama, misalnya: Lagu Musa (Keluaran 15:1-18). Musa memimpin bangsa Israel menyanyikan lagu tersebut sesudah Allah menyelamatkan mereka dari tangan orang-orang Mesir. Kemungkinan besar Musa belajar musik ketika ia masih tinggal di istana Firaun di negeri Mesir. Kisah Para Rasul 7:22 mencatat bahwa Musa diajar mengenai “segala ilmu orang Mesir.” Bahkan dalam Bilangan 10:1-10 Musa disuruh Allah membuat alat-alat musik (nafiri). Mazmur 90 merupakan nyanyian Musa pada masa tuanya. Sedangkan Ulangan 32:1-43 dicatat sebagai “Nyanyian Musa” menjelang ajalnya.
    Dua wanita di antara musikus Alkitab yang terkenal ialah Miryam (kakaknya Musa) dan Debora. Miryam memimpin paduan suara wanita sambil memainkan alat musik yang disebut rebana “ Lagu Miryam”
(Keluaran 15:20-21), sedangkan Debora, bernyanyi dengan Barak, tetapi pemimpin nyanyian itu ialah Debora, bukan Barak (Hakim-Hakim 5:1-31).
    Ada Lagu ucapan Syukur Hanna atas kelahiran Samuel (1 Samuel 2:1-10). Dan rupanya Samuel mendapat bakat musik dari ibunya, Hal tersebut terbukti sebagai kepala sekolah untuk nabi-nabi Samuel adalah juga seorang guru musik, Karena musik merupakan bagian penting dalam kebaktian orang-orang
Yahudi, murid-murid yang belajar menjadi nabi sudah tentu harus belajar musik. Kitab I Samuel 10:5 mendaftarkan alat-alat musik yang harus dimainkan oleh nabi-nabi Tuhan, dan sebagian dari pekerjaan Samuel ialah mengajarkan alat-alat musik itu. Tak heran ketika ditemukan bahwa para nabi yang ketemu Saul dekat Gibea, sedang bernubuat dengan iringan musik (I Sam 10:5,10).
    Daud sangat terkenal sebagai musisi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermusik bangsa Israel. Ketika masih muda, sebelum menjadi orang terkenal, bakat Daud sudah terlihat karena sering memainkan kecapi dan bernyanyi, sambil menjaga domba-domba di padang (1 Samuel 16:23; 18:10; 19:9). Daud menulis lagu syukur ketika lolos dari kejaran Saul  (2 Samuel 22). Dan sebagian besar dari kitab Mazmur dikarang oleh Daud (baca juga PRAISE #06 dalam rubrik ‘Artikel’).
    Manakala Salomo, anak Daud, menjadi raja dan membangun Bait Allah yang pertama,  pagelaran musik menjadi semakin agung. Yosephus, sejarawan Yahudi yang terkenal, menulis bahwa dalam Bait Allah yang pertama ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. II Tawarikh 5 memberikan laporan tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik, dalam ibadah tersebut. Rupanya bakat musik Daud diturunkan ke anaknya juga, Salomo (1 Raja-raja 4:32-33). Karena Mazmur 72 & 127 merupakan lagu yang dikarang oleh Salomo.
    Setelah Salomo wafat, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, kerajaan Yehuda (Selatan) dan Kerajaan Israel (Utara). Waktu Elisa diminta nasehatnya oleh raja Yehuda yaitu Yosafat, sebelum melawan Moab dalam peperangan, maka Elisa memanggil seorang pemain kecapi supaya membangkitkan rohnya untuk bernubuat (2 Raja-raja 3:15). Ada pula  tarian-tarian yang berlangsung dalam rangka ibadat di Israel pastilah diiringi musik (Kel 32:19; 2 Samuel 6:14; Mazmur 87:7; 149:3; 150;4).
    Setelah bangsa Israel kembali dari tempat pembuangan di Babel, ibadah di Bait Allah kembali dilaksanakan. Walaupun yang Bait Allah kedua ini tidak seindah yang pertama, namun jelas bahwa pagelaran musik merupakan bagian dari ibadah orang Israel. Kitab Talmud Yahudi menjelaskan tradisi menyanyikan mazmur dalam Bait Allah kedua tersebut (Talmud adalah catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah). Pengarang Tawarikh sendiri menyadari bahwa banyak perubahan sudah terjadi dalam aturan musik di ibadat Israel pada abad ke 4 sM dibandingkan dengan zaman raja Daud. Tercatat bahwa aturan musik itu diperbaharui oleh imam Yoyada (2 Taw 23:18) dan kemudian diperbaharui lagi oleh raja Hizkia (2 Taw 29:25-30). Bacalah mengenai raja Hizkia dalam Amsal 25:1 yang memerintahkan hamba-hambanya untuk mengumpulkan amsal-amsal Salomo kemudian disalin. Hizkia sendiri mengarang nyanyian sesudah sembuh dari sakitnya, hal ini dicatat dalam Yesaya 38:9-20.
    Nah, dari sederetan catatan di atas, kita mendapat informasi bahwa musik digunakan sebelum masa Kristus untuk menobatkan raja baru (1 Raja-raja 1:39-40); Menghibur seorang raja (1 Samuel 16:23; 2 Samuel 19:33-35); Berdukacita atas kematian (2 Tawarikh 35:23-25; Matius 9:18, 23-24); Bersukacita atas kemenangan (2 Tawarikh 20:27-28); Memberi aba-aba atau tanda-tanda (Bilangan 10:2-6); Menolong memenangkan pertempuran (Hakim-hakim 7:19-21); Menyerahkan gedung baru (Ezra 3:10-11); Menolong seorang nabi menyampaikan pesan Allah (2 Raja-raja 3:11,14-16); Memuji dan mengucapkan syukur kepada Allah (Nehemia 12:27). (Yis/PRAISE #7).
Sumber : www.majalahpraise.com
   
Bersambung:MUSIK PADA ZAMAN TUHAN YESUS (SONG BOOK NYA TUHAN YESUS)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus