Salvation Sound Band

Salvation Sound Band

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

MENYUARAKAN KESELAMATAN LEWAT MUSIK

           Satu lagi karya anak bangsa yang bisa kita dengar melalui CD/kaset, berasal dari tanah Papua yang tergabung dalam ‘Salvation Sound (SS) Band’. Semua berawal dari persekutuan di dalam komunitas pemuda Gereja Kristen Kudus Kotaraja. Dengan mencoba menciptakan lagu sendiri kemudian dibawakan dalam ibadah kaum muda dan persekutuan jemaat, lalu atas saran pembina pemuda setempat, Bapak Fritz May,  untuk merekam lagu-lagu ciptaan mereka agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang, maka digagaslah sebuah group band yang para personilnya berasal dari beberapa gereja tetapi mempunyai visi dan kerinduan yang sama.

            Nama SS sendiri dicetuskan oleh salah satu personil mereka yang bernama Eienmarch Upessy, yang berarti ‘bunyi keselamatan’, karena kerinduan dari band ini adalah menyuarakan/ membunyikan keselamatan lewat musik yang mereka mainkan.

            Dari mulai terbentuknya, sejak tahun 2007 sampai sekarang personil SS band telah banyak mengalami perubahan, hal ini menyangkut komitmen dan kesehatian dalam sebuah team. Saat ini personil SS band terdiri dari, Eienmarch Upessy (Bass), Hanantha K. Soelarso (Lead Gitar Melodi), Markus Rumbino (Gitar Rythem & Accoustic), Alexander Y. Saerang (Drum), R. Enos Hallatu (Lead Keyboard), Samuel Krisdianto (Keyboard), Semmy L. Tobing, Rafles Waromi, Novita Rumbarar, Novi Lalihatu, Lidia Muabuay, Noldi B. Siahaya, Desina Kr Balubun (Vocalis) disamping itu juga ada Willy E. A Sakti, Luke Chrisdianto (Drum) dan Pieter Visser (Biola) sebagai additional player atau pemain tambahan.

THANK YOU JESUS

            Group band yang mengusung aliran musik pop rock ini, memberi nama ‘Thank You Jesus’ untuk album perdana mereka, yang didistribusikan oleh label Maranatha Music Indonesia. Awalnya mereka tidak menyangka akan rekaman di Jakarta, hal ini diluar rencana mereka, mengingat jarak antara Jakarta-Papua sangatlah jauh dan pasti dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena tekad yang besar dan demi mendapat hasil yang maksimal, juga atas pertolongan Tuhan akhirnya mereka pun bisa ke Jakarta. Untuk proses rekaman sendiri memakan waktu 2 bulan. Waktu tersebut termasuk proses yang super cepat, dimana musik dikerjakan lebih dulu dan selanjutnya penggarapan vocal belakangan. Ada suatu kejadian yang menarik pada saat rekaman. Pasalnya, salah satu personil mereka ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas menjelang keberangkatan, hal ini sempat membuat cemas semua personil band, tetapi justru yang mengalami kecelakaan lebih bersemangat walau keadaannya agak terluka dan hal itu membuat semua personil pun ikut termotivasi.

            Album ‘Thank You Jesus’ berisi 10 lagu yang mereka ciptakan dan diaransemen bersama-sama, inspirasi penulisan lagunya pun didapat dari pengalaman mereka dengan Tuhan dan juga dari pergumulan doa mereka. Pesan dari album ini adalah mengingatkan kita agar selalu mengucap syukur atas segala berkat dan penyertaan Yesus di setiap waktu. Dalam album ini juga ditambahkan unsur etnic dengan alat musik tifa dan bia ‘kulit kerang’ yang menambah keunikan album ini.

KESEMPATAN EMAS

            Dalam hal musik, Papua juga memiliki potensi musisi yang berlimpah, hal ini ditunjang dengan bakat-bakat alami yang ada, hanya saja hal ini masih belum dapat berkembang disebabkan keterbatasan sarana dan kesempatan. Tidak heran jika musisi di Papua belum dapat menjadikan musik sebagai pegangan hidup atau profesi yang dapat memberikan penghidupan yang layak. Karena itu untuk bisa rekaman di Jakarta adalah sebuah kesempatan emas bagi mereka.

            Personil SS band sendiri terdiri dari beberapa denominasi gereja, diantaranya Gereja Kristen Kalam Kudus, Gereja Kristen Injili dan Gereja Bethany. Mereka juga berasal dari profesi yang berbeda-beda, ada yang sebagai dokter, guru, pegawai negeri, dosen, staff LSM dan pengusaha swasta. Kegiatan yang mereka lakukan selama in adalah promo konser album ‘Thank You Jesus’ dan juga melakukan pelayanan musik ke gereja-gereja di wilayah Jayapura, Papua.

            Seperti biasa, PRAISE juga menanyakan mengenai masalah pembajakan dari sudut pandang mereka. “Pembajakan lagu di Indonesia sudah sangat parah. Perlu adanya aturan pemerintah dan sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Juga perlu adanya penyadaran bagi masyarakat bahwa itu sangat merugikan musisi, mungkin secara konkret perlu adanya promosi/iklan dan publikasi besar-besaran dalam memerangi pembajakan ini”, komentar group yang mengidolakan True Worshippers, GMB dan UX Band ini. 

            Dalam bermusik mereka pun kerap mengalami perbedaan pendapat, tapi hal itu selalu dapat diatasi dengan saling berkomunikasi untuk mencari jalan keluar dan berdoa bersama. Untuk kerohanian, mereka juga memiliki pembimbing rohani sebagai pendamping mereka, yaitu Bapak Christian Worouw, Karel Lolo dan Bapak Chrisson Samosir.

Melalui majalah PRAISE, yang menurut mereka adalah pioneer dari majalah rohani di bidang musik ini, mereka berharap agar album mereka dapat menjadi berkat bagi semua orang. (Ras / Praise #6 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus