PropheSee!

PropheSee!

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

EKSPRESI CINTA TANPA BATAS

IDENTITY ALBUM

       Selasa, 10 Maret 2009, pukul 17.00 WITA, merupakan hari yang bersejarah bagi tim PropheSee!, karena pada hari itu adalah peluncuran album perdana mereka yang bertitel ‘Identity’, di Mall Bali Galeria, Kuta-Bali. Kurang lebih 500 pasang mata menyaksikan hari bersejarah itu.

       Tim yang beraliran musik rock modern ini digawangi oleh delapan personil, yaitu: Samuel Chandra (Lead Vocal), Elita Latumaerissa (Pianist), Yohana Ruth (Vocalist), Christian Legi (Keyboardist), Indrawan (Electric Guitarist), Marthen Anone (Bassist), Michael Tatontos (Drummer dan Percussionist), juga dibantu oleh Amin da Silva dan Martin Widiyanto sebagai Additional Players pada saat peluncuran album. Konser ini teselenggara atas kerjasama dari Focus Production, Lembaga Pendidikan Musik FARABI dan Purwacaraka Musik Studio, Bali.

       Nama PropheSee! diambil dari bahasa Inggris, merupakan kombinasi dari kata Prophet = nabi dan See = melihat, gabungan kata itu bermakna orang yang bisa melihat jauh ke depan, menghidupi nubuatan dan menyampaikannya kepada bangsa-bangsa.

       Oleh karena itu, mereka melihat diri mereka sendiri bukan sebagai suatu band,  tetapi hamba Tuhan yang memiliki talenta serta karunia di bidang musik dan rindu berfungsi sebagai garam dan terang melalui musik untuk menyebarkan kegerakan Tuhan yang menyatakan diriNya sebagai mempelai pria. Sebagai hamba Tuhan bertalenta musik PropheSee! adalah ‘perpanjangan tangan’ orang tua rohani untuk menyampaikan kegerakan tersebut.

       Dimulai dari keinginan mereka untuk mengalami Tuhan lebih intim dan mengekspresikannya dengan bahasa cinta mereka sendiri yang diterjemahkan melalui lirik dan lagu-lagu spontan yang ditaruhkan dalam hati mereka. Juga untuk membuktikan kepada dunia bahwa pemusik yang mengandalkan Tuhan bisa mendapat ‘takdir Illahi’ Allah sehingga mengubah persepsi masyarakat bahwa musisi tidak identik dengan kehidupan hingar-bingar, terjerat narkoba dan seks bebas. Itulah yang menjadi alasan terbentuknya PropheSee! pada bulan November 2007.

      Album perdana mereka sengaja diberi nama ‘Identity’ karena bertujuan untuk menyatakan hubungan timbal balik antara anak-anak rohani dengan bapa rohani, sehingga menghasilkan nilai-nilai dan identitas Illahi yang kuat, karena hal inilah yang dibutuhkan generasi ini dan generasi berikutnya untuk menerima masa depan dan ‘takdir’ (destiny) yang besar dan benar yang telah dirancangkan oleh Tuhan. Oleh karena itu album ini menampilkan berbagai tingkatan jati diri atau identitas yang seharusnya dimiliki para putra Allah dengan tujuan menyampaikan kegerakan Roh Kudus di akhir zaman, memberi semangat, melepaskan berkat, membagi kasih, menebar pengharapan akan masa depan yang gemilang atas setiap orang, untuk membangun masyarakat Mesianik di masa kini, demikian tujuan diluncurkannya album ini.

ALBUM TIGA BAHASA

     Pembuatan album yang dimulai dari akhir tahun 2007 sampai dengan bulan Maret 2008 ini menampilkan album mereka dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. Selain untuk memperkaya warna dunia musik rohani tanah air dan juga internasional, album ini juga dibuat untuk menjadi garam dan terang bagi dunia media hiburan, dalam usaha menampilkan inspirasi, kreasi, serta produktivitas.

     Album yang berisi 9 lagu ini semuanya diaransemen oleh PropheSee! sendiri, 8 lagu murni karangan mereka dan 1 lagu adalah ‘public domain’ atau lagu yang sudah dikenal orang. Album ini sudah bisa didengar oleh kita semua sejak bulan April 2009. Tim yang terinspirasi oleh Rick Pino, Israel Houghton, Misty Edwards dan Theressa Griffith ini juga pernah melayani Tuhan di Jakarta Convention Center, tepatnya pada acara Prophetic Conference, bulan Juli 2008 lalu.

EKSPRESI CINTA TANPA BATAS

     Berangkat dari kerinduan mereka akan nubuatan seorang hamba Tuhan, Cindy Jacobs, album ini tercipta, dimana beliau berkata, “You heard last night about the music, the worship from Indonesia would be sung around the world. So, therefore, prepare yourself. I expect there to be a large propotion of musicians among the prayer movement. Because this is part of the prophetic word”. Yang tercantum di website generals.org tertanggal 1 Mei 2003 lalu.

     Album ‘Identity’ menampilkan ekspresi cinta tanpa batas antara Tuhan Yesus Kristus dan tubuhNya, yang dilantunkan melalui lirik dan nada-nada profetik. Dengan tujuan agar generasi masa depan akan menjadi lebih baik karena dibangun di atas dasar karakter dan mental yang benar sesuai firman Allah dan pimpinan Roh Kudus. Karena itu album ini bukan hanya ditujukan bagi kalangan Kristen saja, atau generasi muda saja, tapi juga bagi semua orang di seluruh dunia.

     Disinggung mengenai maraknya pembajakan karya seni di Indonesia, merekapun berkomentar panjang lebar, “Kami sangat prihatin terhadap pembajakan namun itu tidak bisa dihindari. Salah satu harapan kami adalah setiap musisi tetap menghidupi idealismenya tanpa harus takut atau menyerah dengan keadaan ini, tetap menciptakan musik berkualitas dan menampilkan produknya secara kreatif sehingga hasil karyanya dihargai masyarakat”, tutur mereka kepada PRAISE.

     Tim PropheSee! ini bernaung di bawah tubuh Kristus GBI ROCK Nusa Dua, digembalakan oleh Pdt. Anastasia Darmawan sebagai ibu rohani atau pembina yang sehari-hari dipanggil Mom Anas. Beliau selalu membantu untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara mengembangkan komunikasi yang baik, sehingga kekompakan tetap terjaga. Karena bagi mereka kesatuan sangat penting dalam suatu komunitas. Saat dimintai tanggapannya mengenai keberadaan majalah PRAISE, merekapun memaparkan komentar singkat, “Kami sangat mendukung eksistensi majalah PRAISE yang berkonsentrasi pada dunia musik rohani dan perkembangannya. Diharapkan majalah ini bisa menampilkan berita yang lebih berkualitas tentang perkembangan musik rohani dan kegerakan Tuhan melalui musik”. (Gat-Bali / Min / Praise #6 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus