Petra Sihombing

Petra Sihombing

Published On Desember, 19 2012 | By Vido Fransisco Pardede

JADI MESSEGER TUHAN

AKTIF SEJAK KECIL

            Akhir-akhit ini nama Petra Sihombing kerap disebut-sebut di berbagai media hiburan Tanah Air. Bagi kalangan Kristiani, nama Petra Sihombing bukan nama yang asing lagi. Anak dari musisi Franky Sihombing ini sudah pasti mewarisi bakat musik Ayahnya. Sejak masih berumur 7 tahun, Petra sudah mulai aktif bermain drum, ia pun terus mengasah bakat musiknya di Lembaga Musik Farabi. Tak mau tanggung-tanggung, Petra semakin mengasah bakat musiknya dengan mengambil jurusan Major gitar dan minor piano di Institut Musik Daya Indonesia (IMDI).

            Karena sejak kecil Petra bergaul dengan musik, jadi cita-cita hidupnya pun tak pernah jauh-jauh juga dari dunia musik, yaitu ingin jadi produser musik. Baginya musik mempunyai arti yang sangat penting,”Musik itu makanan gw tiap hari. Tapi kalau nanya artinya, buat gw music is one of the ways to convey positive messages to people,” ujar cowok bernama lengkap Petra Joshua Sihombing.

DIDUKUNG KELUARGA

            Kehadiran Petra di dunia musik bukan hasil dari domplengan nama besar Franky Sihombing yang sudah dikenal di industri musik rohani, tapi ini murni hasil kerja kerasnya selama ini. Saat berumur 13 tahun, Petra mencoba iseng-iseng membuat lagu, merekam sendiri lalu meminta sang Papa untuk mendengar dan menilainya. Franky pun sangat mendukung bakat musik Petra. Mulai saat itulah Petra terus mengasah bakatnya dengan mencoba menghasilkan ide-ide kreatif.

            Singkatnya, pada umur 15 tahun, Petra sudah membuat album sendiri. Semua lagu ia ciptakan sendiri. Lalu mulailah ia berjuang untuk mengirimkan albumnya ke berbagai perusahaan rekaman, tapi rupanya ia masih harus sabar menanti pertolongan Tuhan, karena meski memiliki bakat musik dan nama besar sang Papa, tidaklah menjamin ia bisa dengan mudah menembus industri musik negeri ini. “Gw coba masukin ke major label dan semua ditolak mentah-mentah. Gw sempet putus asa banget dan males untuk coba bikin lagu lagi, karena sama aja, karya gw selama 2 tahun itu sia-sia, kebuang gitu aja. Tapi keluarga gw dan teman-teman sangat supportif. Akhirnya gw memutuskan untuk bangkit dan bikin ulang albumnya. Tapi karena membuat album itu nggak murah, keluarga gw sampe jual mobil untuk buat album itu. Akhirnya album gw jadi tahun 2009 dan masih berjalan sampe sekarang,” tutur cowok kelahiran Jakarta 10 April 1992 ini.

ANTI NIMBRUNG NAMA

            Meskipun sejak kecil Petra pernah ikut memberi kontribusi di album Franky dan juga kerap ikut meramaikan konser atau berbagai acara bersama Franky, toh hal ini tak membuatnya ingin mendompleng karir dari nama besar Ayahnya.

            Menyandang nama dari sang Papa, tidak membuat Petra tidak membuatnya mudah meraih mimpi-mimpinya. Tapi iapun memiliki rasa kebanggaan tersendiri atas dedikasi Ayahnya di dunia musik. “Bangga pastinya. Tapi gw tipe orang yang nggak  mau nimbrung sama nama bokap. Gw pengen orang tau Petra aja, bukan Petra si anaknya Franky. Gw mau kerja keras, merangkak dari bawah, biarpun susah tapi gw mending susah naik daripada gw dikenal sebagai musisi yang cuma nimbrung nama.”

INGIN JADI GARAM DUNIA

            Kalau Franky tetap memilih jalur musik rohani sebagai wadah untuk mendedikasikan bakatnya, lain lagi dengan Petra. Petra memilih industri musik sekuler sebagai tempat untuk berkarya. “Menurut gw sama aja ya dunia musik rohani dan dunia musik sekuler. Harusnya ya musik ya musik aja, jangan ada pemisah antara rohani dengan sekuler. Gw percaya dengan pengertian menjadi garam dunia. Gw seneng kalau semua orang bisa denger dan semua bisa diberkati dengan lagu gw. Semua lagu yang ada di album ini mempunyai message positif, dan gw percaya setiap lagu gw inspirasinya itu dateng dari Tuhan. Gw cuma jadi messengernya Tuhan aja,” jelas penggemar John Mayer dan Steven Curtis ini.

            Jika ranah hiburan termasuk dunia yang rawan akan godaan, tentunya hal ini sangat disadari oleh Petra, karena itu ia sudah mempunyai landasan sendiri untuk berpijak. “Gw orangnya nyantai, tapi yang pasti harus kuat iman dan tahan godaan. Banyak yang aneh-aneh di dunia hiburan dan gw nggak akan munafik dengan bilang gw nggak akan jatuh dalam godaan. Tapi gw selalu mencoba untuk nggak melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Kenyataannya bisa kok, cuma harus memilih teman dan pergaulan yang bener dan berani bilang nggak,” katanya.

DAPAT LAGU DARI PANGALAMAN

            Album bertema self titled ini murni menyajikan semua hasil karya Petra, di sinilah ia semakin merasakan pertolongan Tuhan, karena semua lagu yang ia ciptakan berdasarkan pengalaman yang dialaminya sendiri. “Waktu album gw udah jadi dan nggak diterima label-label gw sempet bertanya-tanya dan putus asa sampe akhirnya gw disadarkan Tuhan kalo gw cuma harus berserah aja sama Dia. Tuhan bilang nggak semua yang gw mau harus didapatkan pada waktu yang gw mau. Dari pengalaman itu gw dapet inspirasi lagu yang judulnya ‘Take Me With You’ yang ada di album gw.”

    Gaya hidup para pekerja seni tak seperti para pekerja formal lain, yang sudah mempunyai standar waktu sendiri. Hal inilah yang membuat Petra harus pandai-pandai membagi waktu antara pendidikan dan karirnya, tapi tidak lupa juga memberi waktu untuk Tuhan. “Setiap bangun pagi doa dan baca renungan yang dikirim ke HP gw. Jadi tiap matiin alarm HP pas bangun langsung baca itu dan doa,” jelas anak pertama dari tiga bersaudara ini.

MUJIZAT SETIAP HARI

    Meski sering tampil di atas panggung, Petra mengaku bisa panik juga jika harus tampil bersama orang-orang yang sudah sangat dikenal publik. Tapi toh Tuhan tetap memberikannya mujizat dalam hidupnya. “Kira-kira dua minggu setelah rilis album, tiba-tiba ada undangan nyanyi di salah satu stasiun tv besar, yang bikin kaget, gw dibuatin trio sama dua solois lain yang namanya lagi naik daun. Gw sempet panik, seneng dan bangga bisa dikasih kesempatan itu. Gw percaya banget itu rencana Tuhan, karena kalau bukan Dia, gw ngak mungkin bisa ada di sana,” terang penyanyi yang gabung di GMB Community ini.

            Dari semua yang dialami dalam hidupnya, ia patut bersyukur karena Tuhan sudah membawanya mencapai mimpinya. Untuk itulah ia rindu agar lebih bisa merasakan Tuhan dalam hidupnya. “Gw dan keluarga gw ngalamin Tuhan setiap hari. Keluarga gw sederhana banget, dari dulu kita ngontrak rumah dan setiap dua tahun pindah, duit juga dari dulu pas-pasan. Tapi yang gilanya, kita tetep bisa seneng-seneng, jalan-jalan sekeluarga biarpun di bank lagi nggak ada simpanan. Tuhan selalu kasih berkat di waktu yang tepat. Buat gw itu mujzat banget, mujizat tiap hari malah hahaha…,” katanya sambil tertawa. (min / Praise #14 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus