PENELUSURAN PERKEMBANGAN DAN PERANAN MUSIK GEREJA  DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PERKEMBANGAN GEREJA

PENELUSURAN PERKEMBANGAN DAN PERANAN MUSIK GEREJA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PERKEMBANGAN GEREJA

Published On Desember, 12 2012 | By Yusak

Artikel ditulis oleh Ester Gunawan Nasrani

PENGANTAR

Erik Routley menulis  sesuatu  yang menarik didalam bukunya Twentieth Century Church Music “Musik Gereja telah mendapat perhatian yang serius dibanding dengan jenis musik yang lain, karena terbukti bahwa para komposer musik gereja yang menuliskan karya-karya untuk gereja adalah musikus yang hebat dan mempunyai kreativitas dan imajinasi yang luar biasa.  Di samping itu juga masa dimulainya suatu musik (sesudah abad ke 16 merupakan masa konflik ) yang mencoba melepaskan diri dari kekangan biara dan memulai suatu usaha untuk menunjukkan jati dirinya sehingga dapat eksis bersama dengan seni yang lain.”  Pernyataan ini telah memberikan suatu gambaran bahwa musik gereja telah melalui berbagai macam ujian untuk eksis di dunia.  Dan perjalanan yang panjang ini membuktikan bahwa eksistensi Musik Gereja itu berkaitan dengan perjalanan Gereja dan tidak dapat dipisahkan dengan gereja.  Keterikatannya dengan Gereja yang terutama adalah  perannya dalam liturgi yang dengan kalimat yang gamblang adalah fungsi dan tujuannya dalam ibadah Gereja.  Itulah sebabnya Dr. Donald J. Hustad dalam bukunya Jubilate mengungkapkan bahwa Musik Gereja adalah Musik Fungsional (Functional Music).  Dalam hal ini berarti tidak ada musik gereja yang netral, karena mempunyai visi dan misi yang jelas terlihat melalui fungsi dan tujuannya.  Juga pernyataan ini juga membuktikan tidak ada musik yang netral dalam dunia ini.  Setiap musik yang ditulis secara sadar atau tidak mempunyai tujuan dan fungsi.

Oleh sebab itu artikel ini ditulis dengan lebih memperhatikan fungsi musik dalam ibadah yang dipengaruhi oleh budaya, sejarah Gereja, sejarah musik dll.  Tentu saja akan dibahas secara singkat tentang hubungannya dengan Alkitab yang memberikan gambaran singkat tentang Peran Allah sebagai Pencipta musik dan hubungannya dengan musik, sehingga memberikan penjelasan betapa pentingnya musik itu bagi Allah dan bagi kita.

Selanjutnya dengan tidak mengurangi arti dan peran sejarah dan budaya harus juga di bicarakan tentang budaya awal yang mempengaruhi perjalanan musik, yaitu dari budaya Israel kuno dan kemudian pada masa Perjanjian Baru harus menelusuri budaya Yunani yang dominan diseluruh kerajaan Romawi hinga masa ini.  Hal inilah yang membuat sejarah musik gereja sangat kompleks dan kadang2 sulit untuk dipahami serta unik.

ASAL-USUL   MUSIK

Bagi Bangsa Israel dan juga bagi bangsa2 yang lain  musik adalah bagian yang vital baik pada masa lalu maupun pada masa sekarang.  Karena ia adalah sarana untuk mengkomunikasikan perintah, mewadahi upacara ritual dan keagamaan, dan juga sebagai alat penghibur.  Berdasarkan penemuan benda2 kuno dan teks2 kuno terungkap bahwa musik Bangsa Israel kuno/ Palestina dan sekitar Asia Timur menyatu hampir di seluruh aspek kehidupan masyarakatnya.  Pengorbanan, perayaan kemenangan, dan aktivitas nubuatan merupakan beberapa contoh yang menunjukkan peranan musik di dalamnya. Sehubungan dengan asal usul musik semua bapak gereja maupun para ahli teologia setuju bahwa musik merupakan anugerah Allah kepada manusia.  Namun bagi  orang yang memegang keyakinan secara alegory, berdasarkan Yehezkiel 28:11-19 percaya bahwa yang dibicarakan pada bagian ini adalah tentang Lucifer yang merupakan direktur musik yang ingin memberontak kepada Alah,  sehingga musik masuk ke dunia dan mempengaruhi musik yang bersifat kudus menjadi musik yang profane. Namun apapun yang diyakini oleh setiap orang, orang kristen percaya bahwa musik berasal dari Allah.

Bila membicarakan asal-usul musik semua bangsa kuno percaya bahwa musik itu berasal dari dewa-dewa.   Bahkan istilah  ‘Musik’ berasal dari  nama 9 dewi mitologi Yunani yang menguasai 9 cabang seni, termasuk musik.  Karena musik berasal dari para dewa, maka bangsa-bangsa kuno percaya bahwa musik mempunyai kuasa atau kekuatan supranatural jika dimainkan atau didengarkan. Hal ini juga dibuktikan oleh Alkitab. Sebagai contohnya adalah kisah Daud yang menyembuhkan Saul dari gangguan iblis dengan permainan kecapinya  (I Samuel 16:14-23). Berdasarkan keyakinan ini bangsa kuno percaya bahwa mereka yang mempunyai kemampuan untuk memainkan musik dianggap setengah dewa atau mempunyai hubungan yang dekat dengan para dewa, sehingga mereka mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat.

 

MUSIK DALAM PERJANJIAN LAMA

Istilah  nyanyian, menyanyi dan musik dalam Perjanjian Lama dipergunakan untuk menjelaskan nyanyian yang dipergunakan untuk memuji Alah, dalam suasana yang penuh dengan kekhidmatan dan hidup, nyanyian yang dipersembahkan kepada Allah dengan penuh perasaan,  nyanyian yang merupakan bau-bauan yang harum bagi Alah.  Dalam hal ini fungsi musik dalam Perjanjian Lama adalah musik ibadah.  Karena fungsinya yang lebih dominan dalam ibadah, maka ia harus dilakukan dengan benar, tidak sembarangan, dan harus dipisahkan atau dibedakan dari musik dunia/sekuler dan pemujaan dewa atau kultus individu.  Bahkan ada beberapa referensi dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa ada musik yang baik dan ada musik yang berbahaya.  Sebagai contoh musik yang tidak baik dapat dibaca dalam kitab Ayub 30:8-10 ketika Ayub menjawab pernyataan Bildad bahwa tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Tuhan :”  ...  Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka ...”   Pernyataan ini memberi bukti bahwa musik dapat dipakai untuk hal-hal yang buruk.

Contoh musik yang baik dapat dilihat melalui pengalaman nabi Elisa dalam II Raja-Raja 3:15-16  yang memperlihatkan pengaruh spiritual musik dan pengaruhnya bagi para pendengarnya : ”Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi.  Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan Tuhan meliputi dia .... “ Melalui musik yang dimainkan oleh pemain kecapi, yang merupakan alat komunikasi, Elisa telah dimampukan oleh Allah untuk menolong Raja Yosafat.

Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa musik juga berperan dalam kehidupan masyarakat, dimana dalam perayaan yang bersifat keagamaan maupun di luar itu musik juga sangat berperan. Karena tidak ada perayaan atau pesta yang tidak menggunakan musik.

Sebagaimana bahasa, musik juga merupakan bentuk komunikasi yang penting. Alkitab dalam bahasa Ibrani ditulis dalam bentuk nyanyian yang diilhami oleh Roh Kudus mempunyai prinsip komposisi musik yang dapat dilihat melalui struktur metriknya. Maksud dari bentuk metrik ini adalah untuk dinyanyikan seperti juga Mazmur dengan diiringi oleh alat musik petik semacam harpa. Karena banyak ahli teologia yang percaya bahwa seluruh Alkitab dalam bahasa Ibrani dapat dibaca dengan dinyanyikan. Berdasarkan pemikiran bahwa Alkitab Ibrani ditulis dan dirangkai berdasarkan suatu struktur musikal banyak ahli arkeologi yang melakukan penyelidikan dan menemukan suatu sistem penulisan musik Ibrani, yang disebut  sistem 19 graphemes (19 bunyi).

Menurut Suzanne Haik-Vantoura  salah seorang yang dengan gigih menyelidiki sistem ini digunaan sebagai bunyi musikal lebih dari 5000 ayat Perjanjian Lama.   

 Gambar di bawah ini adalah contoh bagaimana menggunakan sistem bunyi tersebut. Bagian bawah adalah sistem 19 graphemes yang diyakini sebagai notasi dari ayat ini

Melalui suatu research yang mendalam ditemukan bahwa Melodi dan struktur Metrik dari Alkitab Ibrani meneguhkan pendapat adanya inti kesatuan dalam setiap buku yang terdapat dalam Alkitab.  Sistem bunyi inilah yang mengikat seluruh buku dalam Alkitab menjadi suatu kesatuan yang utuh.

Meskipun sistem notasinya sudah ditemukan namun cara membunyikannya yang benar masih dalam penyelidikan.  Ada kemungkinan mirip dengan nyanyian atau musik dari beberapa suku terasing yang terdapat di daerah Afrika dan Asia.

Mazmur yang disebut sebagai Biblical Psalms dinyanyian setiap hari di Bait Allah. Cara lain untuk menyanyikan dan memainkan musik adalah dengan Responsorial Chant;  dimana para pemimpin Lewi menyanyikan (chanting) mazmur dengan iringan berbagai instrumen musik, menyanyikan satu baris dan jemaat akan menyambung dengan menyanyikan ayat selanjutnya dan seterusnya.  Cara lain  adalah bait mazmur dinyanyikan /chant oleh satu orang dari mimbar dan sebagai respon jemaat menyanyikan bagian refrainnya.

Jelas sekali bahwa musik dalam Perjanjian Lama mempunyai peran penting bagi kehidupan keagamaan orang Israel  dan fungsinya adalah untuk mengagungkan Allah dan berkomunikasi baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia. (PRAISE #2).

Sumber : www.majalahpraise.com

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus