Pdt. Erastus Sabdono

Pdt. Erastus Sabdono

Published On Desember, 10 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Pendeta MultiTalent

Ciptakan Ratusan Lagu

            Produktif. Itulah salah satu kata sifat yang menggambarkan diri Pdt. Erastus Sabdono, M.Th. Pendeta yang lahir di Surakarta 1959 ini, telah menulis sekitar 130-an lagu rohani diantaranya adalah : ’Suka-SukaMu Tuhan’, ‘Engkaulah Perlindunganku’, ‘Pulihkan Aku Tuhan’, ‘Tarik Aku’, ‘Betapa Kubersyukur’, dll.

            Lagu-lagu yang ‘didapat’ kebanyakan secara otomatis keluar dari ketidaksengajaan. “Ketika saya sedang menyembah, berdoa, sedang dalam perjalanan atau ketika sedang dalam masalah biasanya Tuhan suka berikan inspirasi untuk menulis lagu. Dan lagu itu biasa selesai dalam waktu 5-20 menit,” ujar suami dari Suharni Liberty Tjhia itu. Selama berkecimpung di dunia musik rohani, Pendeta Erastus Sabdono sudah menelurkan puluhan album, antara lain ’12 Hits Pujian Penyembahan (2000)’, ‘Suka-SukaMu Tuhan (2004), ‘Inspirational Truth (2004)’, ‘Memandu Di Hadirat Tuhan (2004-2007)’, ‘Unforgottable Gospel Songs (2006)’ dan masih banyak lagi.

            Pendeta yang lahir dan bertumbuh di keluarga Kristen yang suka musik ini memiliki darah musik dari sang papa. Dan kini beliau juga menurunkan bakat musik itu pada putra-putrinya yaitu Stephen Erastus yang jago main drum dan Stephanie Erastus yang sudah membuat album rohani.

            Tak hanya menciptakan ratusan lagu, beliau juga sudah menulis banyak buku. Salah satu judul buku terbaru yang dibuatnya adalah ‘Bolehkah Ingin Kaya?’. Ini membuktikan bahwa ia adalah salah satu hamba Tuhan yang multi talent.

            Tak hanya itu saja Pendeta yang pernah menjadi dosen dan rector di Institut Teologia dan Kejuruan Indonesia (ITKI), Jakarta ini juga menggeluti beberapa bisnis, antara lain Sola Gracia Record dan Precision Printing.

Aktivitas yang Padat

            Selain menjadi gembala sidang di Rehobot Ministry Jakarta, beliau juga sering menjadi pembicara di berbagai seminar, KKR, TV dan radio. Serta membagikan kebenaran melalui renungan harian dan majalah Truth.

            Dengan kegiatan yang demikian padat tentunya beliau harus pandai membagi waktu antara pelayanan, pekerjaan dan keluarganya. “Dalam hal ini saya harus dapat membagi waktu secara bijak, bagi saya, Tuhan adalah prioritas yang utama. Dalam hal ini yang pertama, kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya adalah Tuhan. Menempatkan Tuhan dalam segala hal,” ungkap Pendeta yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari American Christian College tahun 2005.

            Ternyata aktivitas yang demikian padat tak membuat pendeta yang gemar membaca ini tidak mempersiapkan diri saat akan berkhotbah. “Khotbah itu gampang. Tidak sulit. Yang sulit adalah bagaimana kita mewarnai khotbah itu setiap hari. Karena khotbah itu sebenarnya adalah kehidupan kita selama 24 jam setiap hari. Bukan sekedar bicara di mimbar, mimbar adalah representasi dari kehidupan kita,” urai Pendeta yang pernah mengajar homeltik atau ilmu berkhotbah dan etika Kristen di Seminari Bethel Petamburan.

Menyediakan Waktu Untuk Keluarga

            Dengan jadwal pelayanan yang padat sekaligus menggembalakan ribuan jemaat dengan berbagai cabang gereja tidak membuatnya mengabaikan keluarga. “Meskipun sibuk, papa selalu menyediakan waktu buat keluarganya, walau harus pergi pagi dan pulang hingga larut malam, papa tetap memperhatikan kita. Saya bangga sama papa,” komentar Stephen Erastus anaknya yang sulung.

            Talenta yang Tuhan berikan padanya khususnya di bidang musik mengajarkannya untuk selalu menyembah Tuhan dalam kebenaran. “Seorang penyembah sejati adalah seorang yang mengenal Tuhan dengan benar sehingga dapat memberi nilai tinggi kepada Tuhan dan pasti mengabdikan hidupnya serta melayani Tuhan sepenuh hatinya,” kata Pendeta yang mulai mengambil keputusan untuk melayani Tuhan pada tahun 1976 itu.

            Bagi hamba Tuhan ini, menyembah Tuhan bukan hanya secara liturgi, fluktuasi nada, syair lagu atau sikap tubuh yang biasa kita lakukan seperti mengangkat tangan dan bertepuk tangan. “Menyembah Tuhan adalah sikap hati. Seberapa dalam kita memberi hidup dan hati kita, dimana ketika kita mengenal Dia dan melihat kemuliaan Tuhan, semua yang berharga menjadi pudar,” jelasnya kepada PRAISE disela-sela kegiatan di Panin Bank, Sudirman, Jakarta Selatan.

            Baginya musik sangat memberi pengaruh dalam kehidupan semua orang. Orang Kristen yang memiliki kedalaman penyembahan, musik tidak memberi pengaruh untuk menyembah Tuhan, tanpa musik kita juga bisa menyembah. Tapi musik juga mempunyai pengaruh secara jiwani. “Misalnya ketika seseorang menyanyi lagu ‘Ruang Maha Kudus’, akan membuat orang menjadi melo (red: melankolis) dan menyentuh hati bahkan menangis. Tapi belum tentu ia menyembah secara tulus karena bisa saja itu hanya manipulasi dan pengaruh dari nada lagu itu,” ujar pengagum tokoh Alkitab Yusuf dan Daud itu. (min / Praise #7 /2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus