Overcome

Overcome

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Rindu Dikenal Di Dunia Sekuler

OVERCOME adalah band yang terdiri dari 3 personil di antaranya, Fakano sebagai vokalis, Mia sebagai keyboardis dan Andi sebagai gitaris.

MUNCULNYA NAMA OVERCOME

     Dinamakannya Overcome merupakan sebuah status yang artinya melewati segala sesuatu yang dapat menghalangi eksistensi band ini. Semua personil Overcome menganggap nama adalah suatu symbol yang memiliki makna. Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya band ini mendapatkan nama yang ‘sreg’ dan enak didengar, yakni Overcome yang dicetuskan langsung oleh 2 personilnya, yakni Fakano dan Andi. Diharapkan, band ini juga dapat menjadi Overcomer (keluar menjadi pemenang-red).

     Pada Januari 2008, “Overcome” memulai rekaman setelah Mia, bergabung secara resmi pada Desember di tahun sebelumnya. Setelah itu, album perdana mereka pun keluar pada awal November 2008. Di album itu ada 11 lagu dan 10 lagu merupakan hasil ciptaan mereka sendiri. Hanya 1 lagu yang bukan diciptakan oleh mereka, yakni “How Great Is Our God” yang diciptakan oleh Chris Tomlin.

TERINSPIRASI SWITCHFOOT

     Saat ditanya mengenai aliran musik, mereka menjawab ”bisa dibilang aliran musik kami adalah alternative pop rock, yang jarang ada pada band-band umumnya. By the way, siapa sih yang jadi inspirasi kalian??? “Jujur aja, kita terinspirasi oleh Switchfoot”, tutur Fakano Sang vokalis saat wawancara di kantor PRAISE.

     Overcome mau menjadi band yang dikenal di dunia sekuler, bukan hanya Kristen saja. Terinspirasi dengan cara Switchfoot yang menyampaikan ke audience penggabungan dua unsur rohani dan sekuler (dipasarkan di dunia sekuler dengan memasukkan nilai-nilai Kerajaan Allah), sehingga lebih diterima di kalangan umum, tanpa harus menghilangkan identitas mereka sebagai anak Kristus. Di sinilah, mereka juga rindu setiap orang yang mendengarkan musik mereka bisa diberkati dan mengambil nilai-nilai positif dari lagu mereka.

KERINDUAN & IMPIAN KE DEPAN

     Mazmur 40:4  “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan”. Ayat inilah yang menjadi visi dan dasar panggilan mereka. 

     Sebagai tindak lanjutnya, mereka menjangkau jiwa-jiwa mulai dari satu, dua jiwa dan seterusnya melalui lagu-lagu mereka. Ke depannya, mereka berharap dapat menembus ke dunia sekuler dan bukan hanya melayani di gereja saja. Misi mereka pun kini mulai terlihat hasilnya. ”Pernah saya mendapatkan sebuah sms bahwa lagu “Satu Yang Setia” mampu memberkati seseorang di saat sedang sendiri, sehingga bisa merasakan hadirat Tuhan dan tahu bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang setia”, ujar Mia yang masih kuliah di JIBES.
“Bahkan, saya pernah disapa orang, bersalaman, dan dia begitu diberkati dengan lagu itu hingga mengucurkan air mata. Ini merupakan blessing tersendiri bagi kami” tambah Fakano.

     Penasaran nggak sih, selama ini mereka sudah pernah keliling ngeband kemana saja? Memang, mereka masih new comer (pendatang baru) di dunia musik, pengalaman mereka pun belum banyak. Tapi, sebelum band ini terbentuk, ternyata secara pribadi mereka sudah aktif pelayanan di gereja. Dan, mereka sudah punya jadwal pelayanan yang sangat padat sekarang setelah album mereka keluar.

     “Ini bukan tempat kita nyari uang, kita hanya orang-orang biasa yang mempunyai Tuhan yang luar biasa. Kita menganggap ini sebagai suatu pelayanan dan kami ingin melakukannya secara maksimal, itu saja. Impian kami adalah mudah-mudahan kami dapat membuat terobosan baru dalam dunia musik Indonesia. Kami berharap bisa mendobrak pandangan bahwa ‘worship’ bukan sesuatu yang dinyanyiin di gereja saja, tapi worship itu adalah lifestyle (red: gaya hidup) kita. Berharap juga, Overcome bisa menembus pasar luar (red: luar negeri), makanya lagu kita ada yang berbahasa Inggris. Siapa tahu ada orang di luar sana yang mendengar lagu kami, bisa diberkati dan orang yang belum mengenal Yesus bisa mengenal-Nya”, jelas Fakano menguraikan kerinduan dan impiannya ke depan.

OVERCOME BERANI TAMPIL BEDA

     Ketika ditanya design covernya yang unik, Overcome menjawab “Disitu ceritanya siapapun orangnya bisa membeli album kita dan duduk di bangku sambil menyetel boombox, dengerin lagu dengan menggunakan headset dan dengerin aja dengan relax, sebenarnya simple aja sih..”, cerita Mia. “Kembali ke konsep awal, bahwa kita pengen buat sesuatu yang beda dari yang lain, biasanya cover band dengan gambar orang atau foto, tetapi di sini kita menggunakan gambar taman karena kita kembali ke konsep basic saat Tuhan menciptakan Taman Eden…” Fakano melengkapinya saat ditanya tentang konsep taman yang ada di design covernya.

     Yang membuat beda dengan band yang lain bukan hanya itu. “Yang pasti kita beda, sound-sound di album kita ini kita pilih sendiri. Apalagi, dengan musik Indonesia, kita terdengar lebih ‘crunchy’, dan aliran alternative rock juga jarang banget di Indonesia, terutama di dunia musik rohani”, jelas Fakano lagi.

     Meski banyak kegiatan masing-masing tapi mereka tetap ada waktu buat latihan. Kita selalu berusaha memberi warna yang berbeda pada saat latihan dan saat performance. Di panggung waktu tampil pun kita berusaha banyak berimprovisasi, tidak hanya sekedar tampil saja. ”Kita selalu pengen tampil beda… Pasti ada sedikit perenungan, jadi nggak hanya sekedar nyanyi”, jelas mereka. Karena mau memberikan sesuatu yang berbeda sampai-sampai mereka pernah contohnya FREEZE (berdiam, tak bergerak) selama 1 menit di tengah lagu yang mereka bawakan saat berada di panggung di salah satu penampilan mereka.

     Kebanyakan band kesulitan dalam mencari studio rekaman yang sesuai untuk memproduksi suara mereka menjadi ke bentuk album. Namun, bagi Overcome, merupakan kasih karunia tersendiri karena diberi kesempatan masuk ke dapur rekaman di bawah label Bahana Trinity. Dengan label ini, maka jadwal pelayanan pun juga ada yang dibantu oleh pihak Bahana. Dengan adanya label ini pula, mereka mengaku tidak akan terjadi stag karena lebih baik memperluas produksi daripada berjalan di jalur indie. (Ind/Vin/YIS / Praise #4 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus