NATAL

NATAL

Published On Desember, 10 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Apakah Yesus lahir di bulan Desember?

          Kita dapat gambaran kapan Natal pertama dari injil Lukas 2:8 yang menjelaskan : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang  tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Tidak mungkin para gembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember, karena musim salju dan hawanya sangat dingin (bnd Kidung 2:11 ; Ezra 10:9 & 13). Biasanya mereka menggiring kawanan domba ke padang setelah hari raya Paskah sampai hujan pertama atau salju tipis (di awal Oktober). Ini berarti Natal (menurut kalender Yahudi) terjadi di awal April sampai awal Oktober. Karena di bulan Desember (musim dingin), gembala-gembala di Betlehem meninggalkan padang Yudea. Mereka biasanya berlindung di dalam gua-gua (grotto), yang banyak terdapat di sekitar Betlehem. Jadi tidak mungkin Yesus lahir di bulan Desember.
          Untuk jelasnya di Injil Lukas 1:5 dicatat bahwa Zakaria, suami Elisabet, kakak ipar Maria ibu Yesus, menjadi imam dari rombongan Abia. Menurut Kitab I Tawarikh 24:10, rombongan Abia mendapat urutan ke-8 dalam tugas di bait suci. Tiap rombongan bertugas rutin satu minggu dua kali dalam setahun. Jadwal tugas imam ditetapkan menurut kalender keagamaan, yang dimulai dengan bulan Nisan (yaitu pertengahan bulan Maret). Jadi Zakaria bertugas pada pertengahan Mei. Tetapi karena hari raya Pentakosta (Shavout) jatuh pada akhir Mei dan semua imam diminta bertugas bersama, Zakaria harus menetap di bait suci untuk tambahan 2 minggu. Akibatnya ia baru pulang ke rumah dan menemui istrinya pada awal minggu ke-2 bulan Juni.

Elisabeth mulai mengandung pada pertengahan Juni (Lukas 1:24). Pada saat Elisabeth mengandung 6 bulan, malaikat Gabriel datang kepada Maria, yaitu pertengahan Desember. Maria mulai mengandung saat itu (Lukas 1:36), walaupun Yesus di kandung dari Roh Kudus (Lukas 1:35). Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober, dan pada saat itulah orang Yahudi merayakan hari raya Tabernakel (Sukot, salah satu dari tujuh hari raya orang Yahudi).
          Hari raya Tabernakel setiap tahun pada tanggal 15 bulan Tishri dan dirayakan selama 1 minggu. Ini berarti menurut ketentuan Taurat tanggal kelahiran Yeshua Hamasiah (Yesus Kristus) jatuh pada tanggal 15 bulan Tishri (menurut kalender Yahudi). Menurut kalender internasional (Gregorian) pada tahun 1998, tanggal 15 bulan Tishri jatuh pada 5 oktober; sedangkan pada tahun 1999 jatuh pada 25 September; pada tahun 2000 jatuh pada 14 Oktober; sedangkan pada tahun 2001 jatuh pada 2 Oktober. Prinsipnya sulit menetapkan tanggal yang pasti, karena perhitungan kalender Yahudi berbeda dengan kalender internasional. Jika ingin tepat mungkin diperlukan kalender sendiri untuk Natal (seperti kalender Jawa, Cina, Arab, dsb).

Penetapan 25 Desember sebagai Natal

Natal atau Christmas berasal dari kata Christ’s Mass yang berarti Misa Kristus. Natal pertama kali dirayakan di Roma tahun 336 AD. Setelah kaisar Roma yang bernama Konstantin (285-337 AD) menyatakan diri menjadi pemeluk agama Nasrani, sudah menjadi tradisi setiap tanggal 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Roman Saturlina (suatu perayaan untuk menghormati Saturn, dewa pertanian dan pembaharuan kuasa matahari), untuk menyambut kembalinya matahari di belahan bumi utara setelah mencapai garis balik selatan. Ketika siang hari menjadi lebih panjang, dewa matahari dianggap telah lahir kembali dan mereka bergembira sambil tukar-menukar hadiah. Kemudian tanggal 25 Desember tersebut diperingati sebagai Natal, karena Yesus dianggap “Matahari” yang menerangi dunia.
            Ketetapan untuk menjadikan 25 Desember menjadi hari raya Natal dilakukan oleh Paus Julius I, pada pertengahan abad ke-4 di kota Roma. Ketetapan tersebut tidak dapat diterima oleh gereja-gereja di Yerusalem yang menolaknya sampai abad ke-6. Walaupun demikian, 25 Desember sudah menjadi budaya bagi umat Kristiani untuk merayakan kelahiran Yesus, sampai sekarang.
            Ada gereja yang merayakan Natal dengan berbagai tujuan. Memang ada yang berlebihan sampai kehilangan makna Natalnya, tetapi ada yang dengan maksud mulia (PI, sosial, dsb). Di pihak lain, ada pula yang melarang karena berbagai alasan, mulai alasan penghematan sampai alasan teologis.
            Namun demikian, walaupun ada perbedaan tersebut, jangan sampai arti Natal menjadi pudar. Karena pada kenyataannya, Kristus sudah lahir. Mari bersikap arif terbuka terhadap perbedaan tersebut tanpa harus menghakimi.

Menyikapi Perayaan Natal

            Seperti yang dipaparkan di atas, memang tidak ada yang dapat memastikan tanggal berapa Yesus lahir sebagai manusia di dunia. Ephiphanius dan gereja Orthodox timur merayakan tanggal 6 januari. Gereja Armenian merayakan tanggal 19 januari. Clement Alexander tanggal 20 April. International Christian Embassy Jerusalem (ICEJ) percaya Yesus lahir di hari raya Tabernakel (sekitar September). Kaisar Konstantin seperti yang dijelaskan di atas mulai merayakan Natal pada tanggal 25 Desember 325 AD (menggantikan hari raya kafir).

Terus bagaimana menurut pertimbangan Firman Tuhan?
            Sebagai anak manusia, Yesus memang memiliki tanggal lahir. Tetapi sebagai Tuhan, Dia ada dari kekal sampai kekal (Yesaya 9:5-6; Yoh1:1; 14; 8:58). Ulang tahun Yesus tidak pernah dirayakan baik oleh orang tuaNya, Yesus sendiri maupun para Rasul atau oleh gereja mula-mula. Alkitab memang tidak pernah mencatat perayaan ulang tahun para tokoh iman. Kalau toh ada, hanya para pembesar seperti Firaun, Herodes, dsb.

Apakah merayakan hari ulang tahun itu berdosa?
            Tidak, bahkan peringatan hari Ulang Tahun adalah wahana yang sangat baik untuk memuliakan Tuhan. Biasanya sanak saudara datang berkumpul. Beberapa orang ada yang menggunakan moment ini untuk ibadah kecil, dimana Tuhan dimuliakan dan Injil diberitakan, bahkan ada pula yang dimenangkan untuk Tuhan.
            Perayaan Natal sudah terlanjur masuk  dalam tradisi Kristen. hampir di seluruh dunia, termasuk di Palestina. Hari Natal adalah hari libur dan diakui oleh semua (termasuk yang non Kristen) sebagai peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tradisi ini sudah mengakar jauh ke dalam. Tahun 1100, Natal sudah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa. Bahkan di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) yang menggantikan Santo Nikolas sudah dianggap sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Pada tahun 1500-an, di masa reformasi, banyak orang Kristen yang menyebut hari Natal sebagai hari raya kafir, sebab mengikut sertakan kebiasaan kafir tanpa dasar keagamaan yang benar. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado, dan tak lama kemudian kembali kepada tradisi semula. Pada tahun 1800-an, ada 2 kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirim kartu Natal kepada sanak saudara dan teman-teman. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

Sikap yang benar?
            Namun demikian Natal bukan hari suci umat kristiani. Hari suci tidak lagi relevan di zaman Perjanjian Baru ini, karena semua hari adalah harinya Tuhan. Janganlah meng”kramatkan” hari tertentu (termasuk Natal) (Galatia 4:10-11 ; Kolose 2:16). Jangan merayakan Natal seperti orang yang tidak mengenal Tuhan, mabuk-mabukan dengan minuman beralkohol, berdansa, pesta pora yang berlebihan sampai kehilangan Natal yang sesungguhnya. Natal adalah sarana penginjilan yang luar biasa karena sudah identik dengan kekristenan itu sendiri. Semua yang merasa dirinya Kristen, pasti datang kebaktian/misa di hari Natal. Jangan merasa tertuduh, tetapi pakailah perayaan Natal untuk kemuliaan Tuhan. Bawa kado jiwa-jiwa dan semua yang terbaik untuk Tuhan. Natal bisa dijadikan moment untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kita pada sesama. Natal yang sejati adalah kalau Yesus sudah lahir di hati kita, menjadi Tuhan dan Juruselamat. Bukan sekedar memperingati Yesus yang telah (past tense) lahir di dunia (sebagai sejarah), tetapi mengalami Yesus dalam hidup sehari-hari (present tense). (Dicuplik dari buku lagu “Special Song for Celebration” terbitan YIS Production).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus