MUSIK ABAD MODERN (1900-2000)

MUSIK ABAD MODERN (1900-2000)

Published On Desember, 12 2012 | By Majalahpraise Admin

Dari awal abad pertengahan hingga akhir abad ke-19 musik klasik didominasi oleh sistem Tonal. Hingga saat itu perkembangan musik adalah suatu gerakan yang merupakan reaksi dari jaman sebelumnya. Kebangkitan Renaisans adalah reaksi dari Abad Pertengahan; Barok adalah reaksi dari Renaisans, Klasik dari Barok, Romantik dari Klasik. Berbeda dengan yang lainnya, Modernisme abad ke-20 adalah reaksi terhadap keseluruhan periode sebelumnya. Hal tersebut karena musik Modern menolak tonalitas (Tonalitas merupakan sebuah sistem relasi antar nada maupun akor seperti telah banyak dikenal dalam musik-musik klasik Eropa dan akhirnya juga menjadi standar musik populer di bumi ini) yang mendominasi musik klasik selama ini. Kontemporer adalah bersifat kekinian; yaitu belum memiliki batas akhir dan masih terus berkembang. Musik klasik dalam pengertian jaman atau era, telah berakhir sejak akhir abad ke-18, sedangkan pengaruhnya masih kuat pada abad ke-19. Namun musik klasik dalam pengertian umum masih terus dikembangkan dengan berbagai kemungkinan baru
Musik era abad ke 20 dimulai pada tahun 1900 hingga tahun 2000. Sedangkan musik kontemporer (Pernah dikupas di PRAISE #7) dimulai pada tahun 1975 hingga sekarang. Dari tahun 1975 hingga 2000 adalah masa dimana musik era abad 20 dan kontemporer berjalan berdampingan.

CIRI DAN TOKOH MUSIK ABAD 20
Musik abad 20 diawali oleh Claude Debussy yang mengusung gaya impresionis. Para komposer benua Amerika memulai karirnya di bidang musik dan berjaya seperti Charles Ives, John Alden Carpenter, dan George Gershwin. Masih ada juga Arnold Schoenberg yang lulusan akademi Vienna yang mengembangkan teknik 12 nada. Alat musik yang digunakan pada era ini terus digunakan hingga sekarang.
     Bentuk dan tipe musik pada abad 20 ini lebih bervariasi. Para komponisnya sangat bebas berekspresi dan berimajinasi, tidak terpaku pada suatu aturan tertentu. Jenis musiknya banyak sekali, dapat berupa neoklasik, ekspresionisme, serialisme, musik elektronik dan musik minimalis. Contohnya adalah aliran ekspresionisme dari Schoenberg, neoclassical dari Igor Stravinsky, aliran futurism dari Luigi Russolo, Alexander Mossolov, Prokoliev, Antheil. Selain musik-musik tersebut, masih ada aliran microtonal dari Julian Carillo, Alois Haba, Harry Partch, dan Ben Johnston. Lalu masih ada aliran sosialis dari Prokofiev, Gliere, Kabalevsky, dan komposer dari Russia lainnya. Selanjutnya, Steve Reich dan Philip Glass mengusung musik dengan harmony yang simple dan ritme minimalis. Musik bersifat konkrit dari Pierre Schaeffer dan musik intitusif seperti Karlheinz Stochausen. Terakhir, ada musik serialisme dari Pierre Boulez, musik politik dari Pierre Boulez, dan musik aleatoric dari John Cage.

NYANYIAN GEREJA ABAD KE-20
Warna dan pola nyanyian jemaat abad ke-20 mulai menunjukkan kesan berbeda. Jika diperbandingkan dengan nyanyian jemaat abad-abad sebelumnya, maka syair-syair baru ini membuka tempat bagi ekspresi yang bersifat “horisontal membumi”. Yang dimaksud adalah diangkatnya pergumulan-pergumulan konkret manusia dan tata masyarakatnya dalam bahasa dan syair nyanyian yang terus terang namun tetap estetis. Ini merupakan hal baru dalam musik liturgi. Sebelumnya, bahasa nyanyian jemaat sebatas pada ungkapan keagungan makhluk-makhluk sorgawi dan kesalehan orang per orang.
     Suatu topik “baru”, muncul dalam sejarah musik gereja. Hal ini melengkapi yang telah ada sebelumnya menjadi tiga tahap. Kita bersyukur bahwa regenerasi dalam nyanyian jemaat masih berlangsung. Ketiga tahap dalam nyanyian jemaat adalah sebagai berikut :
• Pada tahap pertama, keagungan Tuhan, kemuliaan Trinitas menjadi tema nyanyian yang menonjol. Syair nyanyian membicarakan makhluk-makhluk sorgawi dan melulu dalam bahasa agung, seperti : Te Deum Laudamus, Gloria Patri, Te Decet Laus, Magnificat, Agnus Dei, dsb. Nyanyian ini sangat dominan dalam musik Latin hingga Abad-abad Pertengahan dan bahkan memasuki zaman Reformasi.• Tahap kedua, perilaku dan kesalehan manusia mulai terungkap secara lebih terbuka. Ungkapan aku dan Engkau – yakni terjadinya hubungan intim antara manusia dan Allah – mengisi syair-syair dari tahap ini. Munculnya puritanisme, pietisme, ekspansi negara-negara tertentu, spiritualisme kulit hitam, dan sebagainya merupakan latar belakang tema-tema ini. • Tahap ketiga, soal-soal konkret yang dialami manusia dan dunia mulai diungkapkan dalam bahasa manusia. Masalah keadilan, perdamaian, tata masyarakat, kemiskinan, kaum buruh, lingkungan hidup, dibicarakan dalam nyanyian jemaat secara terbuka. Hal ini seperti yang ditulis oleh pemazmur secara nyata, jujur dan terus terang.
     Tahap kemudian tidak menggantikan tahap sebelumnya. Nyanyian jemaat dari abad-abad lalu tidak terbuang sama sekali dalam liturgi seiring munculnya tema-tema baru. Tahap kemudian justru memberikan alternatif dan keragaman. Kini, musik gereja memperoleh keanekaan dengan masuknya tema-tema baru tersebut.
     Suatu studi tentang masa yang silam mengungkapkan, bahwa gereja Kristen telah mewarisi kekayaan musik sepanjang abad Baru sumber-sumber seperti: terjemahan dari lagu-lagu pujian Yunani dan Latin, lagu pujian dan nyanyian untuk paduan suara dari periode Reformasi; nyanyian mazmur metrikal yang dimasukkan Calvin, Marot, dan penyanyi mazmur pada zaman itu; lagu lagu pujian Watts, Wesley yang mengandung unsur “ketenangan manusiawi” dan komposer abad ke-17 dan 18 lain yang memiliki ajaran doktrin yang kuat, musik-musik Injil dari abad ke-19 dan ke-20, terutama sangat berguna untuk usaha penginjilan dan akhir abad ke-19 dan ke-20 dengan penekanan kuat pada tingkah laku kristiani dan tanggung jawab sosial terhadap Injil. Sebuah lagu pujian gerejawi yang baik seharusnya mewakili seluruh unsur-unsur komposisi yang baik. masa sekarang dan ke masa depan menunjukkan banyak trend yang akan menguasai musik gereja injili. Semakin banyak sekolah Alkitab, akademi, dan seminari yang memberi penekanan dan pengajaran tentang musik gereja lebih daripada sebelumnya.
     Akhir-akhir ini semakin banyak pimpinan gereja yang tertarik untuk mengembangkan musik gerejawi. Ada beberapa seminar bahakn sekolah tentang musik. Semakin banyak gereja yang menyadari akan pentingnya paduan suara dan untuk itu persiapan memang harus dilakukan sejak usia dini, yaitu sejak di Sekolah Minggu, dan sesuai dengan kelompok usia. Selamanya, karena musik dan pendidikan memiliki hubungam erat, maka suatu program musik yang terpadu di gereja merupakan alat yang penting untuk mengembangkan suatu program pendidikan Kristen yang kuat. Tetapi, perlu kita akui bahwa masih banyak yang harus dibenahi.
    
KESIMPULAN
Kenneth W. Osbeck dalam bukunya The Ministry of Music menyatakan bahwa untuk mencapai program musik yang efektif dan utuh dalam gereja membutuhkan usaha dan kesabaran. Biasanya ada banyak kendala menghadang, seperti: kelalaian puas dengan diri sendiri, langkanya latar belakang pendidikan musik, tradisi, pra sangka. Mungkin juga seorang pimpinan musik di gereja tidak sampai melihat hasil nyata dari kepemimpinannya khususnya pelayanan musiknya di gereja.
Dan satu hal yang perlu diingat bahwa musik yang baik dan program musik yang hebat bukanlah tujuan utama dalam kehidupan berjemaat. Oleh karena itu program musik gereja harus dititikberatkan untuk menarik individu-individu kepada karya keselamatan yang sudah diberikan Kristus dan kemudian memimpin mereka kepada kehidupan Kristen yang lebih penuh dan dipenuhi Roh Kudus (dari berbagai Sumber/Yis/PRAISE #15). Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus