MUSA & MAZMUR NYA  (Seri 6 Mazmur)

MUSA & MAZMUR NYA (Seri 6 Mazmur)

Published On Desember, 10 2012 | By Yusak

Walaupun Musa adalah satu sosok yang lebih banyak berhubungan dengan doa, namun demikian pernah juga Musa menulis lagu. Pernahkah Saudara berpikir, dari mana Musa Belajar Menyanyi ?

 DARI MANA MUSA BELAJAR MENYANYI ?

      Tulisan Musa yang berhubungan dengan lagu selain di kitab Ulangan 31:30-32:43, ada juga di kitab Mazmur. Seperti yang pernah dibahas dalam PRAISE 11, bahwa kitab Mazmur tidak semuanya ditulis oleh Daud, melainkan oleh beberapa orang, salah satunya adalah Nabi Musa (Mazmur 90).

Pertanyaan kita adalah dari mana Musa bisa menyanyi ? Apakah dia mahir bermusik seperti Daud ? Data mengenai hal tersebut memang sangat minim. Satu-satunya data dari Alkitab yang bisa menjelaskan adalah Keluaran 2.  Ditulis dalam ayat 1 sampai 10 tentang seorang anak Israel yang kemudian menjadi orang Mesir. Kehidupan Musa dicatat dalam Keluaran 2:1-10 yang secara sederhana dapat  dibagi dalam 3 tahap : (1) Kelahiran dan pembuangan si anak (ayat 1-4); (2) Ditemukan oleh putri Firaun (ayat 5-6); dan (3) Pengadopsian (ayat 7-10).

Inti dari cerita tersebut adalah tentang pengadopsian bayi Musa oleh putri Firaun, yang merupakan pengaturan Tuhan. Sang Putri dilema ketika mengetahui anak itu adalah anak orang Ibrani yang menurut perintah kerajaan Mesir harus dibunuh. Namun ia menaruh belas kasihan pada anak itu (Kel 2:6). Kemudian Musa menjadi bagian dari istana Firaun karena diadopsi sebagai anaknya sendiri oleh Sang Putri. Pengadopsian itu dilakukan dengan prosedur legal zaman itu, yaitu dengan penyewaan seorang pengasuh. Bukan kebetulan kalau ibu kandung Musa sendiri yang dipilih. Dalam tahun-tahun permulaan, Musa dipelihara oleh ibunya sendiri, tentunya ibu dari keturunan Lewi itu juga memberi pendidikan rohani untuk meletakkan dasar iman yang benar bagi si Musa kecil (Ibrani 11:23-29). Sampai Musa disapih - pada zaman itu baru dilakukan jika si anak sudah besar, sesudah ia berumur tiga atau empat tahun- maka iapun dibawa kepada putri Firaun, ibu angkatnya. Lalu diberi nama Musa. Dengan demikian, fokus utama kisah ini bukanlah kelahiran si anak meskipun laporan kelahirannya merupakan bagian dari kisah Musa. Fokusnya lebih pada pengadopsian anak itu oleh Putri Firaun.

Kisah pengadopsian ini menempatkan Musa dalam lingkup kebudayaan Mesir. Jadi Musa menghabiskan masa kecilnya, paling tidak dari sejak ia lepas menyusu sampai masa dewasanya, di istana Mesir. Kisah Para Rasul mencatat “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” (Kis 7:22 TB). Dalam BIS dan TL diterjemahkan “Segala ilmu bangsa Mesir diajarkan kepadanya.” Dalam buku ‘Ikhtisar Sejarah Alkitab’ ditulis oleh P.E. Burroughs (hal 31): “Musa pernah hidup sebagai orang Mesir selama 40 tahun, kemudian selama 40 tahun lagi sebagai orang Arab, dan akhirnya sebagai orang Israel selama 40 tahun juga.” Artinya selama 40 tahun pertama Musa memang dididik dalam ilmu dan budaya Mesir. F.L. Bakker dalam buku ‘ Sejarah Kerajaan Allah (jilid I/1, hal 219) menulis “Ia (Musa) mempelajar theologia, ilmu falak, ilmu pasti, ilmu kedokteran, ilmu bumi, ilmu hukum dan mata pelajaran yang lain.”  Dalam ‘Ensiklopedia Alkitab  jilid II (M-Z) dicatat bahwa “..putri Firaun yang menjadi ibu angkat Musa mungkin adalah ‘anak’ dari salah seorang selir ini…Pada zaman itu sebelumnya anak-anak dari selir-selir penghuni harim (tempat para selir Firaun), dididik oleh pengawas harim (guru dari anak-anak raja). Bila tiba waktunya, bagi anak-anak raja ditugaskan seorang pengajar, biasanya petinggi istana atau pensiunan perwira militer, yang dekat kepada raja. Pasti Musa diperlakukan demikian. Kurikulum pendidikan Mesir meliputi membaca dan menulis tulisan hieroglif dan tulisan kudus, menyalin naskah-naskah (khususnya sastra kuno), kaidah menulis surat dan tata administrasi…” (hal 102- 103). Dari data di atas, pendidikan musik bagi Musa hampir tidak ada. Namun demikian kita tidak heran dengan bekal ilmu yang didapat di Mesir dan di bawah asuhan ibu kandungannya yang takut akan Tuhan, serta bimbingan Roh Allah, kalau Musa dapat menulis 5 kitab Perjanjian Lama yang disebut ‘Pentatouch’.

LAGU DARI PENGALAMAN HIDUP MUSA

Kisah tragis dan ironis mengenai Musa adalah ia tidak boleh masuk ke Kanaan. Allah melarangnya. Musa wafat di Gunung Nebo (Ul 34) dan hal tersebut karena kemarahan Musa. Musa marah tiga kali. Pertama, ketika melihat mandor Mesir bertindak sewenang-wenang terhadap budak Ibrani, sehingga dia membunuhnya. Hal ini yang mengakibatkan dia lari ke padang gurun Arab (Midian) (Kel 2:11-22). Kedua, manakala Musa telah dipanggil Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudaan Mesir. Ketika sampai di Sinai, sementara Musa naik ke gunung menerima segala perintah Tuhan (termasuk 10 perintah Allah di atas loh batu yang ditulis Allah sendiri), bangsa Israel di lereng gunung membuat lembu emas lalu menyembahnya. Ketika Musa turun dan menyaksikan ketidaktaatan bangsanya, dia marah besar dan membanting ke dua loh batu hingga pecah. Akibatnya, Musa harus membuat loh batu tersebut lagi (Kel 32,34). Dan ketiga, Musa marah ketika Bangsa Israel minta air, lalu dalam kemarahannya Musa memukul batu hingga keluar air. Padahal untuk kali itu, Musa diminta Tuhan untuk berbicara bukan memukul (Bil 20:10-12). Jadi walaupun Alkitab mencatat Musa adalah orang yang paling lembut hatinya (Bilangan 12:3), tetapi karena sifat pemarahnya tersebut, dia gagal masuk Kanaan. Hati-hati dengan amarah Saudara. Jangan sampai Tuhan marah juga!

Namun demikian sebelum akhir hayatnya, Musa membuat lagu dalam bentuk Mazmur.  Mazmur 90 boleh dikatakan salah satu sastra yang paling kuno di antara karya sastra yang pernah ditulis. Mazmur ini merupakan doa Musa pada saat dia sudah sangat lanjut usia (120 tahun?), doa yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan sehari-hari, doa yang disebut sebagai ‘a pray of a life not a pray for a living’. Banyak kali doa kita adalah doa yang mencari, meminta, menanti sesuatu yang kita butuhkan di dalam hidup sehari-hari: a pray for living. Tapi doa Musa adalah doa yang menata kembali hidupnya: bagaimana menjalankan hidup, mengintrospeksi diri dan menilai diri sendiri. Karena hidup yang kita lalui sekarang ini, suatu hari nanti akan berhenti. Itu sebabnya mari kita minta Tuhan memberi kekuatan untuk menangani hidup kita dengan serius dan sungguh-sungguh.

Bagaimana Musa bisa mengarang lagu ? Telah terbukti untuk mengarang lagu, seseorang tidak harus pandai bermusik bahkan yang tidak tahu notasi pun, bisa. Karena lagu merupakan ekpresi batin yang dikeluarkan dalam bentuk kata (syair) dan nada.

Bisa saja kita berspekulasi misalnya karena tinggal di Mesir cukup lama, tentu Musa juga mempelajari atau setidaknya mengetahui seni budaya di Mesir pada waktu itu. Seni musik di Mesir dapat diketahui dengan adanya penemuan literatur pada prasasti yang sempat ditinggalkan di negara tersebut.  Misalnya, alat musik apa saja yang dipakai. Dalam prasasti tersebut ditemukan harpa, lyra, mandolin, dan suling dalam bentuk tunggal maupun ganda. Mungkinkah Musa menyanyi hanya dengan menggunakan salah satu dari alat musik tersebut ?

Mungkin saja ketika Musa menulis Mazmur, tanpa alat musik. Cuma dalam hal notasi, sistem nada (tangga nada) dari bangsa Mesir seperti aturan nada yang terdapat pada bangsa Cina dan India. Sejarah membuktikan bahwa lagu-lagu Mesir kuno memakai paling banyak hanya empat nada saja. Maka kemudian tetrachord (empat dawai) itu adalah dasar seni musik mereka, namun hal ini baru dirumuskan oleh Phytagoras yang hidup pada 570-480 SM di Yunani, dan sampai saat sekarang masih terdengar lagu-lagu yang tersusun dari empat nada tersebut di lembah sungai Nil. Selanjutnya, perkembangan musik di Mesir mencatat bahwa pada pemerintahan dari Firaun yang pertama (sejak tahun 3892 SM) telah ditentukan tujuh nada suci oleh para imam agung yang dinyanyikan oleh para pria maupun wanita di kuil, dan semata-mata hanyalah nada vocal tanpa boleh diiringi oleh alat musik apapun. (Sejarah musik jilid 1 karya Karl-Edmund Prier sj, hal 6-11).

            Memang Alkitab tidak mencatat prestasi dan karya Musa dalam hubungannya dengan musik sebanyak Daud. Karena memang panggilan Musa lebih banyak berdoa pada Tuhan.  “Tujuh Kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau..,” kata Daud (Mazmur 119:164). Tetapi Alkitab mencatat Musa kebanyakan berdoa seperti halnya bangsa Yahudi lainnya.

            Siapapun Saudara, bisa menjadi berkat dalam bentuk apa saja, termasuk mengarang lagu seperti Musa. Latar belakang dan skill Saudara memang turut mewarnai karya-karya Saudara, tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah ketika Saudara dapat melihat kesalahan sendiri – bukan hanya kesalahan orang lain - sehingga bisa merevisinya. Nah, hasil revisi inilah yang bisa menjadi pelajaran bukan hanya untuk Saudara, tetapi untuk semua orang, supaya tidak melalui jalan yang sama dengan Saudara. (PRAISE # 16 / Yis).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus