Micah Kenny

Micah Kenny

Published On Desember, 12 2012 | By Vido Fransisco Pardede

BRAND NEW ME

KORBAN PERCERAIAN ORANGTUA

            Terlahir dari keluarga yang kurang menyukai musik dan hidup di tengah keluarga yang broken home tidak membuat rencana Tuhan gagal bagi diri Micah (Red: Mikha). Pemilik nama lengkap Micah Kenny Sastro Tanzil ini baru mengenal musik saat baru mengenal Tuhan tahun 2002 silam, sejak itulah Micah mulai menyanyi di gereja tempatnya bertumbuh. Micah yang menjadi korban perceraian orangtuanya tidak pernah berpikir untuk menjadi penyanyi, bahkan setelah beranjak dewasa ia tetap tak bercita-cita jadi penyanyi. “Kalo ditanya sekarang, pengen buka restoran agar bisa mempekerjakan orang-orang yang kurang pandai dan kurang pendidikan supaya dapat mengerti arti hidup lalu mengaplikasikannya langsung dalam pekerjaan mereka,” tutur cowok berwajah oriental kelahiran Jakarta, 6 September 1986 lalu.

            Saat pertama kali menginjakan kakinya di sebuah gereja, ia sempat merasa kaget dengan suasana ibadah karismatik yang ia hadiri. “Awalnya aku diajak teman sekolah ke gereja, aku pikir gereja ini sesat dengan suasana bahasa roh dan praise and worship-nya, tapi saat itu sukacita dan hadirat Tuhan terasa begitu nyata. Sampai akhirnya berlanjut dan melayani pelayanan di bidang musik,” ujar jemaat GBI Taman Sunter Indah, Jakarta Utara ini.

            Menjadi anak yang tidak merasakan kasih sayang orangtua sepenuhnya, pasti dapat membuat hidup terasa hilang arah dan penuh kekecewaan, itulah yang ia alami dulu. “Kecewa dengan orangtua, pasti pernah. God is so good in my life, kekecewaan aku larut karena kehadiran Tuhan sebagai pengganti orang tua yang terbaik. Iblis sangat pintar menghancurkan figur bapa. Tapi jangan mau terjebak karena sesungguhnya Tuhan itu sosok Bapa yang sejati dalam hidup kita,” ungkap suami dari Sherly Tanzil yang mengakhiri masa lajangnya pada 8 November 2008 lalu.

BRAND NEW ME

            Setelah mengalami karya pemulihan Tuhan dalam hidupnya, Micah tak ingin tanggung-tanggung dalam melayani Tuhan. Meski masih menjadi pegawai pemasaran di salah satu perusahaan Developer perumahan di Jakarta, tak membuat Micah lupa untuk  memberikan karya terbaik bagi Tuhan. Dengan menempuh jalur musik indie label, sambil berpikir keras bagaimana meminimalis biaya produksi, itulah yang ia lakukan untuk mempersembahkan karya dirinya sendiri. Sehingga pada 5 Agustus 2009 Micah berhasil merilis mini albumnya yang berisi 7 lagu bernuansa pop dan rock gospel. Memberi judul ‘Brand New Me’ bagi album perdananya ini. “Aku pengen melakukan sesuatu aja buat generasi muda saat ini, membawa pesan positif bagaimana menjadi jawaban bagi dunia, yaitu dengan berubah dan menjalankan hidup yang baru bersama Yesus,” urai pria yang menciptakan semua lagu dalam album ini.

            Dalam album ini Micah juga menuliskan beberapa pesan moral yang memang penting bagi generasi muda saat ini, seperti dalam beberapa lagunya yang berjudul ‘Special To Me’, ‘Bersama Dia’ dan ‘Forgive Me’, yang menceritakan kasih Tuhan adalah sumber kasih yang paling sempurna, Tuhan adalah sahabat yang bisa membuat kita nyaman kapan dan di manpun, karena itu kita harus selalu menempatkan Tuhan pada posisi pertama. “Seringkali kita kalah sama anjing, yang terkenal jauh mengasihi tuannya daripada dirinya sendiri.”

MEMPERBESAR KAPASITAS

            Bagi Micah saat ini adalah masa dimana ia merasa wajib menjadi berkat bagi banyak gereja dan tidak menjadi seorang yang money minded agar lebih tulus dalam melayani. Karena ini adalah saat yang tepat untuk memperbesar kapasitas dengan lebih fokus melakukan perubahan yang signifikan bagi gereja-gereja supaya bersatu memuliakan nama Tuhan. “Aku berharap gereja nggak terpisah-pisah, tapi bersatu, God is our center,” harapnya.

            Memilih jalur musik indie rohani adalah salah satu cara Micah untuk memperbesar kapasitas. “Zaman sekarang nggak gampang perusahaan rekaman bisa terima artis begitu aja, apalagi pendatang baru. Targetku juga nggak muluk-muluk, yang penting bisa merilis album sambil mempersiapkan album kedua dengan konsep yang lebih matang,” tambah pengagun Israel Houghton, Planet Shakers dan One Way ini. Musik bagi Micah sangat berpengaruh dalam hidupnya. “Music is my life, memang klise, but that’s the truth. Musik itu hidup aku sendiri, bukan sekedar dinikmati dalam musikalitas tapi tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan.”

            Menjadi seorang musisi memang tak pernah terpikirkan, tapi untuk memberikan pengaruh kepada anak-anak muda untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan menularkan pengaruh positif adalah pilihan hidupnya. Untuk itulah ia berusaha semampu mungkin mengembangkan talentanya dalam musik, karena ia pernah merasakan bagaimana diberkati melalui sebuah lagu. “Aku pernah tersentuh banget saat nyanyi lagu God is so good to me, God is good to You, Jesus He’s so good to you and me. Padahal beat-nya cepet dan rada ngerock tapi tetep aja hati baja ini mencair dan menangis.”

            Menjadi penyembah sejati itulah yang kini menjadi kerinduannya, bukan hanya penyembah yang hanya manis di bibir, tapi benar-benar menghargai, menghormati dan mengasihi Tuhan dalam kehidupan setiap hari, sekalipun kenyataan tidak seperti yang diharapkan, tetap mengucap syukur dan memuji Tuhan, seperti kata ‘Hosana’ dalam Alkitab. “Memohon pertolongan dan keselamatan dengan sikap hormat dan pengagungan kepada Kristus,” ucapnya mencoba mengartikan kata ‘Hosana’. (Ras / Praise #9 / 2009)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus