Menelusuri sejarah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)

Menelusuri sejarah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)

Published On Desember, 12 2012 | By Yusak

Dalam kunjungan dan pelayanan Bpk. Yusak I. Suryana STh (selaku pimpinan Majalah PRAISE) ke Manado medio Oktober 2011, beliau berkesempatan bertemu dengan vikaris Pdt. Jon Ly V. Tumelap STh, salah seorang yang mengerti tentang sejarah dan perkembangan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang sempat diwawancarai. Ada  yang menarik dari GMIM ini, dan kali ini PRAISE coba menelusuri sejarah berdirinya secara singkat dan model Liturgi yang dipegang GMIM.   

SEJARAH BERDIRINYA GMIM

GMIM merupakan salah satu gereja terbesar di Indonesia yang beraliran Calvinisme. Jadi jelas GMIM merupakan gereja yang beraliran Protestan. Sejak pemisahan (yang disebut “Schisma besar”) antara gereja Barat (Katolik) dan Timur (Ortodok) tahun 1045, dalam perjalanan sejarah, sekelompok orang yang tidak setuju dengan doktrin yang dianut Katolik, memisahkan diri menjadi Protestan (tahun 1517).  Sejak itu ada 2 aliran gereja besar yang mulai berexpansi ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Katolik masuk Indonesia tahun 1512 melalui para pedagang Portugis. Sedangkan Protestan masuk ke Indonesia melalui badan oekabaran Injil asal Belanda yang beraliran Protestan  dikenal dengan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) pada tahun 1806. Sembilan tahun setelah itu, tepatnya tahun 1817, Pemerintah Belanda di Indonesia mengatur bahwa Gereja di Indonesia harus diorganisir oleh Pemerintah, sehingga Gereja di Indonesia ketika itu menjadi apa yang disebut Gereja Negara.

            Kekristenan mulai diperkenalkan di tanah Minahasa oleh dua misionaris Jerman yang dididik di Belanda, yaitu Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz. Mereka diutus oleh NZG. Teologia NZG dipengaruhi oleh Pietiems, yaitu suatu aliran teologia yang memusatkan perhatian pada pertumbuhan dan pengembangan iman dalam kehidupan pribadi. Pada tanggal 12 Juni 1831 mereka tiba di daerah ini untuk memberitakan Injil. Tanggal ini diperingati oleh GMIM sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan kristen di Tanah Minahasa. GMIM didirikan di Minahasa, Sulawesi Utara pada tahun 1934 setelah dipisahkan dari Gereja induknya, Indische Kerk. Pada tanggal 30 September 1934 GMIM dinyatakan sebagai Gereja mandiri. Tanggal ini diperingati sebagai hari jadi GMIM.

            Sejak berdirinya, GMIM dipimpin oleh ketua Sinode. Ketua Sinode pertama adalah Dr. E.A.A. De Vreede (1934 – 1935). Sejak tahun 2010, ketua Sinode dijabat oleh Pdt. Piet Marthen Tampi, S.Th, MSi. Wilayah pelayanan GMIM memang di Sulawesi Utara. Dan begitu pesat perkembangan gereja terbesar di Indonesia dengan populasi jemaat hampir 1 juta jiwa (data tahun 2011). Bermula dari hampir 100 orang. Kemudian melewati 177 tahun menjadi hampir sembilan ratus ribu jiwa. GMIM mempunyai sekitar 1.000 pendeta, 65% di antaranya adalah perempuan, yang melayani 897 gereja lokal, yang dibagi ke dalam 102 wilayah, dengan sekitar 1.000.000 anggota.

            Tahun 2005, dalam datanya, GMIM mengelola banyak lembaga sosial seperti Taman Kanak-kanak (332), Sekolah Dasar (364), Sekolah Menengah Pertama (64), SMA (20), sekolah kejuruan (6), sebuah universitas dengan antara lain adanya fakultas teologi, sekolah untuk penyandang cacat (2), rumah yatim-piatu (2), pusat pelatihan (2), dan rumah sakit.

            GMIM adalah gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Dewan Gereja-gereja Asia, Dewan Gereja-gereja se-Dunia dan Aliansi Gereja-gereja Reformasi se-Dunia. Selain itu, GMIM juga merupakan bagian dari Gereja Protestan di Indonesia sejak 25 Mei 1950 dan anggota dari Sinode Am Gereja-gereja di Sulutteng (SAG), yang terdiri atas Gereja-gereja di Sulawesi Utara dan Tengah. Dan sekarang GMIM, dalam misi pelayanannya bukan hanya di Sulut, tetapi juga di Sumatera, Kalimantan, Ambon, Papua, bahkan sudah go internasional membuka cabang di Jepang, Amerika, dan masih banyak tempat di luar Sulut.

TATA CARA IBADAH GMIM

Untuk merangsang minat dari anggota jemaat dalam beribadah, disusunlah beragam bentuk tata ibadah Raya. Ada 4 bahkan 5 bentuk liturgi dalam tiap minggunya. Pelayan Khusus (Pendeta, Guru Agama, Penatua dan Syamas/diaken) mendapatkan tempat yang lebih luas dalam pelaksanaan Ibadah Jemaat itu sendiri. Bahkan untuk penggunaan Lagu-lagu sebagai Pujian Jemaat. Kini bukan hanya memakai Kidung Jemaat (KJ), Nyanyian Kidung Baru (NKB) dan Dua Sahabat Lama, tetapi menyanyikan pujian kontemporer (Pop rohani atau yang dikenal sebagai lagu Praise & Worship) yang sudah diseleksi. Salah satu bentuk liturgi GMIM dapat digambarkan sebagai berikut :

1.         Panggilan Beribadah (koordinator penyelenggara berbicara)

2.         Nyanyian ke 1 (lagu perseiapan)

3.         Tahbisan (seperti votum)  (jemaat berdiri)

4.         Salam (jemaat masih berdiri)

5.         Nas pembimbing (dibacakan Pelsus) (jemaat berdiri)

6.         Nyanyian ke 2 (nyanyian sambutan atau lagu pengakuan dosa)

7.         Pengakuan dosa & pemberitaan anugrah Allah (Pelsus berdoa, jemaat duduk)

8.         Nyanyian ke 3 (Lagu pemberitaan Anugrah Allah)

9.         Pengakuan iman Rasuli (bersama-sama, Jemaat berdiri)

10.       Hukum Tuhan (Pelsus membacakan beberapa ayat Alkitab, jemaat duduk)

11.       Nyanyian ke 4 (Puji-pujian sebelum pemberitaan Firman Allah/kotbah)

12.       Doa, Pembacaan & pemberitaan Firman Allah (jemaat duduk)

13.       Nyanyian ke 5 (Bisa diisi dengan koor/PS/nyanyian bersama)

14.       Kotbah (jemaat duduk)

15.       Persembahan (jemaat duduk)

16.       NYanyian ke 6 (selama persembahan diedarkan)

17.       Doa Umum : persembahan, syukur, permohonan, syafaat + Doa Bapa Kami (jemaat duduk)

18.       Nyanyian 7 Penutup (jemaat berdiri)

19.       Berkat (jemaat berdiri): mendoakan/membacakan 2 Kor 13:14

20.       Lagu terakhir : Amien-amien (ada beberapa versi)

21.       Jemaat saat teduh (sebentar) di tempat duduk masing-masing sebelum pulang.

PETUNJUK MEMASUKI IBADAH

1. Berusaha hadir sebelum ibadah dimulai. Jika terpaksa terlambat, masuklah perlahan, pada saat jemaat menyanyi.

2. Jangan masuk sementara berdoa ataupun pada waktu Khadim berbicara.

3. Apabila sudah berada di tempat kebaktian, perhatikanlah keteduhan sambil melengkapkan diri dengan doa. Kemudian perhatikanlah Tata Ibadah.

4. Pelajarilah Nyanyian dengan tertib.

5. Jemaat dapat meninggalkan tempat sesudah Khadim berada di depan pintu Gereja.

(Diambil dari PRAISE #21).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus