Max Valerio

Max Valerio

Published On Desember, 12 2012 | By Vido Fransisco Pardede

LAGU ROHANI SEKARANG TERLALU DANGKAL

MENJADI BINTANG BAGI YESUS

            Menjadi ‘bintang’ adalah mimpi pria keturunan Italia-Indonesia ini. Tapi ternyata Tuhan lebih suka pria indo ini menjadi hambaNya. Pdt. Max Valerio. MA,  kini lebih serius dalam melayani Tuhan dengan menjadi pembicara (pengkotbah) dan menyanyi lagu rohani di berbagai tempat juga mengajarkan pendewasaan dan pendalaman iman kepada anak-anak Tuhan dari berbagai denominasi gereja di Indonesia.

            Max kecil pernah bercita-cita menjadi artis, tapi ketika Tuhan menyelamatkan jiwanya membuat Max  membuang jauh cita-citanya. “Sekarang semua mimpi sudah saya kubur, saya nggak punya target-target lagi dan nggak ingin bermimpi besar. Biar semua jadi mimpinya Tuhan. Melakukan cita-citaNya. Menjadi bintangnya Yesus,” ucap pria yang pernah menempuh pendidikan di University of Sheffield, Inggris jurusan  manajemen dan di HITS (Harvest International Theological Seminary), Karawaci.

BERTOBAT KARENA OVERDOSIS

            Max dibesarkan dalam keluarga Kristiani dan sejak kecil sudah sering tergabung dalam koor di salah satu gereja Katolik di Itali. Namun hal itu tidak membuatnya otomatis mengenal Tuhan, Max malah menjadi seorang atheis yang tidak percaya Tuhan. Tahun 1997 adalah saat dimana Tuhan menyapanya melalui peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Saat itu Max yang sedang liburan di Indonesia sedang asyik menikmati Narkoba sehingga menyebabkan ia overdosis. Tapi berkat kemurahan Tuhan, ia bisa dipulihkan. “Setelah Tuhan menjamah saya, sekarang saya bertekad mau jadi hamba Tuhan,” jawab Pendeta nyentrik yang kerap berbicara dengan bahasa dan style anak muda kepada PRAISE di sela-sela persiapannya melayani kotbah di ibadah Youth English Service GBI Glow, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

            Sejak tahun 2000 lalu Max sudah mulai tinggal di Indonesia dan mempelajari bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia yang lumayan baik, Max belajar menulis lagu sekaligus menyanyikannya. ‘It Is Well’ adalah judul album pertama Max yang sudah dirilis tahun 2008 lalu. Dan November 2009 Max kembali meluncurkan album keduanya yang bertitel ‘Creation’. “Di album ini semua lagu saya yang menciptakan. Dengan nuansa musik klasik Eropa-Itali yang bertema penyembahan,” ungkap Pendeta yang lebih menyukai lagu-lagu hymne.

LAGU ROHANI ZAMAN SEKARANG DANGKAL

            Menyanyi lagu rohani membuat Max harus memperdalam kualitasnya, karena itu ketika mempersembahkan talenta menyanyinya kepada dunia musik rohani, Max memperdalam vocalnya dengan belajar kepada seorang guru vocal kenamaan Indonesia, Rukiah Marpaung. Menurut putra tunggal pasangan Sri Wardani dan Giuliano Mastrovalerio ini, dunia musik rohani sudah mengalami pergeseran yang sangat drastis. “Di masa akhir zaman ini dunia musik rohani mengalami banyak kemerosotan moral yang membuat kita jadi narsis (Red: terlalu PD), makanya jangan salahkan kalau ada yang bilang musik rohani sekarang terlalu dangkal, karena lagu-lagu rohani lebih ke egosentris manusia, menghibur manusia saja, jadi arahnya ke manusianya itu sendiri sampai kebablasan. Kadang nggak ada hadirat Tuhan,” tutur pria yang akan memberi kata-kata hikmat melalui SMS dengan mengetik Reg spasi Max dan mengirimkan ke 9008.

            Max juga menyambut positif perkembangan musik rohani sekarang karena bertambah bagus dengan maraknya band-band dan para penyanyi pendatang baru yang meluncurkan album-album rohani. Ia percaya apapun yang berasal dari Tuhan pasti akan bertahan tapi yang tidak dari Tuhan akan tenggelam. “Makanya jika kita menyanyi untuk Tuhan kalau tidak hidup dalam Tuhan lebih baik menyanyi lagu sekuler saja, sebab jika menyanyi untuk Tuhan, menampilkan kata-kata indah tentang Yesus, tapi hidupnya nggak benar, akan hancur karena nggak ada urapan,” urai pria yang hobi menyantap Spaghetti itu.

            Setelah mengalami proses dan anugerah keselamatan dari Tuhan membuat Max tidak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada, untuk menyampaikan pujian dan pengagungan kepada Tuhan, seperti kata ‘Hosana’ yang ada dalam beberapa lirik lagu rohani, yang baginya berarti “Highest to the Lord, Allah ditinggikan.” Hal itu juga membuat Max tak mau berhitung dengan Tuhan. “Lagu saya nanti bisa dilihat di internet dan didownload gratis bagi siapa saja, biar orang bisa dapat lagu saya gratis karena saya buat album untuk memberkati daripada ada di ‘museum’ toko kaset, hahaha....,” tutur pria yang bisa kita kunjungi di www.maxmastrovalerio.com.   

             Pendeta yang selalu tajam dalam berkotbah ini lebih suka memberikan kotbah yang membuat iman lebih dewasa. “Saya tidak berkotbah untuk penginjilan tapi untuk mendewasakan, memotivasi kehidupan agar anak-anak Tuhan zaman sekarang tidak terlalu takjub dengan mujizat karena mujizat tidak membuat orang bertobat, bertumbuh dalam mengenal Tuhan. Lihat saja 10 orang yang disembuhkan Yesus, yang kembali pada Tuhan kan cuma satu. Mujizat tidak bisa mengubah hidup orang tapi hati yang remuk dan hancur yang bisa diubahkan Tuhan,” ulas anak didik Pdt. Erastus Sabdono yang sudah menulis buku rohani berjudul ‘NarrowGate’. (min / Praise #9 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus