Marcello Tahitoe (Ello)

Marcello Tahitoe (Ello)

Published On Desember, 18 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Yang Penting Cinta Tuhan

PEMUSIK DAN PEMAIN SEPAK BOLA

Buka kita buka hari yang baru sebagai semangat langkah ke depan
jadi pribadi baru
buka kita buka jalan yang baru
tebarkan senyum wajah gembira
damai suasana baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru

            Pasti pernah dengar dong lirik lagu ini? Ini adalah lirik jingle sebuah iklan di televise. Kalau kita pernah melihat iklan ini, pasti kenal dengan cowok yang ikut ambil bagian dalam proyek ini, yaitu Marcello Tahitoe atau yang akrab dipanggil Ello. Lagu ini memang menyadarkan kita untuk selalu semangat menjalani hari-hari kita “Satu keuntungan buat saya nyanyi lagu ini. Karena dari dulu saya punya visi dan misi kalau saya kerja di musik saya mau lagu-lagu yang bisa menyemangati, lagu ini kan punya pesan positif untuk menghadapi hari baru tanpa melihat ke belakang,” urai pria kelahiran Jakarta, 20 Pebruari 1983 ini.

            Ello mulai dikenal public tanah air sejak membawakan kembali lagu milik sang papa yaitu “Pergi Untuk Kembali”. Tentunya bukan karena itu namanya berkibar di dunia musik Indonesia, tapi karena Ello juga memiliki suara khas. Melalui album yang bertitel dirinya sendiri yaitu “Ello” ia mendapat dua penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) award tahun 2005 untuk kategori “Album Terbaik” dan “Pendatang Baru Terbaik”.

            Dari situ namanya semakin dikenal orang . Tapi siapa sangka kalau ternyata Ello memiliki perjuangan yang cukup berat untuk mencapai itu semua. Dan nama besar yang disandang dari orangtuanya bukan jaminan untuk Ello bisa memulai karirnya tanpa kendala. “Saya nggak percaya kebesaran orangtuamu akan membesarkanmu juga tanpa kerja keras,”  ucap anak dari musisi Diana Nasution dan Minggus Tahitoe ini.

             Karena memiliki darah musik dari kedua orangtuanya, praktis sejak kecil Ello sudah menyukai musik, impiannya sejak kecil hanya dua yaitu, menjadi musisi atau pemain sepak bola.

BELAJAR BERSERAH

            Baginya musik sesuatu yang yang penting dalam hidupnya. “Misalnya, waktu saya sama keluarga lagi nunggu makan di restoran selama 25 menit. Pas diputer  musik suasananya jadi beda aja, jadi musik itu sangat penting,”  kata pengagum Frank Sinatra kepada PRAISE disebuah café Jakarta Utara.

            Sebelum memulai karirnya, Ello pernah mengalami masa-masa diman ia merasa dapat melakukan segalanya tanpa melibatkan Tuhan. “Waktu lulus SMA saya ngga mau langsung kuliah. Karena saya ingin jadi orang terkenal, ingin jadi musisi. Tapi saya masih sombong. Saya jarang melibatkan Tuhan dalam pekerjaan saya. Setiap hari saya bikin demo lagu di rumah untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan rekaman. Tapi hasilnya ditolak dan digantungin. Selama 2 tahun saya seperti itu. Nggak kuliah, ngga kerja. Lama-lama hidup saya kayanya madesu(red.masa depan suram) juga,” beber jemaat GBI Senayan City ini.

            Dari situ Ello menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya. Ia pun mulai lebih sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan gereja. “Saya pernah diajak teman saya melayani di satu gereja, walaupun masih belum ada kesungguhan, tapi disitu Tuhan ajarin saya bagaimana berserah, bagaimana setia, dari situ kebentuk karakter saya. Saya belajar komitmen dan bersyukur di setian kondisi yang Tuhan berikan. Dan di tahun ketiga, saya mendapt kontrak dari Sony Musik, di tahun itu juga saya kulia,” ulas penyuka lagu rohani ‘Allah Sumber Kuatku’ ini.

IDEALIS DAN OBSESI

            Menurutnya dunia hiburan memang jahat apalagi jika tidak mempunyai pondasi yang kuat. Karena itu ia bersyukur mempunyai keluarga yang cinta Tuhan. ‘Kalau dikeluarga prinsip kita satu, saling melayani aja. Orangtua saya lebih berprinsip. Mereka sering doa pagi, Doain saya, doain keluarga. Ketika mama menderita penyakit kanker, dia tetap kuat. Kami belajar untuk lebih bersyukur dan melihat bahwa Tuhan lebih besar dari penyakit yang mama alami. Dan sekarang sudah sembuh, itu karena muizat Tuhan”.

            Memilih menjadi public figure, tentu membuat Ello tahu diri, bahwa kehidupannya akan sering di sorot masyarakat, terutama hal-hal yang menyangkut kehidupan asmaranya. “Dunia seleb memang banyak yang nggak benernya tapi anehnya orang lebih suka nonton yang minus itu.Aku nggak tahu rumusannya gimana. Aku menjalani hidup ini serba sederhana, sesederhana kalau kita berbuat benar pasti Tuhan beri yang terbaik,”tandasnya.

            Dan ketika PRAISE menanyakan seputar info di tangannya yang bertuliskan angka 4:20, rupanya ia merasa risih dengan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh berbagai media. “Jawabannya masih kaya dulu lah”,katanya. Seperti yang kita ketahui Ello memberitahukan kepada para wartawan media hiburan, kalau ia mentatto tangannya tanpa makna apapun. Ia mengaku hanya menyukai sat-saat dimana pukul 4:20 sore, matahari tak lagi panas menyinari bumi. Itulah salah satu gambaran sosok idealis seorang musisi.

            Ello masih menyimpan kerinduannya untuk membuat album rohani, tapi karena ia masih belum bisa ia realisasikan.”Kalau saya buat album rohani, saya mau nggak ada urusan sama label, saya bikin sendiri, produksi sendiri dan itu jadi persembahan saya buat Tuhan, kerinduan ada tapi mungkin kesempatannya belum ada,” jelas lulusan Dipkoma Periklanan FISIP UI ini.

            Urusan pribadi seorang public figure selalu enak untuk dijadikan konsumsi public, maka tak heran ketika PRAISE tanyakan seputar hubungannya dengan aktris Julie Estelle, ia hanya singkat menanggapi.”Yang penting harus cinta Tuhan, cantik itu bonuslah. Kalau dia cinta Tuhan pasti melakukan yang Tuhan suruh. Dan minta cerai itu nggak mungkin. Nggak salah kan kalau kita nyari bonusnya hahaha….,,”katanya sambil tertawa.

            Muda, energik, simple adalah sedikit gambaran Ello, seperti yang bisa kita lihat dalam album ‘Realistis/Idealis’ (2009). Tapi tidak se-simple mimpinya saat ini. “Saya ingin punya label sendiri agar bisa Bantu orang yang nggak beruntung di musik tapi punya talenta musik. Salah satu obsesi saya lagi adalah belajar ilmu bisnis atau ilmu marketing”, tutur cowok yang melakukan program diet karbohidrat ini.

            Popularitas seorang idola tak jauh dari peran penggemar, itulah sebabnya Ello sadar bahwa penggemar adalah sebuah hal yang berarti dan sangat mempengaruhi karirnya. “Fans pentinglah buat aku. Karena itu bukti nyata banget apresiasi mereka, yang paling jujur malah dari teman kita sendiri. Kalau teman kan suka ada ngga enaknya, Fans ngomong ini, ya itu nyatanya aku, yang paling jujur kali. Dukungan dan kritik mereka pentinglah buat aku,” katannya.

            Menyanyi dari satu pentas ke pentas lain tak juga membuat Ello merasa selalu percaya diri didepan banyak orang.”Tapi ya gitulah, kita kan tahu kemampuan kita. Kembali lagi orang yang menilai. Orang mungkin lihat oke, biarpun saya salah mungkin lupa lirik tau kadang-kadang blank dan nervous, sekelasnya Steven Tyler aja masih suka gemetaran apalagi seorang Marcello Tahitoe,” kata cowok yang bilang bahwa kitab Mazmur salah satu kitab yang enak untukl dibaca dalam keadaan apapun, karena merupakan sisi puitis dari Alkitab. (ras / Praise #12 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus