LITURGI HKBP

LITURGI HKBP

Published On Desember, 12 2012 | By Yusak

Berdirinya HKBP merupakan hasil pekabaran Injil yang dibawa oleh badan zending RMG. HKBP resmi berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861, tanggal berundingnya antara pekabar-pekabar Injil Belanda dan pekabar-pekabar Injil Jerman (Heine, Klammer, Beltz, dan Van Asselt). Tetapi pekabaran Injil di Tapanuli benar-benar berkembang berkat semangat Nomensen yaitu misionaris yang berasal dari Jerman yang mendapat pendidikan di bawah RMG. Sehingga pada masa itu corak teologi yang dibawa Nomensen sangat berpengaruh terhadap pembentukan corak teologi HKBP bahkan sampai sekarang.

            HKBP merupakan gereja reformasi, dimana dalam penetapan liturginya gereja reformasi menekankan pentingnya pelayan Firman (Sola Scriptura), sehingga khotbah mendapat tempat yang sentral dalam kebaktian. Karena gereja ini memiliki sistem sinodal episkopal dan presbiterial, maka tata ibadah (liturgi) sudah ditentukan dari sinode pusat yang akan diikuti oleh seluruh gereja HKBP yang ada di Indonesia bahkan di dunia sehingga suasana ibadah setiap minggunya tidak berubah. Gereja HKBP sangat erat hubungannya dengan kebudayaan, karena HKBP adalah gereja suku, memang walaupun jemaat HKBP pada umumnya adalah suku Batak Toba yang konsisten dengan adat, bagi mereka adat sangat berperan penting dalam membina hubungan kekeluargaan antar sesama orang batak, di mana setiap orang atau keluarga diminta untuk saling menghormati, saling menghargai, saling membantu dan saling mengasihi. Hal ini tampak jelas dalam umpama yang mengatakan “Sisolisoli uhum, siadapari gogo”. Artinya “segala sesuatu baiknya dikerjakan secara bersama-sama, itu akan terlihat lebih indah”, jelas Pdt. Untung Manurung. Sth, gembala sidang HKBP Duren Sawit ketika ditemui PRAISE. Tetapi walaupun demikian tak menutup bagi suku lain yang mau beribadah di tempat mereka, bahkan sekarang ini ada juga ibadahnya yang menggunakan bahasa Indonesia.

            Bentuk liturgi yang dibawa oleh para misionaris ke tanah Batak lebih dominan menyerap bentuk liturgi Lutheran. Penampilan peraturan gereja dan tata ibadah dapat melukiskan betapa di tingkat jemaat para zending menjalin tradisi Eropa Kristen dengan tradisi kebudayaan Batak.

            Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa tata ibadah HKBP warisan dari zending, maka tata ibadah HKBP pada masa sekarang ini adalah sebgaai berikut :

•Pujian Kidung Jemaat

•Votum -->  Pujian Kidung Jemaat

•Nyanyian Pujian (menyambut kolekte/persembahan)

•Kolektan --> Pujian (jemaat diingatkan akan berkat Tuhan)

•Hukum Taurat dan artinya -> Pujian Koor

•Pengakuan dosa -->Nyanyian (mengingatkan jemaat akan janji Allah)

•Persembahan lagu pujian (Koor), Kidung Jemaat

•Epistel, pembacaan ayat alkitab yang ebrhubungan dengan thema Firman Tuhan

•Koor (diambil dari buku lagu HKBP) -->Nyanyian Pujian (sambut pengakuan iman)

•Pengakuan Iman Rasuli --> Koor (dibawakan khusus oleh kaum wanita)

•Warta Jemaat --> Koor(dibawakan khusus oleh kaum pria)

•Nyanyian Pujian (persiapan Firman Tuhan)

•Khotbah (pendeta pakai jubah hitam) --> Nyanyian Pujian (penutup Firman Tuhan)

•Doa Persembahan --> Nyanyian Pujian (menyambut persembahan)

•Kolekte/persembahan yang diikuti nyanyian pujian sebagai tanda syukur

•Doa penutup (doa persembahan + doa Bapa Kami bersama-sama dengan jemaat + Doa Berkat. Kemudian jemaat menyanyikan Amien 3x)

Keterangan :

*Votum, pernyataan proklamasi bahwa ibadah yang dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allahlah yang telah mengumpulkan jemaat dalam ibadah. Haleluya yang dinyanyikan oleh jemaat dengan spontan untuk menyatakan terima kasih atau syukur serta memuji Tuhan yang telah berkenan dengan kemurahanNya. Doa dalam votum dipimpin oleh pembaca votum.

*Hukum Taurat, sebagai cermin dalam jemaat, apa yang diinginkan Tuhan dari setiap anak-anakNya. Jemaat dapat melihat hal-hal yang diinginkan oleh Tuhan untuk evaluasi hidupnya.

*Pengakuan dosa, setelah jemaat bercermin pada hukum Tuhan, maka jemaat menyadari dosa-dosanya. Jemaat sadar bahwa jemaat hanya dapat beribadah itu atas dasar penyesalan/pengakuan segala dosa-dosanya dan jemaat yakin bahwa dosa-dosanya itu akan diampuni melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus.

Tiap-tiap unsur liturgi sebenarnya mengandung makna simbolis, namun tidak banyak diketahui anggota jemaat yang datang rutin, dalam kebaktian tiap minggunya. Biarlah atas pertolongan Roh Kudus, jemaat dapat memahami arti ibadah tersebut. (Diambil dari PRAISE # 6/Yis/Sar). 

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus