LITURGI GEREJA KRISTEN INDONESIA

LITURGI GEREJA KRISTEN INDONESIA

Published On Desember, 12 2012 | By Yusak

Alunan musik dan nyanyian jemaat terdengar syahdu mengiringi prosesi di awal ibadah. Dengan mengangkat Alkitab setinggi dada, pelayan Firman melangkah memasuki ruang ibadah diikuti pelayan-pelayan liturgi lainnya. Masing-masing mengenakan selendang panjang, yang dikenal dengan nama stola, yang dikalungkan pada leher mereka.

Mungkin prosesi seperti ini mengingatkan kita pada ibadah Katolik, namun ini merupakan salah satu bagian dari liturgi Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Liturgi (yunani: leitourgia) berasal dari kata laos (rakyat) dan ergon (pekerjaan). Maka secara harafiah liturgi merupakan pekerjaan publik atau pekerjaan yang dilakukan oleh jemaat secara bersama-sama. Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan peribadahan yang melibatkan jemaat untuk secara aktif bersama-sama menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Setiap liturgi, di gereja manapun, tentu memiliki sejarah yang berbeda-beda. Liturgi GKI sendiri mengalami sejarah perkembangan yang cukup panjang seiring dengan perkembangan gerejanya sampai saat ini. Memang belum ada catatan resmi tentang akar liturgi GKI, namun diyakini bahwa liturgi yang digunakan GKI merupakan warisan Gereja-gereja Hervorm dan Gerevormed di negeri Belanda tahun 1950-an. Mungkin itulah sebabnya mengapa warna liturgi GKI bercorak Gereja-gereja Reformasi Belanda atau Eropa abad ke-19, dan terlihat kuat pengaruh ritus Roma Abad-abad Pertengahan. Berbicara mengenai liturgi reformasi tak mungkin melupakan tokoh-tokoh yang berperan di balik perkembangan sejarah liturgi. Luther dan Calvin adalah dua tokoh yang berperan dalam hal ini. Namun liturgi GKI lebih diwarnai oleh Garis tradisi Gereja Reformasi Belanda yang merupakan garis tradisi Gereja Calvinis. Penekanan liturgi reformasi itu sendiri ialah kebersamaan yang ekumenis.

Selaras dengan liturgi Reformasi, tercatat dalam sejarah perkembangan liturgi GKI bahwa Persidangan Majelis Sinode GKI tahun 2005 menetapkan digunakannya liturgi ekumenis. Liturgi inilah yang sampai saat ini dipakai GKI. Secara umum, liturgi minggu GKI ialah sebagai berikut:

 I. Jemaat Berhimpun

            1. Saat Teduh

            2. Prosesi diringi nyanyian umat

            3. Votum

            4. Salam

            5. Kata Pembuka

            6. Nyanyian Umat (Biasanya disesuaikan dengan tema atau nats)

            7. Pengakuan Dosa

            8. Nyanyian Pengakuan Dosa

            9. Berita Anugerah

            10. Nyanyian Umat

   II. Pelayanan Firman

            1. Doa Pelayanan Firman

            2. Pembacaan Alkitab

                 a. Bacaan Pertama (dari Perjanjian Lama)

                 b. Antar Bacaan/ Mazmur Tanggapan

                 c. Bacaan kedua (dari surat-surat Para Rasul)

                 d. Bacaan Ketiga (Injil)

            3. Khotbah

            4. Saat Hening

            5. Paduan Suara

            6. Pengakuan Iman

            7. Doa Syafaat

  III.Pelayanan Persembahan

            1. Nats Persembahan

            2. Nyanyian Jemaat

            3. Doa Persembahan

  IV. Pengutusan

            1. Nyanyian Umat (Nyanyian Pengutusan)

            2. Pengutusan

            3. Berkat

            4. Saat Teduh (Setelah saat teduh, bel dibunyikan 3 x)

            5. Warta Lisan

            6. Prosesi Keluar

Susunan liturgi GKI secara garis besar, dibagi empat babak. Pembagian ini dikenal dengan nama The Fourfold Pattern of Worship (Empat Langkah Pola Ibadah) yang didasarkan pada Yesaya 6:1-9. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bagaimana Yesaya menghadap Tuhan. Tahapan-tahapan tersebut merupakan dialog antara Tuhan dengan umat-Nya.

            Pertama-tama, ibadah dimulai dengan berhimpun. Tujuannya ialah mempersatukan hati jemaat dengan mengambil waktu sejenak untuk berdiam diri agar jemaat dapat menyadari kehadiran Allah dan membuka hati untuk memulai dialog dengan Tuhan. Dalam tahap pertama ini diadakan seremoni Penyerahan Alkitab (entry of the Bible) dari pemimpin ibadah kepada Pendeta. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah yang berlangsung didasari oleh Firman Tuhan. Selanjutnya votum diucapkan sebagai pengakuan bahwa mereka dapat beribadah hanya karena Tuhan memanggil dan rnenolong, serta menghimpun mereka menjadi satu. Votum diucapkan dengan mengutip Mzm 124:8 "Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN yang menjadikan langit dan bumi." Selanjutnya, salam (greeting saluation) diucapkan untuk mengingatkan jemaat akan kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka. Di tahap ini juga dilaksanakan ritual Pengakuan Dosa mengingat jemaat hadir sebagai manusia yang berdosa. Pengakuan dosa ini dilanjutkan dengan Berita Anugerah (assurance of pardon). Sedangkan ritus Salam Damai merupakan respon jemaat yang kembali diperdamaikan dengan Allah dan sesamanya setelah menerima pengampunan dosa.

Tahap kedua, yakni Pemberitaan Firman, diawali dengan Doa Penerangan. Di sini jemaat memohon agar kuasa Roh Kudus menerangi mereka untuk dapat memahami firman-Nya (2 Kor 3:14-16).  Pembacaan Alkitab mengikuti daftar bacaan (leksionari). Ada tiga pembacaan yakni pembacaan Perjanjian Lama, Surat-surat Rasul dan Injil. Di antara pembacaan diselingi Mazmur atau hymne. Dan setelah pembacaan, khotbah disampaikan. Pemberitaan Firman diresponi jemaat melalui saat teduh yang mengajak jemaat untuk merenungkan Firman yang telah didengarnya; Pengakuan Iman yang merupakan penegasan kembali keyakinan mereka akan Firman yang telah diberitakan; Doa Syafaat yang ditutup dengan Doa Bapa Kami.

Selanjutnya jemaat mengucap syukur. Langkah ini merupakan tahap ketiga yang diawali dengan memberi Persembahan. Melalui persembahan ini jemaat mengakui: "Dari pada-Mulah segala-galanya , dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1Taw 29:14).

Dan langkah terakhir dalam liturgi ialah tahap mempersiapkan jemaat untuk kembali mengambil bagian dalam dunia sehari-hari. Jemaat kembali diutus ke dalam dunia. Nyanyian Pengutusan bertujuan untuk menegaskan kembali pesan Firman Tuhan sekaligus sebagai pernyataan tekad jemaat untuk siap diutus ke dalam dunia.   

            Pengutusan ini disusul dengan Berkat (blessing/ benediction), yang biasanya diambil dari Ulangan 6:24-26, Roma 15:13. Jemaat menyambut berkat ini dengan mengklamasikan "Haleluya!" (atau "Hosiana”/"Maranatha" disesuaikan dengan tahun liturgi). Dan Penyerahan kembali Alkitab di akhir ibadah menandai ibadah telah dijalankan sesuai Firman Tuhan.

Tapi mungkin kita bertanya-tanya mengapa pemimpin Firman / pendeta GKI mengenakan jubah hitam dengan sedikit warna putih di bagian leher. Jubah hitam merupakan jubah jenewa yang dikenal dengan nama toga. Sedangkan warna putih di bagian leher dikenal dengan nama kolar. Keduanya berasal dari pakaian dinas pejabat negara dalam Imperium Romanum dan di negara-negara Eropa lain. Pakaian inilah yang kemudian dipakai gereja sebagai pakaian liturgis. Maknanya ialah bahwa orang yang memakainya dalam ibadah (baik pendeta maupun majelis) telah ditahbiskan atau diberi otoritas oleh jemaat untuk melakukan tugas pemberitaan Firman. Di samping itu, pakaian ini juga menjadi tanda bahwa mereka bertindak dan berbicara dalam fungsi dan tangung jawab sebagai pelayan gereja. Sedangkan dalam hal musik, umumnya GKI menggunakan alat musik piano / organ untuk mengiringi ibadah. Ibadah berlangsung selama ± 1,5–2 jam, dengan pemberitaan firman selama ± 30-40 menit. (PRAISE #4 / Filia).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus