LITURGI GEREJA BETHEL INDONESIA

LITURGI GEREJA BETHEL INDONESIA

Published On Desember, 12 2012 | By Vido Fransisco Pardede

PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA & PENGARUHNYA TERHADAP LITURGI

            Harus diakui lagu dan musik gereja mengalami perubahan sesuai dengan doktrin dan budaya pada zamannya. Sebagai contoh, setelah terjadi reformasi (abad ke-16) dalam gereja, musik gereja juga ikut berubah. Misalnya, gereja katolik yang terkenal dengan lagu-lagu Gregorian mulai mengadakan sedikit perubahan. Lagu-lagu Gregorian yang dipakai juga oleh gereja-gereja reformasi hanya diubah, diberi ketukan, sehingga lagu-lagunya mudah dipahami.

            Perkembangan abad ke 18-19, orang lebih mengarah kepada hal-hal yang rohani. Hubungan Tuhan dan manusia menjadi segalanya. Cuma sekarang timbul masalah bukan hanya soal budaya, tetapi pemahaman terhadap siapa Tuhan dan sangat mempengaruhi penciptaan lagu. Misalnya di Inggris, lagu-lagu gereja dibuat seperti untuk menghormati seorang ratu, karena system pemerintahan mereka. Maka Tuhan digambarkan  seperti raja yang harus dihormati dengan formal, sehingga karakter lagunya kalem dan jauh dari tepuk tangan. Karenanya pada zaman itu orang tidak berani membuat ibadah dengan tepuk tangan. Bangunan gereja juga disesuaikan dengan gambaran keagungan Tuhan yang luar biasa, yaitu dibuat besar dan megah. Jadi musik gereja zaman itu dipengaruhi oleh tatacara dan sopan santun yang berlaku.

Perkembangan selanjutnya, pada abad ke-20 adalah masa ‘revival movement’.Karena konsepnya mengumpulkan orang banyak di suatu tempat, maka lagu-lagu yang dibuat yang bisa membangkitkan semangat dan mudah dimengerti.

            Lagu-lagu yang beredar dengan pesat di pasaran sekarang mayoritas didominasi oleh lagu-lagu Kristen kontemporer, dikemas dalam arransemen musik yang apik, sehingga ada semacam penggolongan lagu ‘lama’ (kuno) dan masa kini (modern). Memang lagu-lagu yang kita sebut ‘kuno’ tadi lebih terjaga baik pilihan kata, syair, gramatika dan muatan teologisnya. Karena selain untuk kepentingan liturgi, juga untuk apologet (menangkis ajaran sesat saat itu). Nah, apakah lagu-lagu gospel masa kini yang sudah menjamur di gereja-gereja dapat dipertanggungjawabkan secara teologis? Seyogyanya lagu-lagu yang dikarang bukan hanya berdasarkan Alkitab, tetapi juga hasil pergumulan dan persekutuannya dengan Tuhan Yesus, sehingga tidak ada sindiran “lagunya lebih rohani daripada orangnya”, lagunya lebih bisa menjadi berkat bagi banyak orang, ketimbang hidup dan kelakuan si pengarang.

 

LITURGI IBADAH GEREJA BETHEL INDONESIA

Perbedaan susunan tata ibadah atau liturgi pada denominasi gereja yang berlainan memiliki alasannya masing-masing. Sejarah, filosofi, psikologi para pendiri dan budaya setempat biasanya mengambil peran cukup dominan dalam pembentukan sebuah liturgi. Mengklaim bahwa liturgi gerejanya adalah yang paling Alkitabiah, secara pisik tidak bisa, karena Yesus sendiri tidak pernah mengajarkannya. Secara filosofi bisa dibenarkan yaitu pada penerapan nilai-nilai rohani Alkitab dalam tata urutan ibadah.

            Gereja Bethel Indonesia misalnya. Gereja yang berdiri tanggal 6 Oktober 1970 di Sukabumi, Jawa Barat ini, menurut penuturan langsung dari salah satu pendirinya, H.L Senduk (alm) yang tertuang dalam buku Mekanisme Organisasi GBI menyebutkan:

Ibadah dalam GBI tidak kaku dan terikat pada liturgi yang telah dicetak di atas kertas. Sebagai tubuh kristus, dalam tiap ibadah, anggota-anggota harus dibangunkan dalam imannya (1 Korintus 14:12). Dimana Roh Kudus ada, di situ ada kebebasan (2 Korintus 3:17). Kita harus bebas dalam ibadah kita, termasuk bertepuk tangan dan pemakaian alat musik lengkap (keyboard tunggal atau grup band) (Galatia 5:1). Tetapi kemerdekaan itu tak boleh disalahgunakan (Galatia 5:13). Dalam semua ibadah, tidak boleh ada kekacauan, tetapi semua harus berjalan dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14:40). Roh kudus harus memimpin ibadah kita, agar Kristus selalu dipermuliakan (Galatia 5:25, Yohanes 16:13-14).

Unsur dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia pada prinsipnya harus ada:

Menyanyi dengan sukacita memuji Tuhan (1 Tes. 5:16)

Berdoa bagi diri sendiri dan bagi orang lain (1 Tes. 5:17)

Mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala hal (1 Tes. 5:18)

Menyembah Tuhan dalam Roh (1 Tes. 5:19)

Memperhatikan karunia Roh Kudus (1 Tes. 5:20)

Memberitakan Firman Tuhan (2 Tim. 4:2)

Memberi persembahan syukur dan perpuluhan (1 Kor. 16:2, Mal. 3:10, Mat.23:23, 2 Kor. 9:6-7)

 

Pada prakteknya di beberapa gereja yang kami pantau, terlihat susunan ibadah Gereja Bethel Indonesia kebanyakan sbb:

 

 

 

 

 

 

 

Adapun corak ibadah kegiatan gereja dalam rangka memenuhi kebutuhan pastoral GBI, beraneka ragam:

Ibadah anak-anak (Sekolah Minggu)

Remaja dan pemuda

Wanita (WBI)

Kebaktian umum

Penginjilan disertai doa untuk orang sakit

Pelajaran Alkitab

Kebaktian doa

Penataran/Seminar/Ceramah (uraian tentang berbagai pokok)

Kebaktian duka (pemakaman, penghiburan)

Kebaktian pernikahan atau sesuatu pesta

Kebaktian di luar gedung Gereja (lapangan terbuka atau Balai Umum).

 

GBI menekankan bahwa dalam segala ibadah, harus sadar selalu bahwa Kristus ada di tengah-tengah kita, (Mat.18:20). (Diambil dari PRAISE # 3)/TSuw/YIS).

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus