Kejatuhan Megastar Pastor Dr. David Yonggi Cho

Kejatuhan Megastar Pastor Dr. David Yonggi Cho

Published On Maret, 06 2014 | By Vido Fransisco Pardede

       Dr. David Yonggi Cho, seorang pastor sebuah gereja dengan jemaat Pantekosta terbesar di dunia, dinyatakan bersalah oleh pengadilan Korea Selatan karena melakukan pelanggaran kepercayaan dan korupsi dari 130 miliar won (US $ 21 juta). Pendeta senior Gereja Yoido Full Gospel tersebut menerima hukuman percobaan dari hukuman penjara tiga tahun dengan masa percobaan lima tahun dan diwajibkan membayar denda sebesar 50 miliar won (US $ 4,7 juta) oleh Seoul Central Court pada 20 Februari 2014. Dalam pengadilan yang sama, putra Cho Penatua Hee - Jun, mantan CEO gereja, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena berkolusi dengan ayahnya dalam skema penggelapan pada tahun 2002 lalu. Jaksa mengidentifikasi David Cho sebagai kaki tangan untuk kejahatan pelanggaran kepercayaan, mengklaim bahwa Cho menggunakan uang itu untuk membantu memulihkan keuangan anaknya.
         Pastor Yonggi Cho, yang kini berusia 78 tahun mengatakan bahwa itu adalah hari yang paling sulit selama 50 tahun pelayanannya ketika ia menerima putusan tersebut.
"Melalui penderitaan ini, saya telah belajar suatu pekerjaan rumah. Seseorang seharusnya tidak boleh memiliki semuanya, selain kesehatan, status, ketenaran, kekuasaan, uang ... ini semua hal-hal yang di luar tubuh dan tidak layak untuk dikejar" kata Cho kepada jemaatnya di Yoido Full Gospel Church pada 23 Februari 2014

Kontroversi David Yonggi Cho
          Menurut laporan, Cho juga dinyatakan melakukan penyalahgunaan kepercayaan pada tahun 2002 dengan memerintahkan gereja untuk membeli saham anaknya, Penatua Hee - Jun empat kali harga pasar. Transaksi itu mengakibatkan kerugian gereja sebesar 13 miliar won ( US $ 12 juta ). Selain itu, Cho juga ditemukan bersalah atas penggelapan pajak sebesar 3,5 miliar won ( US $ 3,3 juta ).
          Tak hanya itu saja, Beberapa tahun belakangan ini memang nama Cho telah masuk dalam subyek kontroversi. Pada bulan Maret 2011, Cho dilaporkan karena pernyataannya bahwa tragedi Tsunami Tohoku 2011 bisa menjadi peringatan dari Allah kepada jepang yang sudah semakin materialistis, sekuler dan sebagai Negara penyembah berhala. Tak hanya itu, Kontroversi Cho berlanjut pada bulan September 2011, dimana sebanyak 29 dari 1.500 penatua gereja mengajukan gugatan ke Jaksa Korea terkait penggelapan dana Yoido Full Gospel Church. Para Jaksa Korea telah memulai penyelidikan terhadap Cho atas dugaan penggelapan dana sebesar $ 20 juta USD atau setara 23 miliar rupiah.
          Kisah skandal mega gereja masih tampak jauh dari selesai. Pada tanggal 30 November 2013, sekelompok 30 penatua jemaat melaporkan pendeta dan sekelompok loyalisnya melakukan penggelapan dan korupsi dana dengan nilai sekitar 500 juta USD. Ha Sang-ok, yang merupakan bagian dari kelompok selama hampir dua dekade, mengaku terlibat dalam beberapa penipuan: "Dalam 14 tahun terakhir saya telah melihat dan melakukan hal-hal buruk aku mencoba meyakinkan pendeta untuk berhenti, tapi dia membayar.”

Kehidupan David Yonggi Cho
          Dilahirkan dan dibesarkan di keluarga Buddha pada 14 Februari 1936 dari pasangan Cho Doo - chun dan Kim Bok -sun. Sulung dari 5 bersaudara ini sempat tidak mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang disebabkan oleh bangkrutnya bisnis dari ayahnya. Ia terdaftar di sebuah sekolah tinggi yang terjangkau dan mengambil ilmu perdagangan. Belajar Bahasa Inggris dengan temannya di sebuah pangkalan milier Amerika di dekat sekolahnya. Tak disangka dia dengan cepat bisa menguasai bahasa Inggris, akhirnya menjadi penerjemah bagi komandan militer dan kepala sekolahnya. Menginjak usia 17 tahun Cho mulai bertobat menerima Yesus Kristus, berawal dari kunjungan seorang gading yang selalu menceritakan tentang Yesus Kristus kepada dirinya. Terpanggil untuk melayani sebagai penerjemah bagi Ken Tize seorang penginjil Amerika. Pada tahun 1956 , ia menerima beasiswa untuk belajar teologi di Full Gospel Bible College di Seoul dan lulus pada Maret 1958 .
           Pada bulan Mei 1958, Cho mengadakan kebaktian pertamanya di rumah temannya , Choi Ja -Shil . Hanya Choi dan ketiga anaknya menghadiri kebaktian itu, tetapi gereja ini berkembang sangat pesat dan memiliki 50 anggota . Cho dan anggota The Daejo Church mulai mempromosikan dengan gencar mengetuk pintu dan mengundang orang untuk datang ke gereja, hanya dalam waktu tiga tahun itu telah berkembang menjadi 400 jemaat.
           Cho menikah Kim Sung-hye pada tanggal 1 Maret 1965. Sementara itu , Cho telah terus bekerja terlalu keras, dan menderita kehancuran pada tahun 1965. Tahun 1973, Choe mendirikan The Yoido Church di Korea Selatan, sampai saat ini David Yonggi Cho atau yang sebelumnya dikenal Paul Yonggi Cho ini memimpin gereja dengan jemaat terbesar di dunia tersebut dengan jumlah jemaat mencapai 1juta orang. 

Penghargaan dan kehormatan
          Memang nama besar Pastor Cho tak bisa dipungkiri lagi, bahkan banyak kehormatan yang telah ia terima seperti gelar Doktor Keilahian yang ia terima dari Bethany Bible College, Santa Cruz, California, pada tahun 1968. Tak hanya itu Cho juga dianugerahi The Family of Man Medallion oleh CCCNY ( The Council of Churches of the City of New York ) di Brooklyn, New York pada tanggal 18 Mei 2005. The Family of Man Medallion diberikan kepada" orang-orang yang memberikan contoh keunggulan dalam penggunaan yang diberikan Tuhan talenta dalam pelayanan umat manusia. "Sejak tahun 1963, Dewan telah memberikan penghargaan kepada mantan presiden AS : John F. Kennedy, Dwight D. Eisenhower , Richard M. Nixon, dan Jimmy Carter dan juga kepada John D. Rockefeller III. Dr Cho adalah orang kedua puluh lima dan orang Asia pertama yang menerima The Family of Man Medallion. Calvin Butts, Presiden CCCNY mengatakan, "Kami memutuskan untuk menghormati Dr Cho karena upaya yang sungguh-sungguh untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Ia menanam gereja dengan hanya lima anggota pada tahun 1958, dan ia masih melayani dengan gereja yang telah menjadi gereja terbesar di dunia. Dia adalah hamba Allah yang terus memberitakan Injil di seluruh dunia, membawa banyak jiwa kepada Kristus. Ia juga menulis buku-buku Kristen yang sangat berinspirasi”
           Cho tidak membantah atas keputusan atas skandalnya tersebut, tetapi sebaliknya menguji diri dari perspektif iman. Cho kemudian meminta jemaat berdoa untuk penggantinya, pendeta  Lee Hong. Dalam khotbahnya, Lee meminta maaf kepada jemaat untuk dampak negatif yang dibawa oleh kasus Cho kepada mereka. Dia mendorong mereka untuk meupakan masa lalu dan terus maju ke masa depan, dan untuk melanjutkan penyebaran Injil kepada orang-orang yang belum menerima kasih Kristus. Mungkin masih segar diingatan kita ketika Pastor Benny Hinn bercerai, tapi kemudian Tuhan sanggup memulihkan keadaan rumah tangga mereka. Kotbah pemulihan bukan hanya untuk jemaat, tapi  ketika hamba-hamba Tuhan ini yang mengalami kejatuhan, pemulihan tetap berlaku untuk mereka. (VF/dari berbagai sumber) www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus