Junaedi Shalat

Junaedi Shalat

Published On Desember, 19 2012 | By Vido Fransisco Pardede

TINGGALKAN KETENARAN, RAIH KEBENARAN

The time to take counsel of your fears is before you make an important battle decision. That`s the time to listen to every fear you can imagine! When you have collected all the facts and fears and made your decision, turn off all your fears and go ahead! ( Saat anda mengambil semua nasehat dari ketakutan anda, itu adalah hal yang penting sebelum anda mengambil keputusan, dan Itulah waktu yang tepat untuk mendengarkan setiap ketakutan yang dapat Anda bayangkan! Bila anda telah mengumpulkan semua  fakta, matikan semua ketakutan anda lalu beri keputusan!! )

MENEMPUH JALAN KETENARAN

Junaedi Shalat adalah seorang seniman yang dimiliki negri ini. Lahir di lampung pada tahun 1950. Sejak kecil beliau mempunyai impian untuk menjadi seorang seniman. Setamat dari SMP ia merantau ke Jakarta, dengan suatu kerinduan untuk menyelesaikan pendidikannya di kota yang besar dan berharap menemukan sesuatu yang akan merubah hidupnya nanti. Setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya di Jakarta, Ia mengadu nasib dengan bekerja di Taman Ismail Marzuki untuk menjadi pengurus gedung. Sampai pada suatu hari ia mendapatkan tawaran dari aktris senior Rahayu Effendi untuk memainkan peran di film ‘Aku Tak Berdosa’ dan kebetulan ia langsung mendapatkan peran utama di film tersebut, kesempatan itu tidak disia-siakan olehnya. Karena berakting cukup menawan di film perdananya, otomatis tawaran film berikutnya pun datang menghampirinya, kali ini ia bermain dengan Dewi Puspa dalam film keduanya ‘Susana’ berperan bersama artis yang sudah tak asing pada waktu itu, Yenny Rachman. Di antara semua film-filmnya, yang paling sukses mempopuler namanya ialah film ‘Ali Topan Anak Jalanan’, Ia bermain dengan Yati Octavia, film itu menceritakan kisah anak remaja yang mempunyai keluarga berantakan tetapi tetap melakukan tugas-tugasnya dengan baik, kisahnya diilustrasikan dari novel karya Teguh Esha. Selain sebagai aktor yang ngetop di era 70an, ternyata beliau juga mahir dalam menciptakan lagu. Bersama Jockie Suprayogo, Guruh Soekarno Putra dan mendiang Chrisye, beliau banyak menciptakan lagu yang cukup dikenal hingga kini, seperti ‘Burung Camar’, ‘Juwita’, dan ‘Sabda Alam’. Setelah menjalani karir yang panjang sebagai aktor di film-film layar lebar, akhirnya di medio 70an beliau terjun ke dunia musik. Single seperti ‘Burung camar’ dan ‘Masa Remaja’ yang ada di dalam dua albumnya teranyarnya yaitu ‘Burung Camar’ dan ‘Joni Teler’ sempat menjajaki chart-chart radio lokal di akhir 70an.

MENELUSURI JALAN KEBENARAN

            Setelah dunia film dan musik membawa Junaedi Shalat pada puncak ketenaran, di tahun 1978 beliau menikahi seorang perempuan berdarah batak yang bernama Mauli. Mereka memutuskan untuk menikah dengan perbedaan agama, Mauli yang beragama kristen dan Junaedi yang belum mengenal Kristus. Setelah menjalani kehidupan perkawinan dengan beda agama, keluarga Junaedi - Mauli berjalanan tidak harmonis, mereka banyak mengalami perselisihan dan percekcokan dalam meributkan soal perbedaan agama yang mereka anut dan Hal itu juga dikarenakan kebiasaan Junaedi yang pada saat itu masih sering mengkonsumsi narkotika. Hingga suatu ketika saat ia hendak pergi ke sebuah studio rekaman sehabis bertengkar besar dengan istrinya, ia berkata dalam hati "Wahai Yesus jika memang Engkau benar-benar Tuhan, tampakkanlah dirimu!" Tiba-tiba terjadi penampakan seorang yang tak dikenalnya duduk dalam mobil tepat di sampingnya. Pria itu berjubah serba putih dan menyerupai gambaran seorang Yesus Kristus yang saat itu tidak seberapa ia kenal. Setelah sempat merasa bingung dan takjub akan kejadian itu, di hari Natal tahun 1984, Junaedi memutuskan untuk bertobat dengan menghentikan kecanduan narkotiknya dan siap mendeklarasikan bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat bagi hidupnya. Setelah mengalami lahir baru dalam hidupnya, Beliau terjun menjadi seorang pengkhotbah, penyanyi rohani dan pengarang lagu-lagu rohani. Pada siang itu, beliau menceritakan dengan gamblang pada majalah PRAISE tentang hidupnya yang telah mendapatkan kesejukan dan kedamaian saat berpegang teguh pada Yesus Kristus. Hal itulah yang membuatnya untuk tidak segan-segan berbagi dengan memberitakan pada semua orang bahwa Yesus Kristus adalah Juru selamat dunia. Kemudian pada saat ini beliau mendirikan sebuah persekutuan doa yang diperuntukkan kepada pribadi-pribadi yang baru mengenal Kristus dan kebanyakan datang dari suku Betawi. Bukan hanya itu, beliau juga merilis beberapa album rohani yang cukup nyentrik, dengan menggabungkan unsur betawi dan timur tengah untuk menjadikannya sebuah album rohani yang unik. Memang diakui darah seni dari pribadi yang selalu terlihat tenang saat berbicara pada majalah PRAISE ini tidak pernah hilang dalam hidupnya. Beliau adalah pribadi yang cerdas, analisis dan kritis yang sempat menjadi Icon di tahun 70an dan kini menjadi pribadi yang rajin memberitakan kebesaran Tuhan Yesus Kristus pada dunia orang-orang tak percaya. Keputusan yang benar telah diambilnya, dan kini tinggal Tuhan Yesus yang akan melakukan tugasnya dengan memberikan kehidupan yang baik dalam setiap aspek hidup seorang Junaedi Shalat, amin. *(Jr / Praise #20 / 2011)

Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus