JOY TO THE LORD (Kesukaan Bagi Dunia)  (George Friederic Handel, 1685-1759)

JOY TO THE LORD (Kesukaan Bagi Dunia) (George Friederic Handel, 1685-1759)

Published On Desember, 14 2012 | By David

            Pernahkah Saudara dilarang dan dihalang-halangi saat melakukan sesuatu hal yang baik, positif dan menyenangkan ? Apakah Saudara kemudian menjadi putus asa dan berhenti melakukan aktivitas yang positif tersebut ? Ataukah Saudara terus mencari segala cara dan memutar otak agar bisa terus melakukan hal yang positif tersebut ? Ada seorang anak yang tetap berusaha maju terus mengembangkan bakatnya meskipun dia dihalang-halangi untuk itu. Dan karena dia pantang menyerah, Tuhan memakainya untuk memuliakan namaNya melalui talentanya.  

MASA KECIL HANDEL
            Ada seorang anak laki-laki yang lahir di Halle, Jerman, pada tahun 1685. Ayahnya seorang ahli bedah sekaligus tukang cukur. Sebagai seorang yang memiliki naluri bisnis yang tinggi, dia sangat menginginkan agar anaknya menjadi seorang pengacara. Ibu anak ini adalah seorang wanita yang saleh, karena dia putri seorang pendeta gereja Lutheran. Ibunya senang mengajarkan tentang cerita-cerita Alkitab kepada anaknya.
            Nama anak laki kecil itu adalah George Frideric Handel. Sejak kecil dia senang sekali memainkan alat musik, yaitu piano kecil. Namun ayah Handel melarang dia untuk belajar musik. Ayahnya menganggap bermain musik adalah ‘aktivitas yang hanya membuang-buang waktu’. Tetapi bakat musik Handel kecil begitu mendarah daging, sehingga tidak mungkin bakat itu dia pendam terus.
            Diam-diam Handel kecil mencari cara agar bisa tetap bermain musik. Ia sering bangun pada tengah malam, saat semua orang lain tertidur lelap, lalu ia memainkan piano kecil milik keluarganya dengan pelan-pelan sekali, agar ayahnya tidak terbangun. Begitulah Handel terus diam-diam berlatih dan berlatih musik.
            Pada saat Handel berumur sekitar 8 atau 9 tahun, seorang bangsawan mendengarkan Handel memainkan musik di suatu ruangan dekat kantor pengacara. Sang bangsawan itu lalu memanggil ayah Handel dan memberitahu bahwa dia perlu mendukung talenta musik anak laki-lakinya yang sangat berbakat dan cemerlang itu. Ayah Handel diperingatkan oleh bangsawan itu bahwa jika dia memaksa putranya yang genius musik itu menjadi pengacara, maka tindakannya itu bisa dikategorikan kriminal. Akhirnya sang ayah berhasil dibujuk agar menyetujui anaknya belajar musik. Rencana ayah Handel untuk menyekolahkan dia ke jurusan hukum pun akhirnya dibatalkan.
            Guru musik Handel adalah Friederich Wilhelm Zachow, seorang musisi dan guru yang sangat imajinatif dan berpengetahuan luas. Zachow menanamkan kepada Handel muda rasa ingin tahu sepanjang hidupnya. Dia juga mengajari Handel organ, harpsichord, biola dan oboe. Handel belajar pula tentang harmoni, kontrapung, dan orkestrasi yang rumit. Pada umur 11 tahun, Handel mulai mengarang musiknya sendiri, komposisi musik pertamanya. Dia juga memainkan organ untuk menggantikan gurunya saat diperlukan.

MASA KEJAYAAN HANDEL
            Pada umur sekitar 17 atau 18 tahun, Handel meninggalkan tanah kelahirannya, Halle, menuju Hamburg. Dia ingin mencari cara untuk mengerjakan ide-ide yang memenuhi kepalanya. Setelah dua tahun di sana dia menghasilkan karya operanya yang pertama, yaitu Almira. Dan karena sudah memiliki reputasi, dia pergi ke Italia yang merupakan ‘tanah perjanjian para musisi’. Handel selalu tertarik pada melodi dan suara yang indah. Ia terus memakai melodi-melodi yang indah sepanjang hidupnya.
            Di Italia, Handel mengalami masa kejayaan. Dia menulis oratorio-oratorio dan juga opera-opera. Saat tinggal di Venesia, Handel menjadi teman akrab dari Domenico Scarlatti, seorang komponis papan atas Italia. Suatu waktu di Italia, Handel bertemu adik laki-laki calon raja Inggris, George I. Dia diundang datang ke Inggris. Akhirnya pada umur 27 tahun dia pindah ke Inggris dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.
            Tiga puluh tahun setelah tinggal di Inggris, Handel menciptakan sekitar 40 opera dan Handell mendapat dukungan dana dari istana Inggris untuk aktivitas musiknya. Handel juga belajar meminjam, dan menyalin karya-karya musik dari orang-orang besar seperti Corelli, Vivaldi dan lainnya. Namun jika dia meminjam musik orang lain, dia membungkus bahan musik yang dia pinjam itu dengan keindahan yang baru dan membuat musiknya menjadi lebih baik dan abadi bagi semua generasi, sehingga orang sulit mengenali keberadaan karya musik itu dulunya sebelum diadaptasi.
             Selain karya musik umum, Handel juga menulis karya-karya musik Kristen seperti  Esther, Saul, Israel in Egypt. Karya-karya opera itu dia pentaskan di teater umum dan menjadikan Handel sangat terkenal. Saat karya Handel dipentaskan, jalanan menjadi macet, karena orang berbondong-bondong mendatangi gedung opera sampai membludak.
             Tetapi banyak orang Inggris yang tidak begitu menyukai Handel. Badannya besar dan ia gemar makan makanan yang lezat. Ia memiliki tangan yang besar, kaki yang besar, pakaiannya agak mentereng, ia mengenakan rambut palsu besar berwarna ikal putih berombak-ombak tergerai sampai ke bahu. Suara Handel keras, dan dia sering marah-marah kepada orang-orang yang berbantah-bantah dengannya. Handel memang seorang yang emosional, dia mencintai kebebasan, dan membenci pembatasan yang mengekang ekspresi seni musiknya.   
             Tidak heran kalau kebanyakan anggota gereja di Inggris tidak memandang dia sebagai teladan seorang Kristen, terlebih lagi saat dia mementaskan karya Kristennya di teater umum dan bukan di gereja. Para anggota gereja Inggris hanya menghormatinya sebagai musikus besar. Akan tetapi, kalau kita melihat lebih dalam sesungguhnya di balik penampilan luar Handel yang agak kurang menyenangkan itu, dia adalah seorang pengikut Kristus yang saleh dan setia.

JATUH BANGUNNYA KARIR HANDEL
            Setelah sukses bertahun-tahun, pada pertengahan 1720-an, ketenaran Handel mulai memudar. Bahkan pada saat umurnya 43 tahun, akademi musik miliknya dinyatakan bangkrut. Orang-orang Inggris tidak tertarik lagi dengan opera-opera Handel yang berbahasa Italia. Namun Handel pantang menyerah, dia terus bekerja keras, dan karena kerja berlebihan terus, pada umur 52 tahun stress dan tekanan yang dia alami menyebabkan Handel mengalami kelumpuhan, keempat jari tangan kanannya tak bisa digerakkan. Para kritikus musik mengatakan bahwa inspirasi Handel sudah punah dan seleranya sudah ketinggalan zaman. Pada saat itu opera-operanya gagal terus saat dipentaskan, dia telah ditinggalkan para penggemarnya. Ditambah lagi dia terlilit hutang, dan kreditornya mengancam akan memenjarakannya jika dia tidak melunasi hutangnya. Di usia 56 tahun dia bahkan berpikir, apakah sebaiknya dia meninggalkan dunia musik secara total.
            Namun ternyata, di suatu pagi dia menerima sebuah buku yang berisi syair yang begitu indah, yang merupakan cuplikan dari berbagai kitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dengan mengandalkan imannya, Handel bekerja keras mengerjakan karya ‘Messiah’ tanpa pernah keluar rumah satu kalipun dan dia berhasil menyelesaikannya dalam waktu 23 hari.
            Pada saat usianya 57 tahun, karya musik oratorio ‘Messiah’nya dipentaskan dan mendapat sambutan yang meledak dimana-mana. Sejak itu Handel dapat mengalahkan depresinya dan inspirasinya pun pulih kembali. Kemudian dia menciptakan sejumlah karya musik baru yang sukses.
            Pada akhir masa hidupnya, Handel yang tidak pernah menikah itu, mengalami kebutaan pada usia 68 tahun, namun dia terus bermusik. Suatu kali selesai memimpin pertunjukkan Messiah, dia roboh dan pingsan, lalu dibawa pulang. Dia meninggal keesokan harinya pada hari Jumat Agung tahun 1759 di usia 74 tahun.

MAKIN SUKSES SETELAH MENINGGAL DUNIA
            Pada tahun 1836, hampir satu abad setelah Handel meninggal dunia, ada seorang pemusik Amerika yaitu Lowell Mason yang mengambil dua bagian dari oratorio ‘Mesiah’nya Handel dan disatukan dengan syair dari seorang penyair Kristen bernama Isaac Watts yang juga telah meninggal dunia. ‘Pernikahan’ antara melodi yang hebat dan syair yang hebat itu menghasilkan lagu ‘Joy To The World’ (Kesukaan Bagi Dunia) yang saat ini terus dikumandangkan oleh orang percaya di seluruh dunia pada setiap musim Natal. (Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku Story Behind The Song terbitan Yis Production)
            Pastilah Handel tidak pernah berpikir bahwa bagian dari karya musiknya, satu abad kemudian akan ‘dinikahkan’ dengan suatu syair yang sangat luar biasa dan menjadi perpaduan musik Natal yang sangat indah, menjadi berkat bagi jutaan orang di seluruh dunia.
            Itulah misteri keajaiban Tuhan, yang mampu membuat karya anak-anakNya makin berkibar, berpuluh-puluh bahkan beratus tahun setelah mereka meninggal dunia. Jadi buatlah karya-karya kita sebaik mungkin, karena Dia bisa memakainya untuk kemuliaanNya bahkan lama sekali setelah kita meninggal dunia. Wow…betapa menakjubkannya, jika kita sudah tidak ada di dunia ini, tetapi semua karya kita terus berkibar memuliakan kebesaran Kristus, Raja segala raja.
            Apakah kita pernah berpikir bagaimana pengaruh pekerjaan kita 100 tahun setelah kita meninggal dunia ? Pernahkah Saudara membayangkan 100 tahun setelah Saudara meninggal, kemudian ada orang-orang yang menggabungkan karya Saudara dengan karya orang lain, sehingga gabungan karya itu menghasilkan karya baru yang meledak luar biasa hebatnya? (Sumber : Praise #3).

Lirik & Chord Lagu ini dapat dilihat di SONGS

JOY TO THE WORLD

Joy to the World , the Lord is come!
Let earth receive her King;

Let every heart prepare Him room,

And Heaven and nature sing,

And Heaven and nature sing,

And Heaven, and Heaven, and nature sing.

Joy to the World, the Savior reigns!
Let men their songs employ;
While fields and floods, rocks, hills and plains
Repeat the sounding joy,
Repeat the sounding joy,
Repeat, repeat, the sounding joy.

No more let sins and sorrows grow,
Nor thorns infest the ground;
He comes to make His blessings flow
Far as the curse is found,
Far as the curse is found,
Far as, far as, the curse is found.

He rules the world with truth and grace,
And makes the nations prove
The glories of His righteousness,
And wonders of His love,
And wonders of His love,
And wonders, wonders, of His love.

KESUKAAN BAGI DUNIA

Kesukaan bagi dunia
Penebus datanglah
B`ri hatimu kepadaNya
Sekalian nyanyilah
Sekalian nyanyilah
Sekalian orang bernyanyilah

Hai dunia gambiralah
Dan sambut Rajamu
Di hatimu terimalah
Bersama bersyukur
Bersama bersyukur
Bersama-sama bersyuku

https://www.youtube.com/watch?v=P3cfr6U4g3g

Sumber : www.majalahpraise.com

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus