Jordan Kurniawan

Jordan Kurniawan

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

MUSIK ROHANI DAN SEKULER SAMA SAJA

BELAJAR SECARA OTODIDAK

       Mungkin nama Jordan Kurniawan masih asing di telinga kita. Tapi jika kita sering memperhatikan band-band musik rohani, nama UX Band sudah tak asing lagi. Jordan adalah pemain drum di grup musik ini.

       Sejak kecil Jordan sudah menyukai musik, tapi untuk mempelajari bagaimana tehnik-tehnik bermain drum, Jordan hanya belajar secara otodidak dan juga banyak bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya, termasuk belajar kepada musisi yang lebih senior, salah satu di antaranya adalah Cendy Luntungan.

       Meskipun sangat suka alat musik drum tapi Jordan juga dapat memainkan keyboard. Karena saat ia bergabung di grup musik UX, tidak langsug menjadi drummer. Awalnya pada tahun 2004, grup UX sedang membantu tim Praise and Worship gereja Jordan (GBI Setia Budi Bandung), lalu salah satu personil UX melihat kemampuan bermain keyboard Jordan yang cukup baik kemudian grup yang saat itu sedang membutuhkan pemain keyboard segera merekrut Jordan menjadi pemain keyboard mereka. Tak lama setelah itu, tepatnya 3 bulan kemudian grup ini ditinggalkan oleh drumernya, maka sejak saat  mulailah Jordan menempati posisi drum sampai sekarang.

BERKARYA DI DUA JALUR MUSIK

       Di usianya yang terbilang muda saat ini, Jordan sudah menciptakan kurang lebih 30 lagu yang bisa kita dengar di album-album UX band. Lagu-lagu yang ia ciptakan antara lain ‘Hanya Nama Yesus’ (Story behind the song nya dapat dibaca di hal 11, PRAISE 8 ini), ‘Terlalu Besar’ ‘Bersinar’, “Beri Puji’, ‘Tak Pernah Sendiri’ dan masih banyak lagi.  

       Pria yang lahir di Cianjur, 23 Juni 1983 ini kerap menjadi additional player (pemain tambahan) di industri musik sekuler, yaitu penyanyi Astrid dan beberapa grup band sekuler yaitu Colafloat, Lunatic Tokyo dan Kojo.

       Meski  berkarya di industri musik sekuler, tapi Jordan yang lahir dari pasangan hamba Tuhan GGP Pniel, Cianjur -Pdt. Eries Samuel dan Lidya- kerap membantu para musisi rohani dalam pembuatan album mereka, di antaranya Sari Simorangkir, Wawan Yap, Dewi Guna, Edward Chen, Jeffry S. Tjandra, Jefry Rambing, dll.

       Bagi musisi yang pernah belajar di jurusan musik Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini, musik adalah kekuatan yang sangat besar dan dapat mempengaruhi jiwa banyak orang. Untuk itulah ia rindu untuk menjadi berkat dan menghibur setiap orang melalui musik.

       Musik jugalah yang membuatnya mendapatkan berkat-berkat materi. Melalui lagu yang dihasilkan dan dari berbagai penampilannya di pentas musik ini telah membuatnya merasakan berkat Tuhan secara materi. “Tapi sebenarnya tujuan utama saya membuat lagu rohani bukan uang atau supaya dikenal banyak orang, tapi untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bukan berarti saya nggak butuh uang. Sekarangpun saya sedang berkarya di dua jalur musik, karena saya pikir dua-duanya adalah jalan untuk memberkati orang lain lewat musik,” ungkap pria yang punya hobi menonton film itu.

SEMPAT NGAMEN

       Setelah tergabung dalam grup UX, Jordan sering melayani pujian ke berbagai tempat, mulai dari kota-kota di Indonesia sampai ke belahan dunia lain, seperti Amerika, Australia, Eropa dan lainnya. Hal ini tentu semakin menambah pengalamannya dalam melayani Tuhan. Karena itu ia punya pengalaman yang paling berkesan, yaitu saat di desa Pesaren Bangka, karena saat itu ia dan grupnya melayani di sebuah KKR dimana orang-orang yang hadir mayoritas orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Selain itu ia juga mengalami kesulitan komunikasi karena telepon selulernya tidak bisa mendapat sinyal.

       Anak kedua dari tiga bersaudara ini selalu berusaha untuk sungguh-sungguh dalam setiap hal yang dilakukan dan selalu setia dari perkara kecil sekalipun. Itulah yang ia lakukan sebelum ia tergabung dalam grup UX.

       Pada tahun 2001, Jordan pernah menjadi pengamen di jalan Dago, Bandung untuk mencari uang. Pelajaran itulah yang membuatnya terus menyadari bahwa Tuhan selalu melihat bagaimana cara anakNya mengembangkan talentanya.

       Pria yang pernah menjadi best drummer di Festival musik rock se Jawa Barat ini berharap agar anak muda jaman sekarang yang semakin kreatif tidak melupakan Tuhan dalam hidupnya, seperti yang ia lakukan dahulu, dimana ia gemar menenggak minuman keras, sekalipun ia memiliki orangtua yang menjadi hamba Tuhan.

       Seiring dengan bertambahnya usia, kini Jordan semakin mantap menetapkan pilihannya pada Tuhan Yesus yang telah menyelamatkannya. Ia pun telah mantap menetapkan jalur hidupnya di dunia musik sebagai musisi sejati. “Musisi sejati adalah pemusik yang tidak melihat musik dari sudut komersial,” urainya kepada PRAISE.

       Berkaca pada raja Daud yang juga seorang seniman dan selalu memuliakan Tuhan dalam setiap hal, itulah yang juga ingin Yordan lakukan, sekalipun rutinitasnya sebagai pelaku seni sangat padat, tapi Yordan berusaha mendahulukan Tuhan. Seperti arti kata ‘Sela’ dalam kitab Mazmur yang berarti berhenti sementara, itulah yang ia ikuti. “Kata ‘Sela’ itukan artinya berhenti. Di sini penulis Mazmur mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini ada saat di mana kita harus berhenti atau istirahat dari kesibukan kita. Dan menghampiri Tuhan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Jangan sampai kita lupa pada Tuhan, karena Dia adalah gembala kita,” tutur pengagum dari Israel Houghton, Don Moen dan Daniel Alexander ini dalam logat Sunda yang khas. (min / Praise #8 / 2009)

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus