Jason Irwanto

Jason Irwanto

Published On Desember, 10 2012 | By Vido Fransisco Pardede

MIMPI YANG MENJADI NYATA

BERAWAL DARI LOMBA NYANYI

    Lagu “Sentuh Hatiku” pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Itu adalah salah satu karya pria bernama lengkap Jason Irwanto Chang. Setelah sukses dengan album “Sentuh Hatiku” (2006) dan album “Forgiveness” (2007), kini Jason kembali mengeluarkan album terbarunya yang diberi judul “Mimpiku Menjadi Nyata”. Album yang bernuansa pop ini, ditulis sebagian besar oleh Jason sendiri yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya dan juga orang-orang di sekitarnya.

     Sebelumnya Jason tak pernah menyadari kalau ia akan menjadi seorang penyanyi. Karena ia bercita-cita ingin membuka restoran. Semua bermula ketika ia mengikuti sebuah lomba menyanyi dangdut tingkat SMA yang diadakan di daerah Banten pada tahun 1996. Mulai saat itu ia belajar menulis lagu dan fokus pada dunia tarik suara.

MIMPI YANG MENJADI NYATA

     Album ini adalah album kesaksian hidup Jason dalam mengejar mimpinya untuk membahagiakan orangtua dan keluarganya. Dengan harapan album ini dapat menjadi berkat bagi anak-anak Tuhan agar jangan berhenti untuk mengejar impian hidup kita.

     Masa kecil Jason penuh dengan kesusahan dan penderitaan, ia terlahir dari kelurga yang belum mengenal Tuhan. Karena itu setelah mengenal Tuhan ia mulai menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan bertekad untuk membahagiakan keluarganya.

     “Saya mengerti betul bagaimana rasanya kesusahan, tidak tahu mau makan apa? Tidak bisa bayar uang sekolah, memiliki banyak hutang. Hidup saya tak berpengharapan. Tapi setelah saya kenal Tuhan hidup saya berubah. Saya bisa kuliah dan bekerja dengan memiliki gaji yang cukup,” ujar pria kelahiran 10 Agustus 1979. Tapi ketika sedang enak bekerja Tuhan memanggilnya menjadi Fulltimer (bekerja full buat Tuhan) dengan mengijinkannya sakit selama dua minggu. Dan selama tiga hari berturut-turut bermimpi bertemu dengan seorang petani yang sedang bekerja di ladang dan menyuruhnya bekerja di situ. Ketika itu seorang temannya datang dan mengingatkan nazarnya untuk menjadi hamba Tuhan.

     Merintis pelayanan di dunia tarik suara bukanlah hal yang mudah. “Ditolak gereja, belum nyanyi sudah dibatalin, CD dibuang orang, dipandang sebelah mata dan tidak dihargai orang adalah pengalaman yang membawa saya menuju pada proses Tuhan agar saya bisa memberi kesaksian kepada anak-anak Tuhan yang lain bagaimana cara menikmati proses itu, walau memang menyakitkan,” tutur pengagum Jonathan Prawira dan Sari Simorangkir ini.

BERTOBAT DENGAN LAGU HALELUYA 12X

     Perjuangan Jason dalam mengejar mimpinya tidaklah dicapai dalam waktu singkat, banyak orang yang meremehkan kualitas vokalnya. Apalagi Jason tak pernah secara khusus belajar vokal. Bakat seni yang mengalir dalam darahnya diturunkan sang Oma yang hobi menyanyi. Tapi semua itu malah membuatnya semakin termotivasi lagi untuk lebih sungguh menemukan panggilan Tuhan dalam hidupnya. “Seorang pemuji Tuhan adalah seorang yang mampu menghadirkan hadirat dan wibawa Tuhan ketika ia bernyanyi, membawa berkat, sukacita dan pengharapan kepada semua yang mendengarkan. Dan itu bukan berasal dari ilustrasi musik yang bagus atau kesaksian kita yang menyentuh saja, tapi dari hati yang tulus, hati yang menyembah, hati yang mengerti bagaimana mencintai, merindukan dan mempercayai Tuhan,” urai pria yang berjemaat di GBI Sungai Yordan, Grogol, Jakarta Barat.

     Karunia yang Tuhan berikan untuk menciptakan lagu-lagu yang indah disadari Jason merupakan anugerah yang tak ternilai, karena itu ia harus senantiasa menjaga hati dan sikap hidupnya, terutama hubungan pribadi dengan Tuhan. “Tanpa Tuhan saya tidak mungkin seperti sekarang ini, semua itu hanyalah anugerahNya,” tutur pria yang menjadikan Kisah Para Rasul 4:12 sebagai ayat masnya.

     Proses pertobatan Jason diawali ketika ia mengikuti sebuah retret di gereja dan ia mendengar lagu “Haleluya 12X” saat ia kelas 2 SMP. Melalui lagu singkat itu ia menyadari arti kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Kini Jason bukan hanya melayani Tuhan sebagai pemuji tapi ia juga melayani khotbah di ibadah kaum muda dan remaja. Karena itu pria yang pernah belajar teologi di ITKI Petamburan, Jakarta ini berniat untuk sekolah teologia kembali.

TETAP SEDERHANA DAN RENDAH HATI

     Sejak menggeluti dunia tarik suara praktis gaya hidup Jason berubah. Kini ia sering mendapat tawaran menyanyi dari berbagai tempat, semua itu memang membuat berkat dan popularitasnya bertambah, tapi itu semua tak merubahnya menjadi pribadi yang sombong. “Buat apa sombong, semua talenta yang Tuhan beri itu adalah milik Tuhan, dan Tuhan bisa ambil kapan saja Ia mau,” ujar penyanyi yang mendapat penghargaan dari IGMA untuk kategori “Song of the Year”, “Album of the Year” dan “Journalist Choice Song of the Year” pada Desember 2008 lalu.

     Menyikapi talenta yang sudah Tuhan beri bukan berarti kita harus bersikap semaunya. “Ada hal yang harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan, dan saya harus mengembangkan talenta yang Tuhan beri,” ujar anak sulung dari 4 bersaudara ini.

            Sukses yang kini ia dapatkan adalah buah dari kerja keras yang selama ini ia lakukan. “Ketika kita sudah memaksimalkan kapasitas diri kita, mengerti arti kata cukup dan bisa bersyukur itulah kesuksesan. Semua itu bisa kita dapat dengan fokus pada tujuan, menghargai setiap kesempatan walau kecil, berani ambil langkah, keluar dari zona aman tapi dalam tuntunan Tuhan,  menyerahkan semua keputusan pada Tuhan dan bergaul dengan komunitas yang baik,” ulas Jason panjang lebar. (min / Praise #6 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus