Isaac Arief

Isaac Arief

Published On Desember, 18 2012 | By Vido Fransisco Pardede

BERKARYA DI MUSIK SAMPAI TUTUP USIA

KEMBALI KE ALKITAB

            Menjadi penulis lagu tidak selalu membuat seorang musisi dikenal banyak orang, walapun lagu ciptaannya bisa sangat booming. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Bapak bernama lengkap Isaac Arief. Tapi toh, dengan rendah hati beliau berujar bahwa itu tidak masalah, yang penting lagu tersebut menjadi berkat dan nama Yesus ditinggikan.

            Sejak kecil Bapak Isaac Arief mengaku ingin menjadi pemusik. Beliau bahkan pernah membuat majalah musik sekuler yang bernama ‘Top Chord’ bersama rekannya. Tahun 70-an majalah ini cukup dikenal masyarakat, tapi sekarang sudah tidak terbit lagi.

Tak hanya mengelola majalah musik, sebagai bukti kecintaannya pada dunia musik, beliau telah banyak menulis lagu-lagu rohani, di antaranya ‘Lekat Erat’, ‘Yesus Sangat Mengerti’, ‘Roh Kudus Datanglah’ dan lainnya. Lagu-lagunya pun sudah banyak direkam oleh perusahaan rekama seperti Maranatha Record atau dalam album-album indie.

            Dalam menulis lagu, beliau tidak mau sembarangan. Menurutnya ada beberapa hal penting bagi seorang song writer untuk mencipta lagu, yaitu motivasinya harus mengajarkan kebenaran Firman Tuhan, meninggikan Kristus dan harus belajar firman Tuhan dengan sungguh-sungguh supaya tidak keluar dari jalurnya, yaitu kebenaran firman Tuhan. Tapi di antara semua itu, yang tak kalah penting adalah melibatkan Roh Kudus sebagai sumber inspirasi dalam doa, agar semua yang tertuang jangan melebihi yang tertulis (1 Korintus 4:6). Meskipun kadang masalah kehidupan ini bisa menjadi inspirasi dalam mencipta lagu, tapi semuanya harus kembali lagi ke Alkitab.

NIAT KE SEKULER

            Setelah mengetahui seluk beluk dunia musik rohani, gembala jemaat Gereja Bethel Indonesia jalan Bhayangkara, Ponorogo Jawa Timur ini, kini menjadi mentor untuk memberi pengarahan, pemilihan lagu rohani, mencarikan pemain musik, backing vocal sampai pada pemasaran album-album indie yang diproduserinya. Dan juga mengajarkan lagu ke jemaatnya.

            Dan saat ini beliau sedang mencoba untuk merambah ke dunia musik sekuler, yaitu dengan mempersiapkan kedua anaknya, Claudia Jane Susanto dan Samuel Adriel Susanto yang akan membentuk grup band sekuler. “Doakan saja agar pilar art dan musik dikuasai oleh orang-orang Kristen dalam gerakan transformasi di Indonesia,” harap Bapak yang pernah menjuarai lomba menulis lagu di Sola Gracia dan GPKDI (Gereja Pentakosta Karismatik di Indonesia) beberapa waktu lalu.

            Industri musik rohani yang sekarang berkembang pesat tak membuatnya cemas dengan persaingan yang memang semakin ketat. “Kerinduan saya sekarang ingin terus berkarya di musik rohani sampai tutup usia, membentuk  kelompok musik rohani untuk terjun di kancah musik sekuler. Dan membantu orang-orang yang mau membuat album rohani, mengingat banyak orang yang nggak tahu caranya dan bahkan banyak yang tertipu oleh orang-orang yang motivasinya cari duit saja,” urai hamba Tuhan yang  mulai lebih serius lagi dalam panggilan Tuhan dengan bergabung Youth With A Mision, di Lembang (Jawa Barat) tahun 1982.

MESSAGE AND SKILL

            Musik baginya sangat penting, tapi melihat kondisi anak muda jaman sekarang rupanya beliau berharap agar mereka yakin pada bakat yang dimiliki dan yang terutama mengenal Tuhan dan jadilah dikenal. “Anak muda jaman sekarang lebih suka skill dalam bermain daripada memahami dan menyampaikan pesan atau berita yang ada,” jawab hamba Tuhan yang mengaku kitab Mazmur adalah sumber inspirasi dalam bermusik.

            Suami dari Ruth Noviana Budiman ini dibesarkan dalam keluarga yang cinta Tuhan, tapi itu tidak membuktikan ia benar-benar mengenal Tuhan. “Waktu masih muda tuh Bapak (Isaac Arief) adalah ketua youth, tapi hidupnya masih amburadul. Saat itu ia juga seorang pengusaha majalah dan garmen. Jadi saat itu dia punya duit banyak dan suka gonta-ganti pacar. Waktu itu saya jadi wakil ketuanya. Dia orangnya kreatif tapi saya penasaran kok kalau ke gereja selalu duduk di belakang. Suatu hari saya sengaja duduk di belakang juga karena penasaran, ngapain dia kalau duduk di belakang. Eh, pas saya tahu ternyata dia duduk di belakang bukan baca Alkitab tapi baca koran yang disimpen di jaketnya,” beber istri Bapak Isaac Arief.

            Melalui kehadiran majalah PRAISE sebagai satu-satunya majalah musik rohani, ia berpesan kepada semua orang, terutama yang bergelut dalam dunia musik, agar lebih mementingkan pesan dalam membuat lagu. Karena pesan yang terkandung dalam lagu sangat memberi dampak bagi semua orang yang menikmatinya. (min / Praise #12 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com

Tentang Isaac Arief

Nama lengkap            : Isaac Arief Susanto
Lahir                         : Ponorogo, 9 Februari 1954
Ayat Favorit                : Efesus 3:20
Pendidikan                 : Fakultas Seni Bahasa Inggris Universitas Satya Wacana Salatiga
Motto hidup                : Love is the greatest of all
Makanan favorit          : Ikan bakar
Tokoh idola                : Jesus Christ dan Rasul Paulus
Nama orangtua           : Jahya Handoko dan Dorkas


COMMENT


.news-comments powered by Disqus