How Great Thou Art (Kami Memuji KebesaranMu)

How Great Thou Art (Kami Memuji KebesaranMu)

Published On Desember, 10 2012 | By David

(Carl Gustav Boberg, 1859-1940)

            Bagaimana jika saat Saudara mau berangkat ke gereja lalu Saudara bertemu dengan teman-teman dan mereka membujukmu untuk pergi bersenang-senang di tempat lain? Bagaimana jika Saudara seorang pemuda dan teman-temanmu memintamu membatalkan kegiatan gerejamu, “Ayolah kita bersenang-senang dulu, ada cewek-cewek cantik yang akan ikut kita, lupakan dulu kegiatan gerejamu itu”. Apa tanggapan Saudara terhadap ajakan teman-temanmu itu? Apakah hal itu akan sangat menggodamu?
            Ada seorang pemuda yang mengalami godaan seperti itu. Dia sebenarnya seorang Kristen ‘KTP’,  yang pergi ke gereja hanya sebagai rutinitas belaka. Tetapi saat dia berumur 19 tahun, dia mendengar ada seorang pengkhotbah yang datang ke gerejanya dan pengkotbah itu memang pernah menyentuh hatinya. Namun saat pemuda ini sedang berjalan kaki menuju gerejanya, dia bertemu dengan beberapa temannya. Mereka mengajaknya untuk pergi ke tempat lain dan bersenang-senang dengan beberapa pemudi. Pemuda ini mengalami pergumulan batin yang cukup hebat. Tetapi akhirnya dia tetap pada niatnya semula. Dia tidak mau mengikuti ajakan teman-temannya, dan tetap pergi ke gereja.
            Pemuda itu bernama Carl Gustav Boberg. Dan firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkhotbah hari itu sangat menyentuh hatinya.Setelah ibadah selesai, Carl Boberg berjalan-jalan tanpa tujuan sambil terus memikirkan khotbah di gerejanya tadi. Sesampai di padang rumput dia berlutut berdoa kepada Tuhan, mengakui dosa-dosanya yang memalukan. Selama dua minggu, hatinya terasa berat, karena dia belum merasa yakin, apakah Tuhan sudah mengampuni dosanya. Lalu Carl Boberg mendengar seorang anak laki-laki sedang menghafalkan ayat Yohanes 14:13 yang berbunyi : “Apa saja yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak”. Semakin sering ia mendengar ayat Alkitab itu, semakin dia percaya isinya. Maka dengan penuh iman, Carl Boberg minta pengampunan dan menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya. Seketika itu juga kedamaian dari Allah memenuhi jiwanya.

 Terciptanya ‘How Great Thou Art’

             Carl Boberg lahir di tahun 1859 di Monsteras, daerah pantai selatan Swedia.  Ayahnya adalah seorang tukang kayu di perusahaan perkapalan. Rumah pondok tempat keluarga Boberg tinggal menghadap ke pelabuhan. Seperti halnya anak-anak Swedia pada abad itu, Carl Boberg selalu dibawa ke gereja oleh orangtuanya. Dan jadilah dia seorang Kristen tapi hanya sebatas Kristen ‘KTP’, sampai pada peristiwa pertobatannya di usia 19 tahun. Setelah bertobat, Carl Boberg merasa bahwa Tuhan memanggil dia untuk melayani sepenuh waktu. Selama dua tahun berikutnya dia masuk sekolah Alkitab, untuk mempersiapkan diri menjadi pendeta. Kemudian di usia 22 tahun dia mulai berkhotbah. Pada awalnya ada orang yang mengejeknya karena masih muda dan belum banyak pengalaman. Namun lambat laun dia diterima sebagai hamba Tuhan yang berbobot.
            Pada musim panas tahun 1885, saat Carl Boberg berumur 26 tahun, pendeta yang masih muda ini pergi dengan beberapa temannya menghadiri suatu pertemuan di sebuah desa yang letaknya tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Saat mereka pulang, beberapa jam kemudian lagu ‘How Great Thou Art’ ditulis Pdt. Carl Boberg. Di Refrain nya, berulang-ualng dia memuji kebesaran Sang Pencipta.Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu ? Apa yang dilihat dan didengar serta dirasakan oleh Carl Boberg menjelang senja itu sehingga terdorong untuk memindahkan semua itu dalam bentuk lirik lagu ? Buku Story behind The Song terbitan Yis Production mendeskripsikan saat-saat menjelang ’lahir’ nya lagu itu.
            Beberapa bulan kemudian, syair rohani tersebut diterbitkan dengan memakai bahasa Swedia, diberi judul ‘O Store Gud’ yang artinya ‘O Great God’ (Oh Allah Yang Besar) oleh surat kabar setempat. Setelah beberapa tahun, seiring dengan berlalunya waktu, syair rohani itu tidak pernah lagi terdengar. Tetapi beberapa tahun kemudian, saat menghadiri pertemuan Kristen di daerah lain, Carl Boberg mendengar sidang jemaat di situ menyanyikan syair rohani karangannya dengan memakai melodi lagu rakyat Swedia.
            Pada tahun 1891, saat Carl Boberg menjadi penyunting surat kabar Kristen mingguan Witness of Truth (Saksi Kebenaran), dia menuliskan syair rohaninya itu lengkap dengan melodinya. Namun lagu rakyat yang telah dipasangkan dengan syairnya itu mirip sebuah lagu dansa. Karena lagu itu memakai birama 3/4 dan iramanya cepat. Syukurlah tiga tahun kemudian ada seseorang yang namanya tidak dikenal, yang mengubah kembali not-not itu ke dalam birama 4/4, sehingga melodi dan cara menyanyikannya lebih pantas bagi sebuah nyanyian rohani.

 Diterjemahkan Ke Bahasa Inggris

             Pada tahun-tahun berikutnya, yaitu mulai tahun 1911 dan seterusnya, Pdt. Carl Boberg menjadi anggota MPR di Swedia mewakili daerahnya. Sedangkan syair rohaninya yang sudah menjadi lagu rohani menjadi berkat dibeberapa tempat di negerinya.
            Pada tahun 1923 ada seorang utusan Injil dari Inggris yaitu Stuart Hine, yang pergi ke Uni Soviet bersama istrinya. Dalam pelayanan mereka menemukan sebuah lagu rohani yang indah dalam bahasa Rusia. Berkali-kali mereka menyanyikannya dalam pelayanan sebagai duet. Mereka tidak menyangka kalau lagu itu aslinya berasal dari Swedia.
            Stuart Hine kemudian menerjemahkan lagu tersebut ke dalam bahasa Inggris, kemudian menyadur bait kedua dan ketiga agar lebih menyentuh hati orang Kristen. Selanjutnya bait ke-4 nya dia buat sendiri setelah mendengar kesaksian dari seorang pria Rusia yang terpisah dengan isterinya akibat kerusuhan perang. Dulu istrinya percaya Tuhan Yesus, tetapi dia tidak. Baru kemudian di pengungsian pria ini percaya Tuhan Yesus. Sampai saat itu dia belum pernah bertemu istrinya lagi. “Tapi saya percaya bahwa saat Tuhan Yesus datang kembali nanti... saya akan diantar masuk Surga dan dengan penuh sukacita bertemu istri saya di Sana”. Keyakinan pria itu oleh Stuart Hine dituangkan dalam bait ke-4 lagu tersebut. Pdt. Carl Boberg sendiri melayani sebagai anggota MPR sampai tahun 1924. Beberapa tahun kemudian dia mengalami sakit dan pada tahun 1937 separuh badannya lumpuh. Beliau kemudian dipanggil Tuhan di tahun 1940 pada usia 79 tahun. Meskipun beliau telah pulang ke rumah Bapa, namun perjalanan syair lagunya yang akan menjadi berkat bagi jutaan orang di seluruh dunia baru saja dimulai.
            Pada tahun 1949, Stuart Hine menerbitkan lagu karangan Carl Boberg itu dengan judul bahasa Inggris ‘How Great Thou Art’ dan juga dalam bahasa Rusia. Lagu itu dimuat dalam majalah penginjilan yang berpusat di Inggris. Lalu para misionaris Inggris menyebarkan lagu itu ke negara-negara jajahan mereka, termasuk India. Lagu tersebut mendapat sambutan yang hangat. Surat-surat berdatangan meminta agar halaman majalah yang memuat lagu itu dicetak ulang.
            Dr. J. Edwin Orr, dari Fuller Theological Seminary, mengadakan pelayanan di India. Dia begitu terharu saat mendengar lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara dari suku Naga yang berasal dari pedalaman, sehingga ia membawa lagu itu ke Amerika. Ia menghubungi penerbit pujian Kristen, kemudian lagu itu dipublikasikan tahun 1954.
                Dr. Billy Graham
, penginjil yang terkenal di seluruh dunia, bersama timnya menemukan lagu itu di tahun yang sama yaitu tahun 1954. Dia berkata : “Saya menyukai lagu itu karena Tuhan yang dipermuliakan, bukan manusia. Saya jarang campur tangan dalam urusan musik untuk KKR, tetapi saya minta dengan khusus kepada rekan-rekan supaya lagu itu dinyanyikan sesering mungkin”. Sejak itu lagu tersebut selalu disertakan dalam KKR Billy Graham di berbagai belahan dunia.
            Perkembangan kepopuleran lagu ‘How Great Thou Art’ sangat luar biasa saat itu. Pada tahun 1953, lagu tersebut belum masuk hitungan. Tetapi 20 tahun kemudian yaitu di tahun 1973, dalam angket yang  menanyakan lagu rohani terpopuler dan disukai anggota gereja, lagu tersebut menduduki posisi nomor satu di seluruh dunia.
            Bisa kita bayangkan, andaikata Carl Boberg saat berumur 19 tahun mengikuti keinginan dagingnya untuk pergi bersenang-senang dengan teman-temannya, tidak jadi ke gereja dan tidak mengalami sentuhan  Tuhan yang mengubah hidupnya, mungkin dia tidak akan pernah mengarang syair lagu ‘How Great Thou Art’. Syukurlah dia lebih mengikuti Roh Kudus dan memilih tetap pergi ke gereja untuk mendengarkan dan meresponi Firman Tuhan yang mengubah seluruh arah hidupnya. Melalui pilihannya itu dia telah meninggalkan warisan yang terus menguatkan jutaan orang percaya berpuluh-puluh tahun setelah kematiannya.
            Bagaimana dengan pilihan hidup Saudara setiap harinya? Ingatlah bahwa keputusan yang  Saudara ambil sangat penting, karena dapat memberi pengaruh dan warisan terhadap banyak orang. Carl Boberg telah memilih yang tepat pada hari itu untuk hidupnya, dan keputusannya tersebut membawa dampak bagi hidupnya, bahkan menghasilkan karya lagu terbesar yang pernah ada di dunia ini. Lagu ‘How Great Thou Art’ tersebut kini dinyanyikan oleh ribuan bahkan jutaan orang dan membawa kekaguman akan kebesaran Tuhan. (sumber : Praise #4). (Buku ‘Story Behind The Song’ terbitan Yis Production tahun 2011 mengulas dengan lebih lengkap proses dikarangnya lagu tersebut berikut foto-fotonya).

 Lirik & Chord lagu ini dapat dilihat di SONGS

HOW GREAT THY ART

 

  • Verse 1:

O Lord my God! When I in awesome wonder
Consider all the works Thy hand hath made.
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.

Refrain:
Then sings my soul, my Saviour God, to Thee;
How great Thou art, how great Thou art!
Then sings my soul, my Saviour God, to Thee:
How great Thou art, how great Thou art!

 

  • Verse 2:

When through the woods and forest glades I wander
And hear the birds sing sweetly in the trees;
When I look down from lofty mountain grandeur
And hear the brook and feel the gentle breeze:

(Repeat Refrain.)

  • Verse 3:

And when I think that God, His Son not sparing,
Sent Him to die, I scarce can take it in;
That on the cross, my burden gladly bearing,
He bled and died to take away my sin:

(Repeat Refrain.)

  • Verse 4:

When Christ shall come with shout of acclamation
And take me home, what joy shall fill my heart!
Then I shall bow in humble adoration,
And there proclaim, my God, how great Thou art!

(Repeat Refrain.)

Terjemahan bahasa Indonesia (Reff nya saja) Lengkapnya di buku PW1Plus

Kami Memuji KebesaranMu

Kami memuji kebesaranMu
Ajaib Tuhan ajaib Tuhan
Kami memuji kebesaranMu
Ajaib Tuhan ajaib Tuhan


COMMENT


.news-comments powered by Disqus