Hark ! The Herald Angels Sing (Dengarlah Malak Menyanyi)  (Charles Wesley, 1707-1788)

Hark ! The Herald Angels Sing (Dengarlah Malak Menyanyi) (Charles Wesley, 1707-1788)

Published On Desember, 12 2012 | By David

            Kebanyakan orang Kristen mungkin menyangka bahwa tiap nyanyian pujian yang populer di zaman sekarang, juga telah menjadi lagu top sejak saat penciptaannya. Memang ada yang seperti itu, tetapi tidak semua. Seperti riwayat lagu Natal yang dikisahkan dalam kesempatan ini. Lagu itu terlantar selama bertahun-tahun, baik lirik dan not-notnya berkali-kali diubah, sehingga ‘nasib’nya terlihat tidak mungkin menjadi lagu yang terkenal. Untung pengarangnya, Charles Wesley, tidak terlalu mengejar target hasil dan kesuksesan belaka, tetapi dia melakukan apa yang menjadi bagian dalam hidupnya, yaitu menulis dan menulis lagu terus untuk Tuhan dan sesama. Dampaknya, dia serahkan pada Tuhan karena waktu dan sejarahlah yang mengukurnya.

 ANAK SEORANG PENDETA
            Charles Wesley lahir di Inggris pada 28 Desember 1707. Ayahnya, seorang pendeta Anglikan, dan dia adalah anak ke-18 dalam keluarga tersebut. Tidak heran karena begitu banyak anaknya, keluarga ini agak miskin. Ibu Charles, Susanna Annesley, tentu saja sangat sibuk, namun dia mengajar dan melatih tiap-tiap anaknya dengan penuh disiplin, misalnya : tiap anak dalam keluarga Wesley dibimbing untuk belajar berbicara dengan mengulangi Doa Bapa Kami. Selain itu, ibunya adalah seorang yang pandai dan karena ia tahu bahwa anak-anaknya akan cepat bosan jika mereka disuruh membaca dan menghafal saja, maka setiap jam pelajaran selalu dimulai dengan nyanyian. Tentu saja nyanyian itu pun memiliki manfaat rohani, karena diambil dari Kitab Mazmur. Kedua hal ini, Kitab Suci dan Kidung Rohani, berpengaruh sekali dalam hidup Charles Wesley. Di kemudian hari, ketika dia sudah mulai mengarang nyanyian pujian, dia sering memasukkan dalam syairnya kutipan dari Alkitab dan istilah yang berdasarkan Alkitab. Bahkan pernah dikatakan bahwa dia berhasil menulis nyanyian berdasarkan 61 dari 66 kitab di dalam Alkitab.
            Setelah ia menyelesaikan studinya di Universitas Oxford, Charles bersama saudaranya, John Wesley menyerahkan diri untuk menjadi pekabar Injil. Namun Ironisnya walaupun sudah pelayanan, mereka masih ragu akan keselamatan, sampai suatu ketika setelah kepulangannya ke London, Charles diundang untuk mengikuti persekutuan Kristen yang diadakan pada sebuah pabrik logam di jalan Aldersgate. Dalam persekutuan yang diadakan pada tanggal 21 Mei 1738 itu, hati Charles sangat tersentuh dan ia mengalami pertobatan yang sejati. Sesampai di rumah, Charles menulis di buku hariannya : “Pada tengah malam ini aku menyerahkan hidupku kepada Kristus, untuk mendapat jaminan bahwa aku aman, saat tidur maupun terjaga”.

BANYAK MENGARANG LAGU ROHANI
            Tindakan Charles Wesley sebagai orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali ialah mulai pelayanan dengan semangat dan dengan cara yang baru. Selain menginjil dan mengajar di seluruh Inggris raya dengan menunggang kuda, Charles pun banyak mengarang lagu rohani. Pada setiap kesempatan Charles menciptakan syair-syair lagu untuk nyanyian gereja dan untuk keperluan ibadah.
            Charles Wesley sangat produktif mengarang lagu ketimbang John, bahkan ketika umurnya sudah delapan-puluhan, dia masih tetap mengarang lagu-lagu rohani. Ketika cuaca panas, Charles Wesley biasa memakai pakaian tebal pada waktu keluar dengan naik kuda yang sudah tua. Sambil berjalan, ia pun memikirkan ide-ide untuk lagu-lagu rohani. Kadang-kadang ia membawa serta sehelai kartu kosong dalam sakunya, agar ia dapat mencatat ‘ilham’ yang diterimanya dalam perjalanan. Tetapi kadang-kadang kartu itu tidak cukup untuk memuat catatannya. Sering sepulangnya ia membiarkan si kuda begitu saja di halaman depan, dan ia sendiri berlari-lari kecil masuk rumah sambil berseru : “Pena dan tinta! Hai, cepat! Pena dan tinta!” Setelah seorang anggota keluarga membawakan apa yang diminta, dan setelah Charles Wesley mencatat syair yang sedang menyibukkan pikirannya, barulah kemudian ia memberi salam dengan ramah kepada seisi rumahnya.
            Hasil karyanya yang terakhir memang dikarang tepat pada hari ajalnya, yaitu pada tahun 1788. Walau ia tidak kuat lagi menulis apa-apa, namun ia masih sempat mendiktekan isi lagu itu kepada istrinya. Selama lima puluh tahun, ia tidak pernah berhenti menulis nyanyian pujian. Bapa Kebangunan Rohani dan pendiri aliran Methodist ini sungguh mengagumkan. Dia menuliskan 6.500 lagu pujian sepanjang hidupnya. Suatu prestasi yang sukar ditandingi oleh penulis pujian lainnya. Lagu-lagu yang dikarang antara lain : ‘Beribu Lidah Patutlah’ (Nyanyian Rohani Methodist [NRM] No.1), ‘Angin Ribut Menyerang’ (NRM No.83) - ‘Kristus Bangkit’ (NRM No.268) dan ‘Hark! The Herald Angels Sing’ (NRM No.23).

 KISAH LAGU ‘HARK! THE HERALD ANGELS SING’
            Judul lagu Natal ‘Hark! The Herald Angels Sings’ karangan Charles Wesley ini sudah diterjemahkan dalam berbagai versi di Indonesia, antara lain dalam Kidung Jemaat (KJ) sebagai ‘Gita Surga Bergema’, tetapi Nyanyian Kemenangan Iman (NKI) no 43 memberi judul ‘Dengarlah Malaikat Nyanyi’. Ada yang memberi judul Camkan Lagu Yang Merdu’. Selanjutnya akan dipakai terjemahan Indonesia dari Special Songs for Christmas terbitan YIS Production (No 10) yang sama dengan PBSR No. 447 yaitu ‘Dengarlah Malak Menyanyi’. Charles Wesley biasa menulis dengan memakai suatu sistem tulis cepat ketika ia mengarang sebuah lagu baru. Jarang sekali ia meredaksikan kembali karangannya. Biasanya orang lain yang menyuntingnya, terutama kakaknya, John, yang menjadi editor dari kumpulan nyanyian pujian sebanyak 56 jilid.
            Lagu Natal ‘Dengarlah Malak Menyanyi’ tersebut dikarang oleh Charles Wesley pada tahun 1738, setelah ia mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh. Namun demikian sampai saat itu tidak ada yang tahu ‘nasib’ lagu Natal ini akan menjadi apa.
            Lagu ini menempuh ‘perjalanan waktu’  satu setengah abad setelah penciptaannya, barulah lagu Natal ‘Hark! The Herald Angels Sings’ itu mulai menduduki tempatnya sebagai salah satu lagu Natal yang paling disukai di seluruh dunia. Bagaimana kisah lagu ini yang ‘dijodohkan’ oleh makcomblang  William Hayman Cummings (1831-1915) dengan lagu Festgesang (Nyanyian Perayaan) karangan  seorang komponis terkenal dari Jerman bernama Felix Mendelssohn (1809-1847) menjadi satu lagu Natal yang sangat popular di seluruh dunia. (Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku Story Behind The Song terbitan Yis Production)
            Acapkali kita tidak tahu apakah yang kita kerjakan sekarang akan berdampak besar bagi dunia atau tidak. Tetapi melalui kisah lagu ini, kita tahu bahwa Tuhan pun turut berperan dalam mengatur segalanya sehingga semua bisa tepat dan efektif pada waktuNya. Sebab itu kerjakan apa yang ada di depan Saudara, walau hasilnya belum nampak. Kelak Sang Pembuat Sejarah itu, yaitu Tuhan pencipta langit dan bumi, akan ‘menaruh’nya sesuai dengan waktu dan tempatnya dalam sejarah (Sumber : Praise #9).

 Lirik & chord lagu nya dapat dilihat di SONGS

Hark ! The Herald Angels Sing

Hark! Herald! The angels sing
"Glory to the new born King,
peace on earth, and mercy mild,
God and sinners reconciled!"
Joyful, all ye nations rise,
join the triumph of the skies;
with th` angelic host proclaim,
"Christ is born in Bethlehem!"
Hark! the herald angels sing,
"Glory to the new born King!"

Christ, by highest heaven adored;
Christ, the everlasting Lord;
late in time behold him come,
offspring of a virgin`s womb.
Veiled in flesh the Godhead see;
hail th` incarnate Deity,
pleased with us in flesh to dwell,
Jesus, our Emmanuel.
Hark! the herald angels sing,
"Glory to the new born King!"

Hail the heaven-born Prince of Peace!
Hail the Sun of Righteousness!
Light and life to all he brings,
risen with healing in his wings.
Mild he lays his glory by,
born that we no more may die,
born to raise us from the earth,
born to give us second birth.
Hark! the herald angels sing,
"Glory to the new born King!"

Dengarlah Malak Menyanyi

Dengarlah malak menyanyi: Mulia bagi Raja!
Dib`ri s`lamat atas bumi, Anak Allah lahirlah.
S`kalian bangsa baik bersuka, ikut nyanyian di surga.
Yesus Anak Arrahim, jadinya di Betlehem.

 Reff :

Dengarlah malak nyanyi, Mulia bagi Almasih.
Dengarlah malak nyanyi, Mulia bagi Almasih.

Isi surga s`nantiasa menyembah di had`rat-Nya.
S`karang Yesus t`lah menjelma, Allah jadi manusia.
Raja ini b`ri sentosa, mengampuni yang berdosa.
Allah beserta kita, Nama-Nya Immanuel.(ke Reff)

Raja S`lamat yang besar, Matahari yang benar.
Sudah terbit dan memb`ri t`rang serta hidup yang senang.
Kar`na kita ditanggalkan semua kemuliaan.
Allah turun ke dunia, memb`ri s`lamat manusia.( ke reff)

Gita Sorga Bergema
Gita sorga bergema, Lahir Raja Mulia
Damai dan Sejahtera turun dalam dunia
Bangsa-bangsa bangkitlah dan bersoraklah serta
Permaklumkan Kabar Baik Lahir Kristus T`rang ajaib
Gita sorga bergema, “Lahir sang Raja Mulia!”(ke Reff)

Yang di sorga disembah, Kristus, Raja yang baka,
Lahir dalam dunia dan Maria bundaNya.
Dalam daging dikenal Firman Allah yang kekal
Dalam Anak yang kecil nyatalah Imanuel!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"(ke Reff)

Raja Damai yang besar, Surya Hidup yang benar,
Menyembuhkan dunia dalam naungan sayapNya,
Tak memandang diriNya bahkan maut dit`rimaNya,
Lahir untuk memberi hidup baru abadi!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"(ke Reff)

Sumber : www.majalahpraise.com

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus