Franky Sihombing

Franky Sihombing

Published On Desember, 19 2012 | By Vido Fransisco Pardede

MEMBAGIKAN HIDUP LEWAT MUSIK

Makna Sebuah Pelayanan Bagi Franky Sihombing

     Pelayanan bukan hanya sebatas di mimbar, tetapi justru di tengah kehidupan sehari-hari kita, apa pun yang kita lakukan dan apa pun profesi dan talenta kita, di sanalah ‘mimbar’ sesungguhnya untuk menyampaikan pesan tentang Yesus. Itulah arti sebuah pelayanan bagi seorang Franky Sihombing yang tentunya sosok dan karya-karyanya sudah tak asing lagi di dunia musik rohani Kristen.

     Franky Sihombing memulai pelayanannya lewat sebuah perjumpaan yang berkesan dengan Yesus Kristus pada tahun 1989 ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Lanjutan Atas. Lewat pengalaman tersebut banyak hal yang diubahkan Tuhan dalam kehidupannya, tetapi yang paling berkesan adalah pribadi Yesus itu begitu menimbulkan pengaruh yang luar biasa sampai akhirnya Franky memutuskan untuk menyerahkan hidupnya bagi Yesus. Sejak itu, orang mengenal Franky Sihombing sebagai seorang musisi gospel kontemporer yang memiliki kepedulian besar terhadap anak-anak muda.

     Franky memulai karir musiknya bersama teman-temannya di sebuah komunitas di bilangan Jalan Matraman yang kemudian berlanjut dengan terbentuknya sebuah band bernama EZRA, group inilah yang menjadi cikal bakal VOG. EZRA sempat menghasilkan 3 buah album yaitu K’RAJAANMU DATANGLAH, HADIRMU dan EZRA PRAISE. Kemudian VOG sempat menelurkan 2 buah album yaitu KUSADARI dan VOICE OF GENERATION. Tahun 1995, dia memulai solo albumnya yang pertama lewat sebuah acara LIVE PRAISE AND WORSHIP di INDOSIAR dengan tajuk RAYAKAN yang kemudian menjadi album yang bersambung sampai pada RAYAKAN ENAM yang dirilis pada Februari 2011 ini. Adapun tema albumnya yang lain adalah SAAT MENYEMBAH yang saat ini sudah 5 volume dan HEALING WORSHIP 2 volume dan sebuah album berbahasa Batak.

Rayakan 20 Tahun Pelayanan

     Pada 23 Juli 2010 lalu, tepat 20 tahun sudah perjalanan pelayanannya di dunia musik gospel yang dimulainya sejak 1992 silam. ‘A Journey of Franky Sihombing - YESUS dan Pengabdianku’, merupakan tema konser tunggal Franky, yang diselenggarakan pada  Jumat, 23 Juli 2010 lalu di Jakarta lalu. “Konser tunggal ini merupakan pengabdian saya lewat musik buat Yesus Kristus yang dapat dinikmati berbagai generasi, karena saya menciptakan musik semata-mata karena anugrah dan kasih karunia dari Yesus,”kata Franky. 

     Dalam konser live recording ini, Franky juga berkolaborasi bersama Ello, Petra Sihombing, Feby Fabiola, band beraliran nu-metal Saint Loco, Cindy “AFI”, Cindy Bernadette dan Wawan Yap. Ada 20 lagu yang dibawakan Franky dalam konser yang dihadiri ratusan penonton ini.

     Sudah begitu banyak lagu yang telah diciptakannya. Namun begitu, hal ini tidak serta merta membuat pria yang lahir pada 18 September 1969 ini pongah, bahkan justru Franky sendiri mangaku tidak mengetahui persis berapa jumlah lagu yang sudah diciptakannya. Berbeda dengan menciptakan lagu sekuler, dalam menciptakan lagu rohani, Franky mengaku bahwa sesunguhnya dia hanya menjadi “saluran” Tuhan dalam menyampaikan sesuatu kepada umat-Nya melalui sebuah lagu. Sedangkan ide dan gagasannya berasal dari Tuhan.  Itulah kenapa, Franky menganggap lagu-lagu yang diciptakannya bukan sepenuhnya dia yang mencipta, melainkan Tuhanlah yang memiliki andil besar dalam setiap lagu yang ditulisnya. Dari awal pelayanan musiknya sampai saat ini tidak kurang dari 25 album sudah dihasilkan Franky.

Membagikan Kehidupan Melalui Nyanyian

      Dia sangat menyadari keberadaannya sebagai saluran dan alat yang mengalirkan pesan-pesan Tuhan bagi generasi. Pelayanannya lewat musik maupun khotbah-khotbahnya sangat diwarnai dengan pesan KEINTIMAN Manusia dan Tuhan seperti intimnya seorang ayah dan anak, kekasih atau sahabat. Bagi Franky, musik cuma alat untuk menyampaikan berita terpenting dan terbaik bahwa YESUS adalah Tuhan yang penuh dengan Kasih.

      Di suatu pagi bertempat di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, Franky menuturkan sekilas perjalanan pelayanannya di dunia musik rohani kepada PRAISE. Jaman dahulu pelayanan selalu dikonotasikan dengan pelayanan di gereja, ungkap Franky memulai kisahnya. Berbeda dengan jaman sekarang yang mana definisi pelayanan lebih luas, bukan hanya di mimbar dan gereja saja. Bagi Franky, perubahannya dari sebelum bertobat dan kemudian bertobat dan melayani diamininya sebagai sebuah progresive revelation (pewahyuan yang bergerak).

      Franky tidak melihat musik sebagai sebuah kotak untuk membedakan musik rohani atau musik sekuler. Dia melihat segala sesuatunya lebih universal. Itulah juga yang kerap dikatakan Franky kepada generasi muda, bahwa ketika bermusik, jangan dibatasi oleh tempat. “Dimana pun mereka bermain musik, di situlah ladang pelayanan kalian,”ujarnya. Baginya,“apa yang kita nyanyikan menjadi sebuah kehidupan yang dibagikan,”tukas Franky.

      Ketika ditanya apakah pernah merasakan titik jenuh dalam perjalanan pelayanannya, dengan jujur Franky mengakui,”Jenuh itu pasti ada, jika dibandingkan dengan pekerja  kantoran, titik jenuh kita lebih panjang. Karena tempat yang selalu berubah dan banyak bertemu dengan orang-orang  yang berbeda-beda,”ungkapnya.

Menjadi seorang pemusik rohani sekaligus seorang suami dan ayah dari tiga orang anak tentulah bukan suatu hal yang begitu saja mudah dijalani, sebagaimana diakui Franky, seringkali ada banyak suka duka di dalamnya, bahkan sempat terlintas dalam pikirannya untuk berhenti dari pelayanan musiknya. Namun kasih setia Tuhan yang tidak pernah berhenti dan selalu memegangnya setiap saat, menguatkannya, serta mengingatkannya bahwa Dia yang mengutus adalah setia.

Dari awal pelayanan musiknya, bukanlah popularitas yang ingin dikejarnya. Tetapi dia memiliki kerinduan agar musik rohani dapat berkembang, harus naik ke permukaan, dan harus menjadi industri yang serius serta ditangani secara profesional.

Dari Dipandang Sebelah Mata Hingga Dipakai Tuhan Menjadi Alat-Nya

Ketika ditanya apakah menyesal telah memilih jalur musik rohani dalam pelayanannya selama ini, Franky dengan tegas mengatakan tidak menyesal meski ruang gerak pelayanannya terbatas hanya dapat menjangkau kalangan Kristiani saja. Franky menuturkan bahwa dirinya tidak menyesal telah memilih jalur musik rohani karena pada jamannya dahulu Tuhan sedang membutuhkan orang-orang yang fokus pada musik rohani. Bisa dibilang Franky adalah salah satu orang yang mempelopori perubahan di ranah musik rohani saat itu. Dari lagu 3 jurus (C G F), ‘Belakang Langit Biru’ kemudian masuk ke sesuatu yang baru. Meskipun pada saat itu penerimaan gereja khususnya dari hamba-hamba Tuhan jauh dari menyenangkan. Bahkan mereka dianggap aneh dan sesat saat membawakan musik baru yang berbeda dengan pada umumnya.

Namun semuanya kemudian berubah, orang saat ini tidak lagi asing dengan pujian yang dibawakan dengan bertepuk tangan dan bersorak sorai ketika ibadah. Dari awal, Franky memiliki obsesi agar musik rohani berubah tidak monoton dan tidak kalah dengan musik sekuler. Diakuinya bahwa group band rohani saat ini tidak kalah performanya jika dibandingkan dengan group band sekuler.” Perubahan untuk sampai hingga saat ini dibutuhkan orang-orang yang memang fokus,”tukas Franky.

Sebuah prinsip hidup yang selalu dipegang Franky adalah bahwa apa pun yang dilakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan, itu adalah pelayanan yang sejati. Jika ada orang yang berpikir,  kalau menjadi penyanyi rohani itu baru pelayanan, itu salah kaprah menurutnya. Dulu memang orang berpikiran seperti itu.

Bukan lagi Yesus Yang Menjadi Daya Tarik, Melainkan Musik

Ketika ditanya mengenai Praise and Worship di dalam ibadah gereja, Franky mengungkapkan, “Saya melihat bukan lagi Yesus yang menjadi daya tariknya tetapi musiklah yang menjadi daya tarik. Musik menjadi daya tarik di sebagian besar gereja-gereja saat ini. Kalau saat Praise and Worship orang hanya tertarik kalau ada drum, gitar, bass, ada bandnya, ada pemimpin pujian, it’s not Praise and Worship anymore,”ujar Franky.

“Saya berpikir kita sudah kehilangan esensinya. Kita sudah lebih terhanyut oleh aksesorisnya daripada Praise and Worship itu sendiri.” Sesungguhnya Praise and Worship itu mesti terjadi di kehidupan sehari-hari, bukan hanya di sebuah pesta selama 2 jam di hari Minggu. Banyak orang yang ke gereja tetapi menutup diri mereka dan tidak mau dikenali. Bahkan banyak yang hanya sekedar datang ke gereja karena kewajiban atau malu karena mereka seorang Kristen. Itulah kemudian yang membuat Franky lebih memilih gereja rumah.

Bukan hanya sebagai sarana untuk memuji dan memuliakan Tuhan, musik juga dapat dipakai si jahat menjadi alat untuk menjerumuskan orang. Untuk itu, kita perlu memiliki kedekatan dengan Tuhan agar Tuhan dapat menuntun setiap langkah kita. Ketika Tuhan menempatkan diri kita di posisi atas, kita perlu bertanya pada diri kita pertanyaan ini: “Why? kenapa kita ada di posisi saat ini? Dan itu harus sesuai dan terhubung dengan rencana Tuhan, kenapa kita ada si posisi itu. Ada maksud Tuhan kenapa kita ada di suatu posisi, dimana Tuhan ingin menjadikan kita sebagai saluran berkat bagi Dia,”urainya.

Patuh dan Lakukan Sesuai Kehendak Tuhan

Banyak hal dapat terjadi manakala kita dengan sungguh-sungguh memuji Tuhan dengan banyak cara. Lewat suara yang keluar dari mulut kita saat bernyanyi dan berseru, mujizat dapat terjadi. Demikian pula ketika ditanya tentang peristiwa runtuhnya Yerikho. “Tembok Yerikho sampai rubuh, pastilah ada hal-hal supranatural.. Itulah yang biasa kita kenal dengan mujizat. Hal-hal di luar batas kemampuan manusia.Dan point yang paling penting adalah bahwa mereka melakukannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekalipun kamu bernyanyi sampai serak suaramu tetapi kalau memang Tuhan tidak suruh untuk nyanyi, tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau Tuhan janji sesuatu akan terjadi, maka itu pasti terjadi,”ujar Franky

“Demikian juga, saya percaya ada kuasa dalam pujian. Tetapi ada waktu-waktu, dimana sepertinya Tuhan tidak menuntun kita untuk menyanyi dan berdoa, tetapi Tuhan menuntun kita untuk memperhatikan orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Sama seperti firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang diselamatkan itu bukan orang yang berseru ‘Tuhan, Tuhan,’ melainkan mereka yang melakukan kehendak-Nya. Karenanya penting bagi kita untuk memelihara relasi intim antara kita dengan Tuhan agar memiliki kepekaan mengetahui apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Relasi yang begitu erat dan melekat dengan Tuhan membuat kita mampu membedakan mana suara hati kita dan mana suara Tuhan.”

Setelah melalui 20 tahun pelayanan, rupanya masih ada harapan yang ingin diwujudkan Franky. “Bagi saya, saya mau mempersembahkan Yesus dengan cara yang cerdik, kalau untuk saya wujudnya melalui musik,”tukas Franky. Lebih lanjut dikatakannya, bahwa kita dapat dengan cerdik menyampaikan tentang Yesus lewat kelebihan yang Tuhan taruh di dalam diri kita. Bagaimana menyampaikan Yesus kepada orang-orang di sekitar kita dengan cara yang kreatif, itulah sepenggal asa yang dimiliki Franky saat ini. (Flo / Praise #17 / 2011).
Sumber: www.majalahpraise.com

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus