Fina Wowor

Fina Wowor

Published On Desember, 10 2012 | By Vido Fransisco Pardede

 LEBIH SUKA BLACK GOSPEL ?

BONUS DARI TUHAN

       Berangkat dari kesukaannya menyanyi dan memimpin pujian sejak usia 13 tahun, kini Fina Wowor and Rebirth telah mengeluarkan album rohani “Live Praise and Worship” tahun 2007 , dan album kedua dengan judul “Victory EP” tahun 2008. Nama Fina Wowor makin dikenal kalangan Kristiani sejak ia menerima penghargaan dari Indonesian Gospel Music Award (IGMA) Desember 2008 yang lalu, Fina and Rebirth menerima dua penghargaan sekaligus, yaitu untuk kategori Duo or Group of the Year dan New Artists of the Year. Bagi Fina sendiri semua itu ia anggap sebagai bonus dari Tuhan, “Motivasi kita sebenarnya bukan itu, tapi lebih ke pengungkapan ekspresi dan kerinduan kita, karena musik sesuatu yang sangat kita minati, kalau kita mendapat penghargaan dari IGMA itu berarti yang kita lakukan dihargai oleh komunitas gospel di Indonesia .” Ucap Fina kepada PRAISE saat diminta komentarnya mengenai penghargaan yang mereka dapatkan.

LEBIH SUKA BLACK GOSPEL

        Warna musik yang diusung mereka adalah perpaduan antara musik gospel, pop dan rock.”Kita juga sering membawakan lagu-lagu Israel & New Breed,” tambah Fina yang sangat suka dengan aliran musik black gospel. Fina merasa punya panggilan dan tanggung jawab yang besar dalam Rebirth, karena itu setiap anggota Rebirth harus ia ketahui dulu latar belakangnya, hubungannya dengan Tuhan dengan keluarga dan orang lain. “Rebirth itu sebenarnya lebih ke media saya untuk berkarya dan tempat pelatihan generasi muda untuk bisa berpikir apa yang akan kita lakukan untuk generasi ini, jadi kalau di Rebirth ada yang Tuhan arahkan untuk ke tempat lain pasti kita dukung agar mereka bisa lebih bagus lagi berkarya buat Tuhan. ”Urai Fina yang sering memberikan pelatihan mengenai memimpin pujian. Formasi Rebirth sendiri terdiri dari Fini Wowor (Keyboardis), Tim Wowor (Drummer), Ridwan Wijaya (Bassist), Andri Latip (Guitaris), Denny & Jonathan (Percussions), Leah Wowor, Joshua Ongko, Joseph Ongko, Hana Terroe, Angel Tjoandi, Adelene Tjoandi, Aldo Himanalua, Erik Pantolaeng dan Roselynn Aragay (Backing Vocal).

         Bagi Fina sendiri yang tumbuh dan besar dari keluarga yang suka musik, hidup dan keluarga adalah suatu anugerah Tuhan yang luar biasa, “keluarga saya sangat suka musik dan mereka sangat mendukung saya, jadi kalau saya bernyanyi dan menulis lagu itu tak jauh dari dukungan keluarga, dan bagi saya keluarga saya adalah anugerah yang Tuhan beri dalam hidup saya.” Ujar putri kedua pasangan Frans dan Wanti Wowor ini.

MENGAJAR DI MSA

        Ketika PRAISE bertemu Fina saat itu, dia sedang menjalankan aktifitasnya sehari-hari, yaitu sebagai pengajar full time di Morning Star Academy (MSA) tepatnya di kawasan Kuningan , Jakarta , “saya juga rindu untuk bisa membuat sesuatu bagi generasi bangsa ini terutama dalam bidang pendidikan,” jawab Fina yang mengajar kelas logika, bahasa latin dan bahasa Inggris di MSA. Pendidikan baginya sangat penting, karena itu kini Fina juga mengambil S2 online nya di University of Wales jurusan Classical Language and Literature.

         Sosok Fina sekarang ini tak lepas dari peran dan dukungan sang papa yang menjadi gembala di Morning Star Indonesia (MSI), jika dalam ibadah sang papa menjadi pengkotbah sedang Fina sendiri menjadi Worship Leader (WL), dan itu suatu keuntungan tersendiri bagi Fina, karena ia tak perlu repot-repot lagi berbicara dengan pengkotbahnya untuk menyamakan visi dalam melayani, “kan biasanya WL itu susah punya akses untuk bicara dengan hamba Tuhan yang berkotbah, kalau saya mudah sekali karena masih satu keluarga, jadi kita bisa saling berbagi dan membantu dalam melayani jemaat Tuhan di MSI ini.” Urai Fina mengenai kekompakannya dengan keluarga.

MENGIKUTI HOME SCHOOL SEJAK KELAS 5 SD

         Masa remaja adalah saat yang tak terlupakan, bagi Fina yang tumbuh dan menuntut ilmu secara Home School sejak kelas 5 SD sampai  kelas 2 SMA, tapi tetap bisa merasakan komunitas dunia luar karena orangtuanya tetap memberinya akses untuk mengetahui dunia luar. “Komunitas itu sangat penting, ketika remaja, saya juga pernah merasa tidak aman, tidak tahu indentitas dan jati diri, tapi saya bersyukur Tuhan tempatkan saya di komunitas yang baik dan keluarga yang takut akan Tuhan, di situ saya mulai cari Tuhan. Jangan lupa mencari Tuhan.” Tutur Fina yang sangat mendorong kegerakan dan komunitas anak muda di Indonesia untuk selalu rindu mencari Tuhan. Bagi gadis yang masih single ini mengembangkan talenta yang Tuhan berikan sangat penting sekali, karena itu sebagai anak muda harus menggali potensi diri, “ujar gadis yang juga mengikuti kursus vokal walau hanya sebentar di Bina Vokalia.

         Menyikapi masalah pembajakan karya seni di Indonesia ini, gadis kelahiran Makassar, 14 Mei 1985 ini berkomentar sedikit: “Di Indonesia kan untuk lagu rohani dari luar agak susah untuk akses di sini jadi kalau mau dibajak dari internet, ya menurut saya why not, tapi kalau album itu ada di toko kaset, kalau bisa beli ya beli lah.”

          Saat menutup perbincangan dengan PRAISE, Fina tak lupa memberikan kesan kepada PRAISE: “majalah musik rohani itu kan jarang, jadi dengan adanya majalah PRAISE kita bisa tahu keberadaan musik rohani kita sampai dimana.” Tambah Fina.(Min / Praise #6 / 2009)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus