Era musik KLASIK (1750-1820)

Era musik KLASIK (1750-1820)

Published On Desember, 12 2012 | By Majalahpraise Admin

KARAKTERISTIK MUSIK KLASIK
     Musik era klasik dimulai dari tahun 1750 hingga tahun 1820. Era musik klasik terletak di antara era Barok (PRAISE 11) dan era Romantik (PRAISE 13). Barok berhasil menggerakkan perasaan manusia. Dengan mengalami pesta yang mewah di dalam dan luar gereja, manusia terpesona oleh kebesaran Tuhan. Secara tidak langsung, keadaan tersebut justru membuka suatu jurang antara ibadat dan realita hidup. Liturgi menjadi tontonan saja yang memang menyenangkan, namun juga tidak membantu untuk mengatasi kesulitan hidup bersama. Inilah sebabnya pada pertengahan abad ke-18 timbul gerakan “fajar budi” (Aufklarung) sebagai reaksi terhadap Barok. Kini tekanan berat diletakkan pada “otak”. Maka Lessing (1778), Winclelmann(1764), Kant (1781), Fichte Schelling, Hegel menuntut agar supaya seni dan tradisi kembali kepada hakekatnya: Perwujudannya harus sederhana namun berbobot, jelas dan sedemikian hingga masuk akal (logis). Maka kini berkembanglah suatu musik yang kemudian disebut “klasik”, artinya dianggap sebagai musik tertinggi dalam perkembangan musik Barat. Hal ini disebabkan, karena musik ini mengungkapkan isinya secara indah namun wajar, seimbang, tanpa kelebihan apapun. Rasa kaku dari musik Barok (dinamika, keras, tempo yang tetap, satu tema untuk satu lagu) kini diatasi dengan dinamika dan tempo yang fleksibel dengan dua tema yang kontras.
Suara pokok yang terutama memakai tangga nada Mayor (Minor dipandang sebagai mayor yang “menangis”) kini diiringi secara seni dan hidup Akord-nya mudah dimengerti, namun disamping akord selaras terdapat pula eksperimen dengan akor janggal.
Selain itu ciri khas musik klasik terletak dalam unsur “progresif” : Musiknya tidak lagi bersifat “abadi” dengan mengulang-ngulang satu tema (seperti juga musik gamelan !). Dalam musik Klasik satu motif (kelompok nada) diulang sambil dirubah, diperkembangkan, dikontraskan dengan motif lain, hingga terjadilah sesuatu dalam musik, ia merasa terlibat. Hidupnya diungkapkan dengan akor disonan yang memancing akor konsonan, dalam pembawaan yang keras dan lembut, dalam variasi bunyi yang bermacam-macam. Karakteristik musik dari era klasik adalah homophonic yang melodinya di atas iringan akord. Musik di era ini juga terkenal sangat indah dan elegan dengan ekspresi dan struktur musik yang dikerjakan dengan sangat sempurna.
     Bila dibandingkan dengan musik era Barok, musik era klasik lebih ringan, lebih mudah dan tidak membingungkan, serta mempunyai tekstur yang jauh lebih jelas. Melodi yang dimainkan di era ini biasanya lebih pendek dari era Barok. Ukuran dari orchestra sangat berkembang baik dalam kuantitas maupun kualitas. Lalu instrument harpsichord yang sudah tidak digunakan lagi dan digantikan oleh Piano. Pada era klasik ini, piano dimainkan dengan ditemani oleh Alberti bass dan semakin kaya dengan suara dan semakin kuat. Bentuk sonata juga sangat berkembang dan menjadi elemen utama dalam era musik klasik.

KOMPOSER MUSIK KLASIK
Musik Klasik sangat identik terutama dengan musik instrumental. Maka berkembanglah alat musik baru: terutama piano. Instrumen kini digandakan menjadi kelompok viol satu, viol dua, alat tiup kayu, alat tiup logam dan sebagainya. Dengan demikian orkes sinfoni mampu untuk mengungkapkan perbedaan dalam warna bunyi yang bermacam-macam.
Hanya tiga komponis yang lazim disebut sebagai komponis klasik : Joseph Haydn (1732-1809), Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), Ludwig van Beethoven (1770-1827). Ketiga-tiganya mengarang di Vienna. Karena banyak sekali komposer yang berkarya di Vienna dan membentuk Viennese School, maka musik Klasik sering disebut sebagai era musik klasik Viennese atau wiener klassik dalam bahasa Jerman. Bahkan Hadyn dan juga Mozart (walau hanya selama dua tahun ) mengarang cukup banyak misa. Tentu juga dalam gaya musik sinfoni. Terpengaruh oleh “fajar budi”, maka tujuan ibadat tidak dilihat sebagai “syukur kepada Allah yang transeden”, tetapi
sebagai sarana untuk membangkitkan rasa khidmat dan saleh dengan menunjuk jalan untuk hidup sebagai manusia yang baik.
   Hal ini mendapat dukungan oleh Paus Benediktus XIV dalam ensiklika “Annus Qui” tahun 1749 dimana gaya teatral musik Barok ditentang di dalam gereja, namun misa dengan orkes simfoni dibenarkan, asal tidak bertujuan untuk menyenangkan telinga saja, tetapi untuk menciptakan sikap batin yang saleh. Memang diharapkan suatu musik “gaya gerejani” sesuai dengan nilai ibadat di hadapan Alah yang maha tinggi. Dan justru dengan musik klasik, Paus Benediktus mengharapkan akan tercapai tujuan ini. Namun “fajar budi” menghapus batas antara musik sakral dan profan dan musik gereja mengikuti kecenderungan yang baru ini. Maka liturgi makin menjadi kesempatan untuk dipentaskan musik yang bagus.
Selain ketiga komposer di atas, sebenarnya banyak sekali komposer-komposer terhebat yang pernah ada di dunia musik, hidup di era klasik. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada juga Luigi Boccherini, Muzio Clementi, Carl Phillipp Emanuel Bach, Johann Ladislaus Dussek, dan Cristoph Willibald Gluck. Pada masa transisi antara musik Klasik dan Romantik juga melahirkan banyak sekali komposer kelas dunia. Nama-nama seperti Franz Schubert, Johann Nepomuk Hummel, Carl Maria von Webber, dan Luigi Cherubini. Bahkan Ludwig van Beethoven juga berkarir di era ini.
Hal terbaik dari musik klasik adalah mereka menjadi elemen dasar dari semua musik di era selanjutnya. Bahkan ada ungkapan bahwa musik klasik tidak akan pernah mati. Contohnya Franz Schubert, Carl Maria von Weber, dan John Field yang hidup di era transisi dan menjadi generasi klasik Romantik. Banyak sekali komposer di era setelah era klasik yang masih belajar dari karya-karya Mozart dan Beethoven. Bahkan keagungan karya dari Beethoven dalam Moonlight Sonata telah menjadi contoh dan inspirasi dari ratusan karya lain setelahnya. Bahkan karya dari Mozart masih dimainkan dan dipelajari dalam harmoni dan orchestra musik setelah 80 tahun kematian dia. Jatuhnya era musik Klasik ditandai dengan jatuhnya generasi Vienna yang mulai ditinggalkan oleh komposer ternama di masa itu. Setelah itu, mulailah era musik Romantik. Pada edisi PRAISE yad akan diketengahkan musik masa Romantik ini.
     Situasi dan keadaan liturgi gereja pada waktu itu makin miskin dan hampa, karena sesudah meninggalkan tradisi musik gereja (Gregorian dan polifoni klasik) dan dengan menirukan gaya ibadat di gereja katedral. Tambahan pula, dalam rangka sekularisasi biara-biara dibubarkan oleh pemerintah, maka lenyaplah pula kemungkinan untuk menimba kekuatan baru, karena iman umat pun dangkal. Namun justru kemiskinan inilah memancing kedatangan musik gereja yang baru (dalam masa Romantik). (Berbagai Sumber/Yis/PRAISE #13). Sumber : www.majalahpraise.com

Bersambung : MUSIK ERA ROMANTIK


COMMENT


.news-comments powered by Disqus