Daniel Sigarlaki

Daniel Sigarlaki

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

MUSIK ITU SEPERTI PISAU

 KELUARGA MUSIK

            Siapa bilang industri musik tidak menjanjikan? coba tanya pada Daniel Sigarlaki, salah satu gitaris andal Tanah Air yang meninggalkan pekerjaannya untuk menekuni hobinya yang ternyata memang bisa membawanya meraih mimpi-mimpinya. Setelah sekian lama mencari waktu yang tepat, akhirnya PRAISE berhasil ‘memaksa’ Daniel untuk diajak ‘bicara’ di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Utara.

            Di atas panggung, Daniel bukanlah sosok front man, tapi bukan berarti dia tidak bisa apa-apa, itu adalah salah satu gambaran kalau Daniel adalah orang yang bersedia ada di barisan belakang dan bersedia untuk dilupakan. Mengapa? Lihat saja sebuah grup musik pasti yang diidolakan selalu sang vocalis (red: benar nggak?)

            Daniel terlahir dari sebuah keluarga yang mencintai musik. Kedua orangtuanya sangat suka musik. Puluhan tahun yang lalu Papanya -S.I. Sigarlaki- pernah menelurkan album anak-anak dan mempopulerkan lagu ‘Balonku’, ‘Naik-Naik ke Puncak Gunung’, dan lain-lain. Keluarga besar Daniel adalah keluarga pemusik yang telah mengharumkan nama bangsa sebagai pelopor musik jazz, sebut saja (alm) Nico Sigarlaki dan Jacob Sigarlaki.

            Daniel mengawali karirnya sejak masih duduk di bangku SMA dan tergabung dalam kelompok musik Modulus Band tahun 1994. Saat itu nama Modulus cukup berkibar di blantika musik sekuler, tapi sayang grup ini tidak bisa bertahan lama. Daniel pun memilih untuk bekerja di travel agent sebagai tour leader. Tapi ternyata kesukaan nya pada dunia musik tak bisa dilupakan, sehingga tahun 1997 ia mengundurkan diri dari pekerjaanya.  Kemudian ia  bergabung dengan kelompok musik Giving My Best (GMB), tepatnya tahun 1999.

NGEDRUG

            Bergabung dengan grup musik rohani tidak menjamin personilnya ‘baik-baik’ saja. Daniel adalah salah satu contohnya. Meski melayani Tuhan tapi hidupnya sangat kacau, karena Daniel menjadi pengguna drug (inex dan ekstasi). “Saat itu tidak banyak kegiatan dan karena pengaruh lingkungan kalau lagi ngumpul-ngumpul sama band lain,” beber pria yang mengaku hanya belajar musik kepada sang kakak,  Morgan Sigarlaki.

            Rupanya Daniel benar-benar menjadi budak barang haram itu. “Pernah suatu hari, tepatnya hari Kamis, saya lagi ‘make’ terus ditelepon untuk pelayanan. Dan besoknya hari Jum’atsaya pelayanan padahal di tubuh masih terasa efek drugnya. Saya tetep aja main karena butuh uang kan buat beli itu (red: drug), tapi saya takut banget kalau ketahuan sama orang-orang dan takut juga kalau Tuhan marah, ” kata lelaki kelahiran 24 Oktober itu.

            Jika sedang melayani di kebaktian-kebaktian, selesai beraksi di panggung Daniel memilih mendengarkan kotbah. Sehingga lambat laun suara Tuhan melalui kotbah-kotbah itulah yang menyadarkannya. “Tuhan itu baik ya? Padahal saya pelayanan sambil ‘make’. Dan teman-teman juga nggak menjauhi saya,” ujar musisi yang sering tampil di TVRI bersama Jimmy Manopo.

       Akhirnya tahun 1999 Daniel benar-benar bertobat dari jalannya yang salah. Ia mulai lebih serius melayani Tuhan, sehingga ia mulai mendapat kepercayaan membuat berbagai aransemen lagu untuk acara pagelaran musik live, baik di musik sekuler atau rohani. “Pertama kali saya arrange lagu kayaknya hasilnya kacau banget, asal-asalan. Diremehin orang. Tapi berikutnya malah dikasih kesempatan lagi,” tandas Ayah 3 orang anak yang pernah menjadi endorser sebuah merk gitar.

            Sekitar tahun 2002 Daniel bergabung dengan True Worshippers (TW) yang semakin membuat jadwalnya bertambah padat. Selain pelayanan di dua kelompok musik Daniel juga kerap menjadi additional player di Magenta Orchestra, Twilite Orchestra, Dian HP, dan lain-lain. Ia juga sering membantu pembuatan album para musisi sekuler dan rohani, misalnya Ruth Sahanaya, Afgan, 3 Diva, Bunga Citra Lestari, Rossa, Sari Simorangkir, Sidney Mohede, Jefrey S. Tjandra, dan masih banyak lagi. Tapi pada tahun 2008 Daniel memutuskan hengkang dari GMB.

MUSIK ITU SEPERTI PISAU

            Diakui Daniel bahwa dunia musik telah membawanya mewujudkan mimpinya. “Dari kecil saya bercita-cita keliling dunia makanya saya kerja di travel agent. Eh malah di musik mimpi saya lebih tercapai. Dulu saya sempat bertanya-tanya, apa sih tujuan hidup saya. Saya baca dari buku ternyata Tuhan kasih tahu tujuan hidup kita melalui apa yang kita sukai. Karena saya suka musik makanya nekat serius di musik,” jelas Bapak 3 orang anak yang sudah keliling Indonesia, Eropa, Australia dan Amerika.

            Kalau ada yang berkata manusia tidak pernah puas, itu memang benar. Karena meski mimpinya telah terwujud Daniel masih punya mimpi yang lain yaitu memiliki sebuah orchestra. Tapi toh ia tetap bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini. “Mengucap syukur dari hati yang terdalam buat Tuhan itulah makna Haleluya bagi, walau saya nggak tahu makna sebenarnya apa?” tandas jemaat JPCC ini.

            Gaya hidup para musisi yang rentan dengan kehidupan glamour dan penuh hangar bingar kini tak lagi berpengaruh bagi Daniel. Karena itu ia ingin mengingatkan semua orang yang bergelut di dunia musik untuk hidup benar. Karena musik memiliki pengaruh yang sangat kuat. Ia pun mengingatkan kepada semua orang untuk berhati-hati dengan musik. “Musik itu seperti pisau. Kalau dipakai sama pembunuh ia bisa membunuh. Saya selalu berprinsip dimanapun saya bekerja untuk tidak hanya hidup baik tapi juga benar. Apa yang kita katakan sesuai dengan yang kita doakan,” ujar suami Selfita Sigarlaki yang suka membaca buku Tommy Tenney.

            Baginya sebenarnya musik rohani dan sekuler tidak ada bedanya, karena musik adalah universal. “Yang membedakan musik rohani dan sekuler cuma lirik aja. Kalau musik rohani kan arahnya ke atas, kalau musik sekuler bisa ke samping bisa ke atas. Lagu sekulerpun ada yang diciptakan buat ke atas tapi orang mengira ke samping, misalnya lagu ‘Sempurna’ nya Andra and the Backbone. Dia bilang kan lagu itu dia ciptakan untuk Tuhan,” jelas pria yang pernah menjadi gitaris terbaik dalam festival antar SMA se Jakarta tahun 1984 lalu. (min / Praise #10 / 2010)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus