Billy Simpson

Published On Februari, 24 2014 | By Vido Fransisco Pardede

DUA DUNIA YANG PENTING BAGI SAYA

          Setiap orang pasti mempunyai impian, memang terkadang banyak pandangan bahwa impian harus dibarengi dengan latarbelakang kemampuan diri yang mumpuni untuk bisa menggapainya,. Tetapi itu tidak untuk seorang Billy Simpson. Kali ini PRAISE berkesempatan bertemu dengan “Winner of The Voice Indonesia” di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.

Awal Mengenal Musik
          Billy Simpson
lahir di Jakarta di lingkungan keluarga  dengan paparan terhadap musik relatif terbatas. Sejak kecil Billy Simpson sama sekali tidak mengenal musik, dengan dorongan sang kakak, saat menginjak 13 tahun Billy mulai mengenal musik saat ia tertanam di gereja. Dari situ pria kelahiran Jakarta 17 Juli 1987 ini mulai mengasah kemampuannya pada alat musik. “Jadi kebetulan gereja di mana saya tertanam itu memerlukan pemain bass, akhirnya saya belajar bass”, ungkap Billy. Dan saat itulah Billy belajar main bass hingga ia melayani di gerejanya sebagai pemain bass. Setelah menyelesaikan sekolah di Indonesia, Billy hijrah ke Australia untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di sebuah Universitas di Melbourne, Australia. Di sana lah ia mengenal dunia tarik suara. Siapa sangka ketika ia dengarkan lagu ciptaannya tanggapan positif tentang kualitas suara Billy pun keluar dari beberapa temannya. Akhirnya Billy terjun ke dunia tarik suara dengan keterlibatannya dalam berbagai acara musik yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia. Langkah-langkah dilakukan Billy untuk menjadi seorang penyanyi dengan dia membuat demo lagu dan memasukkan ke berbagai label musik. “saya coba bikin demo dan demo tersebut dikasih ke label tapi ditolak karena beberapa alasan, katanya muka saya cocoknya jualan kwetiau,” jelas Billy. Terlepas dari dunia musik, Billy juga memerani sebuah film berjudul Kado Kendo  di Melbourne pada tahun 2007, sebuah film yang meneritakan sekumpulan anak muda yang rindu memakai talentanya untuk bermusik.

Multi Talent
          Menginjak usia 20 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan Bisnis dan Ekonomi di Negeri Kanguru itu, Billy kembali ke Indonesia dan tertanam di JPCC (Jakarta Praise Community Church). Untuk pertama kalinya Billy melayani sebagai singer, lalu menjadi  Worship Leader di gereja dimana ia tertanam dan bertumbuh. Dari gereja tersebut, Billy mendapatkan komunitas, mentor kehidupan dan pengalaman bernyanyi.  Seiring berjalannya waktu, bakatnya dalam musik pun semakin terlihat dengan keterlibatannya menjadi songwriter beberapa lagu “Dia Raja”, “Open The Sky” dari album “Favor” True Worshippers. Proses demi proses harus dilewati untuk menjadi seorang yang lebih baik. Itulah yang dialaminya, selang 2 tahun ia tergabung dengan ibadah anak muda dari Jakarta Praise Community Church dalam sebuah wadah True Worshippers Youth dan menjadi vokalis. Sukses dengan mengeluarkan beberapa album yang memberkati banyak orang dan gereja-gereja.

The Winner
           Di awal tahun 2013, Billy mendaftarkan dirinya dalam sebuah acara ajang pencarian bakat The Voice Indonesia. Bermula hanya iseng-iseng, Billy lolos dalam Blind Audition dengan menyanyikan lagu “One” dan memilih untuk bergabung di team Giring Nidji. Seiring berjalannya waktu, eliminasi demi eliminasi dilewatinya, akhirnya Billy berhasil menjadi The Winner of The Voice Indonesia 2013. Merilis album sekuler perdana pada Desember 2013 itulah buah dari keberhasilannya menjuarai The Voice Indonesia. Kesuksesannya di dunia sekuler tak membuatnya lantas meninggalkan dunia gereja, karena baginya kedua dunia tersebut sama pentingnya. Dimana dunia rohani adalah tempatnya lahir, tertanam, dan tumbuh menjadi dewasa dan dunia sekuler adalah tempat yang penting baginya untuk menjadi berkat bagi masyarakat. Album “Lukisanku”, bagi Billy adalah sebuah mujizat karena selain dipercayai Universal Music untuk menjadi produser album, yang terlibat di dalam Lukisanku tidak hanya orang-orang dari sekuler saja seperti RAN, Javajive, Ronald Steven, Bonar Abraham, Yesaya Soemantri, tetapi beberapa personil True Worshippers juga ikut andil dalam album perdananya itu. Di bawah naungan label ternama dunia “UNIVERSAL MUSIC”, Billy berharap albumnya perdananya itu tidak hanya eksis ada di pasaran tetapi bisa menjadi berkat dan menjadi inspirasi dan dampak positif untuk banyak orang. Bagi Billy musik adalah sebuah alat untuk menyampaikan sebuah pesan atau mengirimkan sebuah berkat bagi orang lain.
           Kesuksesan membawanya ke level yang lebih tinggi, dengan banyaknya jadwal manggung, namun Billy tetap menjalaninya dengan komitmen yang tinggi dan membagi waktu antara gereja dan sekuler. “Saya berharap Tuhan akan terus pimpin dan sertai saya untuk waktu-waktu ke depan ini” harap Billy Simpson menutup perbincangan. “VF”


COMMENT


.news-comments powered by Disqus