Berpuasa? Mengapa Tidak?

Berpuasa? Mengapa Tidak?

Published On Juli, 12 2013 | By Vido Fransisco Pardede

Berpuasa? Mengapa Tidak?

           Sebagian besar umat Muslim sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Sebagian kecil umat Kristen di Indonesia, juga melakukan ibadah yang sama, bahkan mereka berpuasa selama 40 hari. Tentu saja banyak orang, baik yang beragama Islam maupun Kristen terheran-heran, mengetahui mengapa pengikut Kristus juga “ikut-ikutan“ berpuasa. Sejak kapan?

Tidak ada kewajiban bagi kita untuk berpuasa pada hari atau bulan tertentu. Tetapi yang jelas, sejak zaman Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), berpuasa bagi umat Tuhan sudah dilakukan. Ketika nabi Yunus mengumumkan bahwa Allah akan menunggangbalikkan Niniwe, maka Raja Niniwe, seluruh rakyat, dan binatangnya berpuasa dan bertobat dari segala dosa (Yunus 3:7-9). Raja Daud juga berpuasa. Anaknya dari Batsyeba sakit keras (2 Sam. 12:16) akhirnya Daud menyesali dosanya. Lalu ada Daniel, Ester, dan banyak nabi, rakyat bahkan binatang yang berpuasa, yang ditulis dalam PL. Dalam PB, ada Yesus yang berpuasa 40 hari. Semua orang Kristen, seharusnya tahu kisah Yesus yang dicobai di padang gurun seusai menyelesaikan puasa 40 hari.               

            Sebenarnya Alkitab sendiri sudah menulis dengan gamblang mengapa berpuasa perlu dilakukan orang Kristen. Ada cukup banyak kisah dalam Alkitab. Raja Niniwe beserta rakyat dan binatangnya berpuasa untuk bertobat dan berbalik dari dosanya sehingga menyurutkan murka Allah. Daud berpuasa menyesali dosanya dan mendapat pengampunan. Daniel berpuasa untuk mendapatkan hikmat Allah. Ratu Ester berpuasa saat harus berjuang mempertaruhkan hidup atau matinya. Tuhan Yesus berpuasa dan menang atas pencobaan. Paulus berpuasa tiga hari dan dia diutus untuk melayani (Kis. 9:9).

            Puasa yang ingin saya tekankan di sini adalah tidak makan dan tidak minum. Misalnya mulai jam 22.00 sampai dengan jam 18.00, baru buka. Nah ketika berpuasa itu, bagi yang bekerja, tetap saja bekerja seperti biasa tetapi harus memiliki jam untuk berdoa, membaca Alkitab, atau beribadah. Kalau ada rasa haus dan lapar pasti terasa, terkadang amat terasa. Namun doa dan Firman Tuhan yang kita baca akan menguatkan kita.

            Puasa juga melatih roh kita agar lebih kuat, meski tubuh lemah. Peka mendengar suara Tuhan, melatih kesabaran, mengekang keinginan daging, seperti Daniel dan kawan-kawannya yang tidak mau menikmati makanan istana, juga memberi keberanian melakukan kebenaran yang harus dilalui dengan menantang maut seperti Ratu Ester. Yang jelas Tuhan Yesus sendiri berpuasa. Dia yang kudus dan mulia, mengapa kita tidak mengikuti ajaran-Nya untuk berpuasa? Karena sebenarnya berpuasa tak sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu untuk merendahkan diri dihadapan Yang Maha Kuasa dan lebih mendekat pada-Nya. Puasa memang bukan suatu keharusan, apa lagi kewajiban. Tetapi kalau puasa mendatangkan kuasa, penguasaan diri, dan sangat Alkitabiah, mengapa tidak? (Dari berbagai sumber/Bayu Andriyanto)


COMMENT


.news-comments powered by Disqus