Ben Soriton

Ben Soriton

Published On Desember, 19 2012 | By Vido Fransisco Pardede

Jangan Dibesarkan Manusianya

Berdasarkan Firman

            Kalau ada orang bertanya bagaimana caranya menulis lagu rohani, Pendeta Ben Soriton punya jawabannya. Beliau sudah menciptakan banyak lagu rohani sekitar tahun 60-80an. Lagu-lagu yang beliau tulis antara lain ‘Ya Tuhan Ku Percaya’, ‘Dia Harus Makin Bertambah’, ‘Oh Betapa Indahnya’, ‘Kumasuki GerbangNya’, ‘Seindah Pelangi’, dan lain-lain.

     Menurut beliau, ketika seseorang ingin menulis lagu rohani maka ia harus mengerti sasaran pemujiannya agar tidak terjadi kekeliruan. Paling tidak ada beberapa hal yang menurutnya penting jika ingin menulis lagu rohani, yaitu harus belajar bahasa, musik dan puisi.

     Baginya, musik sama saja karena dalam alkitab memang tidak dijelaskan mengenai musik gerejawi atau musik duniawi. Jadi, musik gereja atau musik duniawi (sekuler) adalah sama, tergantung dari sasarannya saja, yaitu secara vertical atau horizontal.

     Pendeta Ben Soriton mulai menulis lagu rohani sejak 1960-an. Dari semua lagu yang ditulisnya adalah berdasarkan firman Tuhan dan pengalaman bersama dengan Tuhan. “Semua dari hati, seperti dalam Efesus 5:19. Buatlah lagu dalam hatimu kepada Allah. Jadi dengan sendirinya Tuhan bekerja,” katanya.

     Melihat perkembangan lagu rohani pada saat ini, menurut beliau sudah cukup baik. Anak muda jaman sekarang sangat maju dalam hal musik dan membuat melodi. Namun cuma di situ saja. Kata-katanya hanya merupakan rangkuman ayat dan kesaksian saja. Hanya membangkitkan selera tapi tidak mengajarkan firman Tuhan.

Semua Untuk Melayani Tuhan

            Untuk urusan musik secara tekhnikal, beliau memang sangat mengerti. Dan itu semua ia dapatkan dari Tuhan. “Saya pernah les piano selama 7 bulan tapi cuma bisa main kunci C. Waktu itu tidak ada buku. Saya hanya berdoa, Tuhan kalau Engkau ajari saya main piano, saya akan pakai untuk melayani Tuhan. Kalau saya duduk di kursi piano seperti ada dua tangan yang mengarahkan dan mengajarkan saya. Dalam waktu 2 bulan saya bisa main 12 kunci. Terus berkembang. Tapi itu juga sesuai sama kemauan kita,” urai bapak yang pernah bekerja di Maranatha Record selama 10 tahun.

            Berkembangnya musik Indonesia, termasuk musik rohani, juga diiringi dengan sisi negatif dai perilaku orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yakni masalah hak cipta. Menurutnya, lagu-lagu karyanya pernah dipakai orang tanpa terlebih dahulu meminta ijin padanya. “Percuma ngurus hal seperti itu. Di Indonesia biaya ngurusnya lebih banyak. Seharusnya minta ijin dulu. Tapi ada yang tiba-tiba bilang, om ini ada persembahan kasih. Sama sekali tidak punya aturan. Atau ada yang tau-tau lagu saya sudah direkam tanpa ijin, cuma karena dia merasa dekat dengan saya. Baru minta ijin sesudah direkam. Ya sudah, God Bless Yu aja,” katanya kepada PRAISE saat ditemui di rumahnya, di kawasan Jakarta Barat.

Hilang Arah

            Bertahun-tahun mengikut Tuhan, tidak menjamin hubungan denagn Tuhan baik-baik saja. Hal ini juga dialami oleh Bapak yang pernah menjadi gembala siding salah satu gereja di Amerika selama 3 tahun. “Dari kecil saya Kristen. Tapi saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan saat umur 12 tahun. Lalu saya belajar musik, Sejak bertobat, Tuhan taruhkan kerinduan untuk belajar musik dan menjadi pendeta di hati saya. Belajar musik. Sejak bertobat. Tuhan taruhkan musik. Tapi bukan berarti hidup saya sempurna. Saya juga pernah hilang arah tapi tidak sampai nge-drug,” ulas pendeta yang pernah sekolah di salah satu STT kota Batu Malang, Jawa Timur.

            Tapi dari semua yang terjadi dalam hidupnya. Ia merasakan bahwa jamahan Tuhan begitu ajaib, sehingga setelah itu ia bertekad untuk lebih mengarah pada Tuhan “Setengah tahun saya hilang arah. Tapi nggak pernah hidup edan. Dari kecil saya tidak punya cita-cita. Jamahan Tuhan saat saya berjumpa denganNya jangan terlalu dibesar-besarkan. Yang penting adalah bagaimana hidupnya setelah berjumpa dengan Tuhan. Bagaimana menyatu dan akrab dengan Tuhan,” tuturnya dengan rendah hati.

            Baginya, setiap lingkup kehidupan kita harus dijamah oleh musik pujian, seperti halnya yang ada dalam kitab Mazmur dimana setiap peristiwa selalu diungkapkan dalam pujian. (min / Praise #13 / 2010)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus