Bapa Yang Kekal  (Julita Adriani Manik)

Bapa Yang Kekal (Julita Adriani Manik)

Published On Desember, 11 2012 | By David

         Kau b’ri yang ku pinta.....Saat ku mencari ku mendapatkan.....Ku ketuk pintuMu dan Kau bukakan.....S’bab Kau Bapaku, Bapa Yang Kekal.....

           Lagu tersebut tak asing di telinga kita. Namun tak banyak yang tahu kalau pencipta lagu tersebut sama dengan yang menciptakan lagu ‘S’perti Bapa Sayang Anaknya’. Sebenarnya sudah ratusan lagu yang diciptakan Julita Adriani Manik wanita kelahiran 25 juli 1966 ini. Ada 2 lagu yang bertemakan tentang Bapa di Surga , yakni : ‘S’perti Bapa Sayang Anaknya’ dan ‘Bapa Yang Kekal’, yang sempat booming era tahun 2006-2007 an.

 

INSPIRASI LAGU `BAPA YANG KEKAL`
           Bagi Julita Manik, lagu ‘Bapa Yang Kekal’ mempunyai kesan dan cerita tersendiri. Walaupun lagu yang sering diberi judul ‘Kasih Yang Sempurna’ ini bukan berasal pengalaman pribadinya, melainkan kisah kasih seorang hamba Tuhan kepada putranya, lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang.
          
Lagu yang sering diberi judul ‘kasih Yang Sempurna’ berawal dari kisah kasih seorang hamba Tuhan kepada anaknya di suatu Mall. Dimana anaknya ingin membeli sepatu tetapi budget yang ayahnya berikan tak mencukupi. Bagaimana sang ayah bereaksi terhadap kebutuhan anaknya, rupanya menjadi inspirasi Julita untuk membuat lagu yang memberkati banyak orang, “Kalau saya bapa jasmani tidak sempurna  dalam mengasihi, dapat memberikan segalanya kepada anak saya, apalagi Bapa di Surga kepada anak-anakNya. Dia mengasihi dengan kasih yang sempurna dan selama-lamanya, sebab Dia adalah Bapa yang kekal.” (Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku ‘Story Behind The Song’ terbitan YIS production, lengkap dengan foto-fotonya)

KESAKSIAN HUBUNGAN JULITA MANIK DAN PAPANYA
            Kisah hidup Julita Manik, banyak bersentuhan dengan kisah anak dan bapa, sehingga banyak juga lagu-lagunya tercipta dari pengalamannya sendiri dengan sang papa yang bersifat temperamen perfeksionis dan sangat disiplin.
            Papa Julita pulang ke rumah Bapa tahun 1991. “Saya memiliki dia sebagai bapa di dunia ini hanya selama 25 tahun saja. Dan hampir sepanjang tahun-tahun yang kami lalui, sulit bagi saya merasakan kasihnya. Kalau pemenuhan kebutuhan hidup, sekolah, fasilitas, papa betul-betul mengasihi. Tapi secara jiwani saya sulit merasakannya. Anak-anaknya tumbuh dalam didikan yang kaku dari papa. Kalau papa ada di rumah, rasanya suasana tegang sekali. Anak-anak tidak bebas berekspresi, mengemukakan pendapat, apalagi meminta sesuatu”, kenang Julita.
            Julita pergi ke gereja hanya kalau papa dan mamanya sedang berada di rumah. Karena orang tuanya bertugas di luar kota, jadi hanya 2 minggu sekali datang mengunjungi anak-anaknya. “Kalau papa sudah kembali ke luar kota, rasanya kehidupan menjadi merdeka. Papa akan marah kepada mama kalau melakukan kesalahan dan mama akan melampiaskan kemarahan kepada anak-anak. Karena papa sangat perfeksionis, jadi kalau sedang berada di rumah, semua harus berjalan sesuai prosedur. Kapan harus menyalakan lampu (tidak boleh terlalu cepat juga tidak boleh terlambat), bahkan sampai membawa nampan saat menghidangkan teh untuk tamu ada prosedurnya. Kalau melakukan tidak seperti yang diperintahkan, kesalahan kecil sekalipun akan membuat papa marah, ngambek dan bias berlangsung berhari-hari”, jelas wanita yang suka menulis berbagai kesaksian di blog nya yang terpilih sebagai finalis Christian Indonesian Blog-ger Festival untuk kategori ‘The Most Impacting Blog’ tahun 2009.
            Setiap akhir tahun keluarga Julita rutin membuat kebaktian keluarga, dan selalu papanya menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Namun janji itu hanya bertahan beberapa jam saja. Karena keesokan harinya sifat papa Julita sudah seperti sediakala. “Begitu tegangnya suasana rumah, sehingga saya bertekad harus kuliah jauh dari kediaman kami. Dan saya diterima di ITB. Rasanya legaaaaa... sekali. Paling nggak, selama setahun saya nggak perlu menginjakkan kaki di rumah (setahun sekali saya baru pulang ke rumah). Setahun saya nggak perlu merasakan suasana tegang. Setahun saya bebas dari intimidasi perasaan”, cerita ibu dari 3 putri yang mengawali kariernya sebagai pencipta lagu.
            Tapi justru di Bandung itulah Julita mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Julita yang tidak pernah ke gereja, tidak pernah sungguh-sungguh mencari Tuhan, sejak terima Yesus mulai merasakan kasih Bapa. Sejak saat itu Julita mulai mendoakan keselamatan papanya dan seluruh keluarganya. Ketika papanya sudah tua, mulai terjadi perubahan. Ia ingin lebih dekat kepada anak-anaknya. Tapi anak-anaknya sudah terlanjur selalu ingin menjaga jarak. “Saya ingat suatu malam kami anak-anaknya sedang rame-rame kumpul di ruang keluarga menonton TV sambil bercengkerama. Kemudian papa keluar dari kamarnya dan ingin menikmati kehangatan keluarga bersama anak-anak. Begitu papa bergabung, suasana langsung tegang. Kemudian satu persatu kami anak-anak secara perlahan meninggalkan ruang keluarga dan kembali ke kamar masing-masing. Dan papa ditinggal sendirian. Adik saya yang bungsu sangat kecewa pada didikan papa yang keras dan kaku, sehingga ia berkata kepada mama : ‘Ma kalau papa meninggal,... kayaknya aku nggak bakalan nangis....’, tutur ibu yang kini melayani sebagai pemimpin pujian di gerejanya.
             Puji Tuhan di akhir hidupnya, papa Julita sudah banyak berubah dan sebelum menghembuskan nafas terakhir ia sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Setelah papanya tiada, Julita dapat melihat bahwa sebenarnya papanya adalah bapa yang baik, hanya ia tidak mengerti bagaimana menyalurkan kasih dengan semestinya kepada anak-anaknya. Kesaksian hidupnya membuktikan bahwa papanya adalah pekerja keras yang sangat bertanggung jawab kepada kehidupan anak istrinya. Semua kebutuhan hidup keluarga dipenuhi. Bahkan hal-hal kecilpun tak luput dari perhatiannya.

            “Saya ingat saat saya main musik keyboard di kamar kost saya di Bandung, papa melihat saya memainkannya di lantai karena tidak punya stand keyboard. Tanpa saya minta, papa membelikan stand keyboard. Saya sangat tersentuh saat itu”, kenangnya. “Ketika papa sudah dikebumikan, kami buka tas kantornya (karena sehari sebelum meninggal papa masih ke kantor), dan kami menemukan di tas papa ada obat jerawat untuk adik saya yang bungsu yang memang saat itu wajahnya sedang jerawatan. Rasanya nggak mungkin papa yang kami kenal akan berbuat itu. Saya percaya hati adik saya juga tersentuh. Di saat-saat terakhirnya, adik saya ada dalam pikiran papa”, jelas Julita.

            Kiranya kisah ini membuat kita mengerti akan perkataan Tuhan Yesus : “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga ! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Matius 7:11). Papa jasmani yang sangat tidak sempurna dalam mengasihi saja, tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa di Surga.
            Saat Saudara membaca kisah ini, mungkin ada yang merasa tak berbapa, walaupun papanya masih ada. Merasa tak dikasihi bahkan teraniaya secara fisik ataupun jiwani oleh papanya sendiri. Camkanlah kalau Saudara sudah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, Saudara adalah orang yang paling berbahagia. Karena Yesus adalah Bapa Yang Kekal. Sekalipun kita tidak dikasihi bapa jasmani, tapi jikalau kita mengenal Dia sebagai Bapa Yang Kekal, kita adalah orang-orang yang lebih beruntung daripada mereka yang selama hidupnya mengalami kasih bapa jasmani tapi tidak pernah mengenal kasih Bapa Yang Kekal. (Sumber : PRAISE #3 & #6).

 Lirik & chord lagu nya dapat dilihat di SONGS

 BAPA YANG KEKAL

Kasih Yang Sempurna
Telah kutrima dari-Mu
Bukan karena kebaikanku
Hanya oleh kasih karunia-Mu
Kau pulihkan aku layakkanku
Tuk dapa memanggil-Mu, Bapa

Reff.
Kau bri yang kupinta
Saat kumencari kumendapatkan
Kuketuk pintu-Mu dan Kau bukakan
Sbab Kau Bapaku, Bapa yang kekal

Takkan Kau biarkan
Aku melangkah hanya sendirian
Kau selalu ada bagiku
Sbab Kau Bapaku, Bapa yang kekal     

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus