Awie

Awie

Published On Desember, 12 2012 | By Vido Fransisco Pardede

“Dari Pemalu Menjadi Berharga

     Mengutip Firman Tuhan dari Filipi 4:13 “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia (Yesus) yang memberi  kekuatan kepadaku”. Jadi apapun yang terjadi dalam hidup kita sebagai anak Tuhan, Dia pasti akan terus memampukan kita untuk melewati setiap proses yang Dia ijinkan terjadi. “Just do your part as best as you can, let God do His part”, maksudnya apapun yang kita kerjakan untuk Dia, tidak akan sia-sia. Demikianlah apa yang menjadi prinsip seorang “Awie”, pendatang baru di blantika musik rohani Kristen Indonesia.

Album “better than life”

          Penyanyi Awie yang bernama asli Mulyadi Lie ini tidak menyangka  launching album perdana yang bertajuk “better than life” tanggal 22 Oktober 2010 yang lalu ini mendapat sambutan yang baik dari pendengar lagu-lagu rohani. Album ini didistribusikan oleh PT. Getsemani. Nama Awie sebenarnya adalah nama panggilannya sejak kecil, diambil dari nama Tionghoanya yakni Lie Wie Siong. Setelah berdiskusi dengan pihak label diputuskanlah nama Awie sebagai “nama tenar”. Keluarnya album ini setelah melalui proses panjang yang memakan waktu tidak kurang dari 2 tahun. Mulai dari penciptaan lagu, pemilihan lagu, rekaman hingga mencari label yang mau bekerjasama dengannya.  Selain itu juga karena kesibukan dan kegiatannya.  Ada beberapa label yang terkenal telah ditemui dan dikirimi demo lagunya, namun semua label ini menolak untuk bekerjasama dengannya.            

Dari 10 lagu, 6 diantaranya adalah ciptaan Mulyadi “Awie” Lie. Lagu-lagu seperti “Bersama Mu”, “Lebih Dari seorang Pemenang”,  “Penebus Yang Mengasihimu”, “Let Your glory fall”, “Karya-Mu” dan “Your Light” diciptakan bersama sahabatnya Gihon Y. Lohanda. Orang-orang yang terlibat dalam pembuatan albumnya yakni, arransemen musik dan lagu serta vocal director dikerjakan oleh Gihon Y. Lohanda. Studio rekaman Roemah “IPONK”, mixing dan mastering oleh Ivan “Iponk” Kristian, Photography dan cover design oleh Albert Darmawan, backing vocal Gihon dan Sonya Liman. Sedangkan untuk Pianist oleh Yoanne  Theodore di lagu “bersama-Mu”, “Dia Berkuasa”, “Jangan Takut Hai kota Sion” dan “lebih Dari Seorang Pemenang”, serta drummernya adalah Tobas “Ndut” Ringga di lagu “Dia Berkuasa”.  Album “better than life” ini bergenre pop modern dengan ditambah nuansa jazz dan akustik.

                 Semua lagu-lagu yang Awie ciptakan syairnya ini berdasarkan pengalaman pribadinya.  Memang seringkali sebuah lagu itu adalah pengalaman atau cerita tentang hidup seseorang. Komentar-komentar tentang lagunya dia dengar di Radio Heartline, radio Heartline kerapkali menyiarkan lagu-lagu Awie. Buat Awie semuanya ini adalah pelayanan, dan ia tidak tahu sampai kapan Tuhan mau pakai hidupnya. Bagi Awie menjadi penyanyi bisa dibilang bukanlah cita-citanya dari kecil. Pemuda kelahiran Tangerang 28 November 1981 menyanyi khususnya lagu-lagu rohani lebih dikarenakan komitmennya untuk mengucap syukur atas penyertaan kasih Bapa sepanjang hidupnya. Kerinduan pemuda yang gemar berolahraga  atau “gym” ini albumnya semoga bisa menjadi berkat bagi orang lain.  

BAGI Awie Tuhan itu Ajaib

                Semua lagu-lagu ciptaan Awie berlatar belakang pengalaman pribadi dan keluarganya, pada kesempatan ini ia bercerita sedikit tentang dirinya dan keadaan keluarganya di masa yang lalu. Awie bukanlah terlahir dari keluarga Kristen, namun sejak kecil mamanya memasukkan awie ke sekolah minggu. Menurut penuturan mama ke awie, mamanya ingin Awie mendapat pendidikan agama, berhubung Awie bersekolah di sekolah negeri dimana pendidikan bukan Kristen yang diajarkan  pada waktu itu. Sehingga mamanya memasukan Awie ke sekolah minggu. Awie belajar mengenal Yesus dan mengenal lagu-lagu rohani.  Saat ia duduk 6 SD, terjadi peristiwa yang membuat dirinya dan keluarganya sangat bersedih, dikarenakan kepergian papanya untuk selamanya. Papanya meninggal dunia. Keadaan ini mengharuskan mama untuk bekerja keras. “Kami bukan dari keluarga berada, sangat sederhana” ungkap Awie. Sewaktu SMP Awie sudah bekerja di restaurant omanya sebagai tukang masak, pagi ia masak, siangnya pergi sekolah.

                Buat Awie arti mama adalah segalanya, “mama saya itu orangnya tidak neko-neko, keras dalam mendidik sebagai contoh apabila saya punya keinginan untuk membeli sesuatu,  awie di suruh kerja untuk mendapatkan uang”. Sedangkan mamanya adalah seorang penjual kue, kue buatan sendiri ataupun buatan orang lain. Dari hasil jualan inilah mamanya bisa menghidupi keempat anaknya dan memiliki tabungan. Di umur 17 tahun awie menerima Tuhan Yesus secara pribadi, ceritanya pada waktu itu ada persekutuan di sekolah, dan ia mendengarkan kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang bercerita tentang kasih Tuhan dalam keluarganya, waktu itu awie berbicara dalam hati, “aku ingin seperti dia”. Pada kebaktian selanjutnya Awie mendengar firman Tuhan tentang kasih Bapa, di saat itulah Tuhan Menjamahnya. Peristiwa tersebut terjadi di tahun 1998.

                “Saya merasakan Kasih mula-mula, sewaktu saya kuliah pernah mengalami kesulitan biaya. Pada saat itu saya hanya termenung, tiba-tiba kurasakan ada suara yang berkata “Aku Tuhan Allahmu yang tidak hanya mencukupi kebutuhan rohanimu tetapi juga kebutuhan jasmanimu” ungkap Awie. Sejak peristiwa itu, muncul keyakinan dirinya untuk terus melangkah dan berbuat sesuatu bagi kehidupannya. Ia bukan lagi seorang pemalu, minder dan tidak percaya diri. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan Akuntan Publik selama 2 tahun, kemudian dia pindah kerja perusahaan yang bergerak di bidang akuntan publik juga dan sekarang bekerja sebagai karyawan di Perusahaan swasta yang bergerak di bidang design.

                Sekarang kami sekeluarga sudah satu iman. Buat Awie Tuhan  itu bekerja pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya, “Tuhan itu ajaib, Ia membentuk keluarga kami dengan luar biasa”, ungkap Awie. Saat ini sudah seluruh anggota keluarganya menjadi jemaat GPDI Kebon Jati, Tangerang. Awie bertumbuh dan berkembang imannya. Ia aktif dalam pelayanan di gereja, banyak hal dikerjakan, termasuk menyanyi sebagai worship leader.

DARI PEMALU MENJADI BERHARGA

                Menurutnya, segala sesuatu yang kita lakukan itu Tuhanlah yang menentukan, kita sebagai umatNya tetaplah melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan kita. “Saya percaya kalau bukan jalan Tuhan maka Tuhan tidak akan buka jalan,” tegas Awie Dia memilih menyanyikan lagu-lagu rohani dikarenakan ia ingin menyanyi untuk Tuhan, karena sebenarnya ia sendiri tidak “PD” untuk menyanyi. Awie mengaku bukan seorang musisi, tidak bisa memainkan alat musik, bakat menyanyinya mungkin dari sang mama, karena mama dari dulu sampai sekarang bisa menyanyi.

                Awie mengungkapkan bahwa Tuhan memberikan berkat yang lebih baik dalam hidupnya dan ia tidak pakai berkat Tuhan sesuka hati.“Saya dulu orangnya itu pemalu, minder, namun begitu mengenal Tuhan, ia merasa dirinya itu berharga”, ungkap Awie. Ia mengutip kitab Yosua ada tertulis “setiap tanah yang kau injak akan menjadi milikmu”,.Kegiatannya saat ini selain bekerja, ia tetap pelayanan di gereja GPDI Kebon Jati, Tangerang,  tempatnya berjemaat, dan kerapkali menerima undangan untuk menyanyi dalam suatu acara atau event. “Puji Tuhan, saya merasa Tuhan sudah kasih banyak ke saya”, ungkap Awie. Saat ini ia sedang menjalani les Vokal di Elfa’s Music, ia merasa suaranya di album “better than life” belumlah maksimal, jadi ia ingin di album kedua suaranya bisa lebih maksimal.

                 Ketika ditanyakan PRAISE apakah Awie mengetahui kisah runtuhnya tembok Yeriko dan apa pendapatnya mengenai peristiwa tersebut. Awie menjawab, “Saya mendengar kisah itu sewaktu saya sekolah minggu. Namun pemahaman mengenai kisah tersebut Awie peroleh setelah ia dewasa. Menurut Awie kisah runtuhnya tembok Yeriko ada dua hikmat yang bisa kita ambil. Yang pertama,  kuasa pujian dan penyembahan dan yang kedua adalah kuasa ketaatan. Mengapa demikian? Awie menceritakan pengetahuannya mengenai kisah runtuhnya tembok Yeriko dengan panjang lebar, yang menarik ketika dia mengatakan “Tembok Yeriko itu lebarnya 7 lintasan kereta berkuda, dan temboknya itu berlapis-lapis jadi tidak mungkin bangsa Israel meruntuhkan tembok itu dengan kekuatan fisik. Kejadian ini bisa dibilang sama dengan yang saya alami, saya tidak menyangka dengan biaya kuliah yang tinggi, dan dengan keterbatasan kemampuan keluarga, tetapi Tuhan mencukupi itu semua. Jadi siapapun diri kita, janganlah ragu untuk melakukan yang terbaik dan yakinlah bahwa Tuhan beserta kita.” (mk / Praise #17 / 2011)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus