ASAL USUL SKA : REVOLUSI JAMAIKA MENUJU MUSIK AMERIKA

ASAL USUL SKA : REVOLUSI JAMAIKA MENUJU MUSIK AMERIKA

Published On Desember, 13 2012 | By Kezia

    Untuk mempelajari suatu bentuk musik, kita harus sejarah music tersebut. Begitu halnya dengan asal-usul musik Ska, dan tragedi Perang Dunia II yang mengubah segalanya. Kekuasaan Inggris terhadap negara-negara jajahannya runtuh sebelum masa PD II dan terpecah belah pada saat pertengahan masa peperangan, Inggris memberikan kemerdekaan kepada negara-negara jajahannya setelah mendapat tekanan dari pemerintahan kolonial.

LAHIRNYA SKA
    Pada tahun 1962 Jamaika membentuk pemerintahan sendiri meskipun masih tetap sebagai negara persemakmuran. Budaya Jamaika dan musiknya mulai terefleksi dalam optimisme baru dan aspirasi rakyat yang liberal. Sejak tahun 40`an Jamaika telah mengadopsi dan mengadaptasi berbagai bentuk musik dari Amerika, yang waktu itu ngetrend dengan jazz dan irama rhythm & Blues nya. Musisi Jamaika yang sering berkunjung ke Amerika membawa pola permainan musik tersebut ke daerah asalnya. Dua orang yang amat berpengaruh dalam perkembangan musik di Jamaika pada tahun 50`an adalah Duke Reid & Clement Seymour Dodd. Sepanjang akhir dekade, kedua orang tersebut memimpin persaingan dalam bisnis musik Jamaika, karena mempunyai peran penting dalam perkembangan musik di Jamaika, Reid dianugerahi sebagai `King of sound & blues` di Success Club (acara penganugerahan) di tahun 1956, 1957, 1958. Saat tahun 1962, di mana Jamaika sedang gandrung meniru musik-musik Amerika, Cecil Bustamente Campbell yang kemudian dikenal dengan nama `Prince Buster`, tahu bahwa sesuatu yang baru amat dibutuhkan pada saat itu. Ia memiliki seorang gitaris yang bernama Jah Jerry yang kemudian bereksperimen di musik dengan menitikberatkan ketukan. Hingga pada periode itu ketukan upbeat menjadi esensi dari singkup (penukaran irama) khas Jamaika, dan Ska pun lahir. Ernest Ranglin mengklaim bahwa istilah Ska diciptakan oleh musisi untuk menyebut suara petikan gitar yang digaruk, "Skat! Skat! Skat!” Menurut penjelasan lainnya, dalam sesi rekaman tahun 1959 di bawah produser Coxsone Dodd, pemain dobel bass Cluett Johnson menginstruksikan kepada gitaris Ranglin untuk memainkannya seperti “ska, ska, ska".

PERKEMBANGAN SKA
    Definisi Ska adalah campuran antara musik Jamaika yang digabungkan dengan sedikit sentuhan musik modern, menjadikannya musik yang dapat memacu kaki kita untuk terus bergoyang mengikuti irama cheers up. Pada awalnya pemuda-pemuda ini tidak tertarik dengan optimisme musik Ska. Pemuda-pemuda tersebut menciptakan identitas kelompok yang dinamakan `Rude Boy` (sebuah trend di kalangan pemuda yang pernah terjadi pada periode awal tahun 40`an). Gaya dansa Ska dari para Rude Boy memiliki ciri khas tersendiri, lebih pelan, dengan tingkah seakan-akan meninju seseorang. Rude Boy memiliki koneksitas dengan `Scofflaws` (orang-orang yang selalu menentang hukum) dan dunia kriminal lainnya. Hal ini terefleksikan dalam lirik-lirik lagu ska. (catatan: gaya penampilan berpakaian Rude Boy yaitu dengan celana panjang yang mengatung hanya semata kaki).
    Pada Medio 60an, Prince Buster akhirnya menemukan seseorang yang memiliki mitos karakter sebagai Rude Boy yaitu Judge Dread. Lagu "007 Shanty Town" yang dinyanyikan oleh Desmond Dekker adalah sebuah karya cemerlang dalam mendokumentasikan perilaku Rude Boy ke dalam sebuah lagu (berhasil memasuki urutan tangga lagu ke 14 di UK Charts). Tema Rude Boy masih mendominasi sepanjang periode Ska, dan popularitasnya memuncak sepanjang musim panas tahun 1964. Beat Ska menjadi lebih lambat dan Rocksteady pun terlahir. Gelombang Ska pertama berakhir pada tahun 1968 (Rocksteady adalah bagian cerita lain: Rocksteady kemudian melahirkan musik Reggae (Asal Usul Reggae dapat dibaca di PRAISE 19).
    Memasuki gelombang kedua, sebelumnya marilah kita lihat beberapa sejarah Ska lainnya. Di tahun 1962, saat di mana Inggris menjanjikan jaminan secara tak terbatas kepada para imigran yang berasal dari negara-negara persemakmurannya, kerusuhan ras pun terjadi. Di saat itu musik Ska & Reggae sedang populer. Pada tahun 70`an, imej Rude Boy diperbaharui dan ter-ekspresi dalam penggabungan 2 jenis musik yang masih tergolong baru di Inggris yaitu Reggae & Punk seperti yang dilakukan The Clash dalam lagu “Rudie can`t fail”. Antara pertengahan hingga akhir tahun 70`an, band seperti The Coventry Automatics memilih untuk memainkan Ska ketimbang Reggae karena menurut Jerry Dammers (pendiri band tersebut), memainkan musik Ska lebih mudah dan gampang. The Coventry Automatics merubah namanya menjadi The Specials AKA, kemudian berubah lagi menjadi The Specials. Selanjutnya pada tahun 1979, Jerry Dammers mendirikan 2 Tone Records. Keinginan Dammers layaknya seperti Prince Buster di awal tahun 60`an yaitu menciptakan sesuatu yang baru. Hitam dan putih menjadi symbol, kemudian Lahirlah yang dinamakan dengan 2 Tone Ska. Logo 2 Tone yaitu gambar kartun pria berpakaian jas hitam dengan kemeja putih, dasi hitam, topi `pork pie`, kaca mata hitam, kaus kaki putih & sepatu `Loafers` hitam menjadi logo resmi yang karakternya diberi nama `Walt Jabsco` (diambil dari nama Walt Disney, pendiri film kartun dan Jabsco berarti ganja dalam bahasa akal latin). Diciptakan oleh Dammers sendiri berdasarkan pose Peter Tosh pada sebuah photo awal kelompok The Wailers yang dapat dilihat pada cover album `The Wailing Wailer Studio One Realease`. Pada saat kerusuhan ras sedang terjadi dan organisasi rasis `National Front` sedang bertumbuh pesat, pakaian hitam putih dan band yang anggotanya terdiri dari multi ras, mengetengahkan lagu-lagu yang bertemakan `Unity` karena di saat itu negara tersebut sedang terpecah belah oleh isu rasial. Sama halnya dengan musik Ska di Jamaika, situasi yang terjadi pada saat itu terefleksi ke dalam lirik lagu, seperti "Racist Friend" yang dipopulerkan oleh The Specials. Band-band seperti Madness, The Beat, dan The Selecter membuat Ska menjadi sesuatu yang segar dengan mengolah nomor-nomor Ska klasik dari Prince Buster (Roughrider, Madness, Too hot, dll).


COMMENT


.news-comments powered by Disqus