Asal Usul Kolintang

Asal Usul Kolintang

Published On Desember, 12 2012 | By Toni

 

 

          Kolintang termasuk jenis instrumen perkusi yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Alat musik itu disebut Kolintang karena apabila dipukul berbunyi: Tong-Ting–Tang.

Pada mulanya, Kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di lantai dan dipukul-pukul. Fungsi kaki, sebagai tumpuan bilah-bilah kayu (wilahan/tuts) kemudian diganti dua potong batang pisang atau dua utas tali. Konon, penggunaan peti resonator sebagai pengganti batang pisang mulai digunakan sesudah Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado (tahun 1830) yang membawa serta “gambang” gamelannya. Penggunaan Kolintang, erat hubungannya dengan kepercayaan rakyat Minahasa, yang biasanya dipakai dalam upacara pemujaan arwah-arwah para leluhur.

Dengan berkembangnya agama Kristen yang dibawa oleh para Misionaris Belanda, eksistensi alat musik yang merupakan bagian dari kepercayaan Animisme menjadi demikian terdesak, bahkan hampir punah dan menghilang selama lebih dari 50 tahun.

 

         Setelah perang Dunia II, Kolintang muncul kembali dan dipelopori oleh Nelwan Katuuk, seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada Kolintang menurut skala diatonis. Pada tahun 1952, di Minahasa bagian selatan (Ratahan) seorang anak berusia 10 tahun bernama Petrus Kaseke, terinspirasi membuat Kolintang dengan dasar petunjuk orang-orang tua yang pernah melihat alat musik ini dan dari mendengar suara musik Kolintang yang dipopulerkan lewat siaran RRI Minahasa yang dimainkan oleh Nelwan Katuuk.

           Namun, sulitnya hubungan transportasi antara Minahasa bagian utara dengan selatan pada waktu itu tidak meluruhkan semangat putra pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig ini untuk berkreasi tanpa melihat contoh, dengan bermodal potongan-potongan kayu bakar yang diletakkan di atas dua batang pisang dan di tunning (steam) nada natural dengan rentang nada 1 oktaf.

            Sebuah prestasi yang luar biasa jika pada tahun 1954, Petrus Kaseke yang kala itu masih terbilang bocah mampu membuat Kolintang dua setengah oktaf nada diatonis dengan peti resonator. Kemampuannya terus terasah dan berkembang, terbukti pada tahun 1960 berhasil meningkatkan rentang nada menjadi tiga setengah oktaf yang dimainkan oleh dua orang pada satu alat.

             Bersamaan dengan beasiswa dari Bupati Minahasa untuk meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1962, suami dari Tjio Kioe Giok terus mengembangkan Kolintang dengan mengganti jenis-jenis kayu wilahan yang ada di Minahasa seperti kayu Telur, Bandaran, Wenang, Kakinik dengan kayu yang ada di pulau Jawa yang menghasilkan kualitas nada yang sama yakni, kayu Waru. Kolintang mulai diproduksi untuk dijual pada tahun 1964, sambil dipopulerkan melalui pentas-pentas Kolintang keliling Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat, dengan membentuk kelompok musik.

        Waktu terus berlalu, usaha dari bapak dua anak Leufrand Kaseke dan Adelina Kaseke semakin berkembang. Kelompok musik yang dibentuknya sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia. Mulai tahun 1972 hingga sekarang, ia tinggal di Salatiga, Jawa Tengah dan membangun usahanya, dimana bahan baku Kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawa Pening Salatiga.

            Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Jepang, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, Amerika bahkan negara-negara di Timur Tengah. Uniknya, hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengkoleksi alat musik Kolintang buatan Petrus Kaseke. (Markus Sugi/PRAISE #4).

(Sumber : www.majalahpraise.com)

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus