ASAL MULA SUKU LEWI MENJADI IMAM  (Seri 1 Lewi)

ASAL MULA SUKU LEWI MENJADI IMAM (Seri 1 Lewi)

Published On Desember, 10 2012 | By Yusak

Banyak orang Kristen salah memahami mengenai suku lewi. Suku Lewi di kalangan Israel dianggap sebagai gambaran dari para musisi rohani masa kini. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Untuk itu sebaiknya kita menggali lebih cermat tentang sejarah pengangkatan  suku Lewi sebagai imam dan fungsinya.

NENEK MOYANG SUKU LEWI

Ada baiknya untuk merunut tentang Lewi ini mulai dari Abraham yang sudah dikenal banyak orang. Seperti yang kita tahu bahwa dari Abrahamlah 3 agama besar lahir, yaitu Yahudi (berasal dari Ishak, yang lahir dari Sara – Kej 21:2-3), Islam (berasal dari Ismael, anak yang dilahirkan dari pembantunya, Hagar - Kej 16:15 bdn Gal 4:22) dan Kristen (dianggap sebagai Israel rohani – Gal 3:7-9,29). Anak Abraham yang bernama Ishak tersebut menikah dengan Ribka dan melahirkan anak kembar Esau dan Yakub (Kej 25:21-26). Anak kedua Ishak yang bernama Yakub dikemudian hari menjadi Bapa dari suku atau lebih dikenal nenek moyangnya bangsa Israel (Kej 32:28). Yakub atau Israel memiliki 12 putra dan Lewi adalah anak ketiga yang lahir dari istrinya yang bernama Lea (I Taw 1:1-2 bnd Kej 35:22b-26; Kel 1:1-4).

Penelitian modern yg bersifat kritis, telah mempertanyakan catatan Alkitabiah tentang asal usul suku Lewi dengan berbagai cara, tapi sebagian besar dari teori mereka itu tidak dapat diterima lagi. Misalnya teori Lagarde yg mengatakan bahwa orang-orang Lewi adalah orang-orang Mesir yg `menggabungkan diri` kepada orang Israel pada peristiwa keluaran, dan dugaan Baudissin bahwa mereka adalah orang-orang yg `digabungkan`, yakni untuk mengawal tabut. Dalam karya G. B Gray yg berjudul Sacrifice in the Old Testament (hlm 242-245), ia menunjukkan bahwa orang-orang Minea mungkin telah meminjam istilah itu dari Israel. Memang arti dari nama Lewi adalah “diikutsertakan, dijadikan anggota, diikat, dihubungkan.” Dan sekelompok besar ahli sependapat bahwa Lewi harus dilihat asal usulnya dari keturunan Yakub/Israel (Bil 14:2-4).

Cerita tentang Lewi yang menarik untuk disimak adalah penyerangannya yg curang terhadap Sikhem ketika kerjasama dengan Simeon (Kej 34:25,26). Kedua anak Yakub ini melakukan pembantaian yang sadis. Sebenarnya hal ini telah disepakati secara diam-diam oleh anak-anak Yakub yang lain, karena Dina, adik mereka telah dicemari. Mungkin yang ditulis Kej 49:5-7 menunjuk kepada peristiwa tersebut atau kasus Sikhem hanyalah contoh awal yang diperbuat mereka. Tetapi di kemudian hari, kesetiaan keturunan Lewi kepada Yahweh dapat mengubah kutuk menjadi berkat, dan perserakan mereka di Israel menjadikan mereka wakil-wakil (imam-imam)Nya. Meskipun demikian nampaknya kutuk itu telah menimpa Lewi dengan secara amat berat. Angka sensus dalam Bil 3:22,28,34 menunjukkan bahwa jumlah laki-laki suku Lewi yg berumur satu bulan ke atas, terlalu sedikit dibandingkan jumlah seluruh laki-laki yg berumur 20 thn ke atas (bnd Bil 1). Bagaimana hal ini dapat terjadi, tidak ada petunjuk yg diberikan. Nampaknya Lewi mempunyai hanya 3 anak laki-laki, yaitu Gerson, Kehat dan Merari  (I Taw 23:6). Semuanya dilahirkan sebelum ia bersama Yakub pindah ke Mesir. Alkitab mencatat keturunan Lewi ini dengan rinci. Dalam I Taw 23:12 dijelaskan bahwa anak Kehat ada 4 yaitu Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel (bnd Kel 6:17). Dan Kel 6:19 mencatat bahwa Amram menikah dengan Yokhebed, melahirkan Harun dan Musa. Miryam tidak terlalu diekspose karena mungkin anak wanita (Bil 26:59).  

UJIAN TERHADAP SUKU LEWI

Penunjukkan dan pengangkatan imam di kalangan bangsa Israel bukanlah hal yang sepele. Tapi melalui berbagai ujian. Ujian loyatitas dan moral. Sebenarnya tujuan Allah semula ialah untuk mengambil semua putra sulung dari setiap suku serta menjadikan mereka imam bagiNya dan bagi bangsa itu. Tetapi ketika Musa naik ke bukit Sinai 40 hari, terjadi kemurtadan. Bangsa Israel membangun sebuah patung lembu emas untuk dijadikan allah mereka yang baru. Setelah terjadi kemurtadan yg memalukan itu yaitu penyembahan anak lembu emas, Allah mengubah pikiranNya. Ia mencabut hak putra sulung dari setiap suku lain, dan memberikannya kepada seluruh suku Lewi untuk menjadi imam bagi Allah dan umat itu. "Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa : ambillah orang Lewi ganti semua anak sulung yg ada pada orang Israel..."(Bil 3: 44-45 bnd Bil 3:41; 8:14-16, 18).

Ketika Musa kembali ke kaki bukit itu dan melihat kejahatan mereka, ia memberikan sebuah tantangan, "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!"(Kel 32:26). Seluruh suku Lewi dengan cepat berpihak kepada Tuhan dan Musa. Melalui Musa, Tuhan kemudian memerintahkan orang orang Lewi untuk mencabut pedang mereka dan menumpas dosa di dalam perkemahan itu, yg kemudian segera ditanggapi orang orang Lewi.

Allah memperhatikan reaksi suku Lewi. Di dalam suku Lewi itu, Ia melihat sikap hati suku Lewi yg mau melakukan hal yg benar, bukan mengikuti trend kebanyakan orang. Bahkan Lewi bersedia menggunakan pedang terhadap darah daging sendiri, saudara-saudara sendiri, demi kebenaran. Semua ini adalah kualitas yg dituntut di dalam diri seorang imam. Kita tidak dapat menjadi “imam Tuhan” bila kita tidak rela memakai "pedang" atas darah daging kita sendiri, atau jika kita terpaksa menggunakan simpati atau perikemanusiaan pada hari terjadinya hal-hal yg penting (Yer 48:10). Karena itu, Allah memilih Lewi untuk memegang jabatan keimamatan dan bukan semua putra sulung lainnya di Israel (Ul 33:8-11). Ini adalah suatu pemindahan hak kesulungan dari keseluruhan suatu bangsa kepada suatu suku. Allah memilih Lewi tatkala bangsa itu sedang tidak sadar bahwa mereka sedang diuji.

Jadi insiatif penunjukkan keturunan suku Lewi sebagai imam berasal dari Tuhan sendiri karena beberapa kwalifikasi. “Engkau (Musa) harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagiKu – Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar “ (Kel 28:1 bnd Kel 6:22;  I Taw 6:3). Pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk jabatan Imam Besar dan para imam itu merupakan peristiwa yang khidmat sekali dan dilaksanakan oleh Musa. Sejak saat itu sampai zaman intertestamental, keimaman yang resmi dijabat oleh orang Lewi. Sesuai dengan perintah Tuhan, Musa mengurapi Harun sebagai Imam Besar dan anak-anaknya sebagai para imam (Kel 39; Im 21:10). Karena perbedaan jabatan tersebut, jubah yang khusus untuk Harun (Kel 28:4,6-39; Im 8:7-9) dan anak-anaknya pun berbeda (Kel 28:40-43).

KISAH ANAK-ANAK HARUN

Kisah Anak-anak Harun pun beragam. Nadab dan Abihu pernah melihat Allah dalam kemuliaanNya di gunung Sinai (Kel 24:1,9), namun mereka bertindak sendiri tidak sesuai dengan peraturan hukum ibadah yaitu mereka mempersembahkan api asing kepada Tuhan. “Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan Tuhan” (Im 10:1-8). Itulah sebabnya, ketika Harun meninggal dunia di gunung Hor, jubah keimaman dan jabatan itu diserahterimakan kepada Eleazar, putra ketiganya (Bil 20:25-28 bnd  Kel 6:24). Eleazar memegang jabatan sebagai imam besar lebih dari 20 tahun (Ul 10:6). Eleazar bukan hanya diangkat menjadi pemimpin suku Lewi (Bil 3:32), tetapi turut membantu Musa mensensus umat Israel (Bil 26:1,3,63) dan membantu Yosua membagi-bagikan tanah Kanaan (Yos 14:1,19-51). Kitab Yosua berakhir dengan berita pendek mengenai kematian Eleazar dan penguburannya (Yos 24:33).

Begitu penting jabatan imam bagi sebagian orang, sehingga tak heran Eleazar diperingati sebagai orang suci di Gereja Ortodoks Timur pada tanggal 2 September, dan sebagai salah satu nenek moyang Kudus dalam Kalender Suci Gereja Apostolik Armenia pada tanggal 30 Juli. (PRAISE # 19 / Pis).  

Sumber : www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus