ARVID GUNARDI

ARVID GUNARDI

Published On November, 03 2018 | By Yosua


“MAIN MUSIK KRISTEN ADALAH PANGGILAN”


Di kalangan Kristen Karismatik di tahun 2006-2007an sering dikumandangkan lirik lagu “Ku datang kepadaMu Kau terima diriku, Kau segarkan jiwaku.. Tak perlu kuandalkan, kekuatan diriku, s’bab Kau sanggup, s’bab Kau sanggup.” Di Reffnya “Kau kekuatanku, Kau Penghiburku, Kau tepati semua janjiMu di setiap langkah, Aku kan berserah, memb’rikan hidupku bagiMu, Yesus.” Atau di tahun 2008-2009 lagu cepat dengan syair “Hidup yang kupilih membuatku berarti, karena Yesus Tuhan tempatku percaya dan berharap..” di koornya “Yesus Kaulah sahabatku, Yesus Kau yang tak pernah jemu-jemu di sisiku, Kau sumber kuatku.”

Dua lagu tersebut mungkin takasing di telinga  para pemuji dan pemusik Kristen. Tahukah Anda siapa yangmengarang lagu tersebut? Nah, 6 September 2018, tim Praise berkesempatan bertandang ke rumah pencipta lagu tersebut di bilangan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Ketika kami tiba, disambut dengan baik. Setelah memilih tempat yang nyaman di satu ruangan di rumahnya untuk wawancara, maka terjadi dialog yang asyik dan sangat berkesan. Asyik karena musisi yang dikenal dengan nama Arvid Ruswito Gunardi, sangat rendah hati. Sangat berkesan karena sikapnya yang sangat menerima kami dengan akrab.

P : Kapan mulai main musik?
AG : Tahun 86an, awalnya main drum. Basicnya ikut main marching band di sekolah di Singapore dan koko sudah main drum duluan di gereja, diajarkan basicnya, kemudian main sendiri. Main sekali doang di gereja Singapore tersebut.

P : Bisa main bass kapan?
AG : Waktu pindah ke Vancouver, Kanada, gereja Indonesia di luar negeri biasanya kekurangan pemain musik. Awalnya main drum. Tetapi karena pemain bassnya kurang, saya coba belajar. Ada yang ajarkan sederhana, lalu saya berlatih di rumah sambil dengarkan musik lain. Akhirnya bisa main bass karena belajar sendiri.

P : Main bass karena autodidak?
AG : Awalnya iya, tetapi setelah sekian tahun saya berinisiatif belajar dari seorang pemain bass. Cuma seminggu hehe.. di Florida sama Jeff Berlin, sang legendaris Bassist, secara intensif 5 hari.

P : Apakah hanya menekuni musik rohani Kristen atau ada sekuler?
AG : Jika main mengiringi musik di rohani (red : kalangan gereja Kristen). Secara umum dalam konteks industri musik, ada yang sekuler juga.

P : Pernah gabung di grup musik mana saja?
AG : Pernah di CBN (Christian Broadcasting Network), acara ‘Ajang Gaul’ di Trans TV bersama Steve Tabalujan dan musisi yang lain dibuatlah houseband, home band Kristen tapi dikemas dalam bentuk Ajang Gaul.

P : Berapa album yang dibuat?
AG : Banyak ya. Di Vancouver kan, background saya rekaman. Emang Sound Engineering sekolah saya, saya sudah keluarkan 2 album. Karena 1 semester tiap minggu dapat jadwal studio free, maka saya pakai untuk rekaman. Mungkin kalau sampai sekarang sudah puluhan album. Dalam arti, saya bukan hanya main saya tetapi produksi rekaman juga.

P : Selain bermusik, juga mengarang lagu?
AG : Tidak terlalu banyak. Waktu di True Worshippers, kadang Ucok sebagai musisi director perlu lagu untuk ngisi album, baru bikin. Biasanya bikin lagu waktunya cepat, kalau sreg ya jadi, kalai nggak sreg, ya tidak jadi. Saya buka orang yang suka kumpulin lagu. Secara pribadi, orangnya blak-blakan, gak suka pura-pura jadi dalam membuat lagu saya lebih menunjukkan isi hati saya misalnya : You Are My Father (https://youtu.be/mTPW8BwhheA).  Ini pengalaman saya melihat Tuhan sebagai Bapa. Saya kurangin kata ‘saya’, ‘I’, ‘me’. Inikan lagu penyembahan, jadi prioritasnya Tuhan, Roh Kudus, Tuhan Yesus, dsb.

P : Tanggapan bangkitnya grup-grup band Kristen di gereja-gereja lokal?
AG : Bagus-bagus saja. Menurut saya mengapa TW sampai seperti itu karena kita ada warna sendiri. Kita bukan Hillsong, bukan juga Integrity, kita ada campuran dari semua itu, termasuk GBI, maksudnya style (gaya) musiknya. Campuran dari sekuler, pop dan itu ide rame-rame digabungi. Nah sekarang orang-orang/gereja-gereja mau melakukan itu dan mengikuti satu genre, pasti tak akan jadi seperti yang diikuti. Harus memiliki ciri style musik tersendiri. Jangan meniru.

P : Punya tokoh idola yang mewarnai musik Arvid sekarang?
AG : Rekaman Ade Manuhutu yang dulu yang musiknya oleh Franky SihombingCs. Punya warna tersendiri. Mixing dan produksinya cukup bagus. Jadi inspirasi.

P : Main musik Kristen panggilan atau profesi?
AG : Saya pribadi menganggap main musik kristen merupakan panggilan Tuhan. Dari kelas 4 SD, saya ke Kanada. Sebenarnya secara teoritis saya tidak kembali ke Indonesia. Saya merasa Tuhan panggil saya, pulang ke Indonesia. DIteguhkan dengan Pdt Jonathan Pattiasina, di Vancouver bernubuat untuk saya ‘Kamu akan memberkati bangsa-bangsa dengan lagu ciptaanmu’. Kenapa saya bilang main musik rohani adalah panggilan ? karena saya sama Herry Priyonggo dengan Group VG Jerikhonya, kita pelayanan bukan di panggung-panggung gede, tapi sampai ke pedalaman Dayak. Tidur tanpa AC. Kalau bukan panggilan, ngapain? Duit juga tidak dapat. Persembahan tidak ada. Di Vancouver kita pikul salib, mulai dari angkat angkat speaker, saya merangkap WL, Sound System, bongkar pasang taruh di mobil. Banyak orang tidak tahu hal ini.

P : Di Corak musik gereja ada himne dan kontemporer, tanggapannya  ?
AG : Album solo terakhir saya dengan Maya Manuputty, saya yang produksi. Saya bikin itu, materi lagunya Kidung Jemaat. Menurut saya, musik itu sendiri tak ada batasnya. Lagu himne dan klasik mau dipadukan rock juga bisa. Musik hanyalah sebuah musik, musik sebuah not. Genre, tipikalnya berbeda-beda. Jika merekomendasi, ya menurut saya semuanya. Malahan lagu himne, melodinya kaya sekali. Saya sebagai songwriter, menilai kadang lagu musik kontemporer, begitu-begitu saja. Musiknya kurang kaya, sepi. Dari segi lirik, lebih bagus himne. Saya tak berani menghakimi. Tapi banyak lagu Kristen Kontemporer, liriknya, banyak "aku" nya, kapan Tuhannya?!! Ada seminar dimana Darlene Zschech dan Bob Fit mengajarkan bahwa musik rohani ada teori tak tertulis, yaitu semua lagu praise and worship harus bisa dinyanyikan jemaat. Jadi jangan bikin lagu, yang lagunya atau melodinya terlalu susah. Waktu saya nulis lagu, saya hindari melodi yang ada ‘up’nya (red : nada tinggi dengan stacato),  contoh lagu Yesus Kaulah Sahabatku (https://youtu.be/v8UOPFse-54).  Melodinya intervalnya (red : jarak nada) jangan kejauhan. Banyak lagu yang sekarang dituliskalau dirasa enak saja, cukup, mereka lupa jemaat tak semua musikal.

P : Jika dinilai lagu Kristen komersiil?
AG : Ada benarnya juga. Jika ada yang komentar seperti itu, kita koreksi.

P  : Tanggapan tentang majalah PRAISE gimana?
AG : Bagus untuk praise dan worship. Kita perlu karena menurut saya pemikiran orang di Indonesia, setelah jadi WL dan menjadi tua, ujung-ujungnya khotbah. Kurang tepat. Menurut saya, musik bukan di level bawah.

 

Data Pribadi

Nama : ArvidRuswitoGunardi

Tanggal lahir : 23 November 1976

istri : Liana Angelique

anak : Lewis Shepherd Gunardi dan Tyler  Adison Gunardi

 


COMMENT


.news-comments powered by Disqus