Amos Cahyadi

Amos Cahyadi

Published On Desember, 11 2012 | By Vido Fransisco Pardede

BUKAN DARI KELUARGA MUSIK

     Terlahir dari lingkungan keluarga yang tidak menyukai musik malah membuat Amos Cahyadi 100% mencintai dunia musik bahkan menjadikan musik sebagai tempat mencari nafkah. Amos mulai serius belajar gitar klasik sejak umur 14 tahun di Yamaha Musik Indonesia, Semarang. Saat ingin menceburkan diri dalam dunia musik, Amos melihat bahwa bisa bermain gitar saja tidak cukup, lalu ia mulai mempelajari alat musik drum yang menurutnya kelihatan lebih mudah untuk membentuk sebuah grup musik karena tidak terpatok dengan partitur.

     Meskipun tidak mempunyai darah musik dari orangtua, tapi terbukti Amos bisa berkarya dan berprestasi dalam dunia musik. “Saya sering belajar sendiri, dengerin orang main musik, lihat di video atau media-media lain,” ujar penabuh drum Giving My Best (GMB) yang pernah menjadi 6 besar Festival Musik se-Indonesia beberapa tahun lalu.

     Awal karir Amos dimulai saat ia bergabung dalam grup Ezer Music Ministry yang kemudian berubah menjadi VOG (Voice Of Generation) bersama Franky Sihombing, Ucok Parulian, Erwin Badudu, Thomas B. Handoyo, Viona Paays dan lain-lain sekitar tahun 1991. Kemudian pada tahun 1996 Amos bersama Adi Prasojo, Sidney Mohede, Pongky Prasetyo, Rensis Wenas, dan lainnya membentuk grup GMB, yang sampai sekarang masih berdiri walau telah berganti-ganti personil.

     Sekian tahun malang-melintang dalam industri musik rohani Kristiani telah membuat nama Amos tidak asing lagi di telinga kalangan Kristiani, khususnya di kalangan kawula muda tapi Amos bukan hanya jago kandang. Meski lebih banyak berkarya di musik rohani, nyatanya Amos juga merambah ke dunia sekuler, yang menurutnya tak ada perbedaan. “Musik itu kan bahasa semua orang, tidak mengenal ras. Yang mengkotak-kotakkan musik itu kan orang-orang itu sendiri,” ujar Bapak 3 orang anak ini yang sering tampil di perhelatan musik Tanah Air seperti Idola Cilik, Indonesian Idol atau konser-konser musik lainnya.

ENDORSER DRUM

     Banyak orang yang masih ragu untuk terjun sepenuhnya dalam dunia musik, karena mungkin dunia musik Indonesia bagi sebagian orang tidak menjanjikan, ditambah pembajakan lagu yang tidak pernah ada kejelasan dari pemerintah negeri ini. Tapi toh Amos tetap melangkah pasti untuk terus berkarya dan memberi yang terbaik bagi dunia musik sesuai dengan motto hidupnya, “Melakukan yang terbaik, jadi berkat buat orang dan bisa mempengaruhi orang lain,” katanya.

     Musik baginya adalah nafas hidupnya, jadi kalau ditanya mengenai kehidupannya pasti semua berhubungan dengan musik. Karena itulah beberapa merk drum terkenal, merk kulit drum dan Cymbal drum memakai Amos sebagai Endorser (red: bintang iklan/pendukung) produk mereka. Semua yang terjadi dalam hidupnya adalah berkat kemurahan Tuhan. “Saya bisa berkecimpung dalam musik dan punya keluarga itu adalah miracle buat saya,” tutur pria yang hobi menyantap makanan khas kota kelahirannya, Semarang.

     Selain aktif di GMB Community dan jadwal manggung GMB, mengajar les privat drum, Amos juga kerap menjadi mentor dan pembicara di berbagai klinik musik untuk memberikan motivasi dan pengalaman, juga pengetahuannnya seputar musik di berbagai acara di Indonesia. Tapi tak hanya itu, Amos pun kini mulai belajar menulis lagu sendiri yang akan segera kita bisa dengar di album terbaru GMB (red:kita tunggu aja ya hasilnya).

     Baginya hidup adalah sebuah perjalanan menuju ke arah yang lebih baik dan untuk memberi yang lebih baik lagi buat Tuhan, seperti arti kata HOSANA menurutnya, “Hosana itu kan pengagungan buat Tuhan,” ucapnya. Tapi bukan berarti jika sudah memberi yang terbaik buat Tuhan lalu ketika kita mendapatkan yang tidak baik, membuat kita tidak mengagungkan Tuhan. “Saya pernah lagi main drum tiba-tiba kepala saya kejatuhan spanduk dari triplek papan acara. Nggak luka sih cuma lumayan sakit,” jawabnya kepada PRAISE saat ditanya pengalaman yang tak terlupakan sekaligus menyakitkan di atas panggung, tapi toh Amos tetap memberikan yang terbaik.

     Musisi yang terlihat galak dan monoton ini ternyata tidak seperti itu. Amos yang PRAISE temui setelah press conference konser amal untuk korban gempa SumBar di Wisma 76, Jakarta Barat 14 Oktober 2009 yang lalu ini sebenarnya ramah dan suka bercanda. Meskipun sudah terbilang mapan dalam hidup, tapi Amos mengaku bahwa ia masih terus belajar dalam segala aspek kehidupan ini, karena baginya hidup adalah suatu proses perjalanan yang panjang. Pria yang tidak pernah punya obsesi dalam hidup ini mengaku cuma ngeflow bersama Tuhan.  “Sampai saat ini saya masih terus belajar dan terus belajar. jangan pernah merasa puas dengan apa yang ada. Hati-hati kalau sudah merasa puas itu adalah awal kejatuhan kita,” jelas pria yang sangat mengagumi drummer-drummer dunia seperti Thomas Lang yang pernah tampil bersama dalam satu panggung dua tahun lalu. (min / Praise #9 / 2009)
Sumber: www.majalahpraise.com


COMMENT


.news-comments powered by Disqus